Home / Editorial / UMMU MADRASATUL ULA

UMMU MADRASATUL ULA

HJ Febrita Lustia Herman Deru. (foto-humas pemprov sumsel)

TANGGAL 22 Desember merupakan hari spesial bagi kalangan perempuan, khususnya bagi para ibu di negara kita tercinta Indonesia. Negara telah menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu. Untuk memperingati dan memeriahkannya, setiap tahun instansi pemerintah dan swasta secara rutin menggelar banyak kegiatan dan acara secara meriah. Itu semua bertujuan untuk mengingatkan dan menggugah kita semua betapa pentingnya peranan ibu bagi perjalanan dan pembangunan bangsa ini.

Ada pepatah dalam Islam yang terkenal menyebutkan bahwa Al Ummu Madrasatul Ula’, artinya seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kalimat ini sering kita dengar atau kita sampaikan. Namun seringkali kita lupa esensinya. Kiasan tersebut mengandung arti yang sangat penting, mendalam dan subtansial. Ummi madrasatul ula mempunyai makna bahwa pengetahuan awal anak anak kita berasal dari ibunya. Ibu adalah guru pertama. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya sebelum si anak menimba ilmu di sekolah atau belajar dari lingkungan sekitarnya. Anak akan mencontoh apa yang ibunya lakukan, dan bahkan mengikutinya.

Seorang ibu adalah contoh utama dan pertama bagi anak-anaknya. Seorang Ibu berperan besar dan sangat menentukan dalam mendidik anaknya, ingin seperti apa, ingin menjadi apa. Anak adalah tabungan terbesar kita. Bila kita mendidiknya dengan baik, maka dia akan menjadi baik. Begitupun sebaliknya.

Momentum hari ibu sejatinya bukan hanya satu hari saja, melainkan setiap hari dapat dikatakan hari ibu. Bagaimana tidak, ibu merupakan sosok yang sangat berjasa dan bersahaja karena dengan penuh kasih sayang ia curahkan kepada anak-anaknya sepanjang hidupnya. Kasih sayang itu ia curahkan tidak hanya ketika ia telah lahir, akan tetapi bahkan ketika ia masih berada dalam kandungan.

Bagi seorang anak, ibu merupakan sumber cinta, sumber inspirasi dan sumber kehidupan di mana ia akan bermuara. Ibu merupakan sumber kesejukan. Ibu mampu membalut luka anaknya ketika ia sedang dirundung pilu. Ibu juga dapat berperan sebagai sahabat setia bagi anak-anaknya. Sahabat yang mengerti, memahami dan setia menjadi teman curhat dalam setiap persoalan anak-anaknya.

Peran seorang ibu yang biasa kita dengar bahwa peran ibu hanya dalam lingkup domestic space (hanya sebagai ibu rumah tangga) saja. Hal itu mungkin istilah kuno yang hanya beranggapan bahwa ibu hanya berdiam diri di rumah mengasuh anak dan mengurus rumah. Di zaman modern saat ini, ibu tidak hanya masuk dalam lingkup domestic space saja, melainkan ia dapat masuk dalam ranah public space (wanita karir). Dia berperan ganda yaitu sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keluarga (anak dan suami), juga membantu mencari nafkah bagi keluarganya. Bahkan, ada juga wanita single parent yang tugasnya tentu lebih berat. Melakoni dua tugas ganda ini, seorang ibu seharusnya bersikap proporsional, adil dan berimbang. Sehingga perannya tetap berjalan secara beriringan.

Baca Juga :   Kasus Korupsi Lahan Kuburan Terus Bergulir

Ungkapan bahwa seorang perempuan harus berpendidikan tinggi bukan karena untuk menyaingi para lelaki, akan tetapi dengan pendidikan tinggi tersebut seorang perempuan memiliki bekal yang cukup untuk mendidik anak-anaknya ketika ia telah menjadi seorang ibu. Saat dia menuntut ilmu di perguruan tinggi, ia akan mengalami proses kematangan emosional, spiritual dan bahkan intelektual. Sehingga nantinya dia akan menjadi seorang ibu yang memiliki kesiapan yang matang untuk mendidik anak-anaknya kelak.

Komunikasi yang baik antara ibu dan anak sangatlah penting untuk terus dijaga keberlangsungannya. Komunikasi dilakukan sebagai salah satu bentuk pengawasan yang efektif. Sesibuk apapun seorang ibu menjalankan kegiatannya diharuskan untuk setiap hari berkomunikasi. Apalagi di era milenium ini, komunikasi dapat dilakukan dengan dukungan piranti canggih melalui smartphone yang menyediakan layanan video call, SMS dan WhatsApp.

Potret Ibu Masa Kini

Secara ideal, gambaran mengenai ibu sudah dapat terwakili dari apa yang telah dipaparkan sebelumnya. Akan tetapi, jika kita melihat dari sisi realistis, terdapat beberapa ironi Hari Ibu yang banyak menghiasi media cetak dan online, yaitu banyaknya kasus mengenai seorang ibu yang melakukan praktek aborsi, kasus penganiayaan, bahkan pembunuhan terhadap anak kandungnya sendiri lantaran berbagai persoalan. Tidak sedikit juga ibu yang membunuh anaknya secara psikologis.
Kasus aborsi sering kita jumpai dalam berita yang disajikan oleh media, seolah-olah tidak terkendali. Anak yang tidak diharapkan ini menjadi korban dari hubungan di luar pernikahan sehingga anak yang seharusnya masih tenang dalam rahim ibunya harus dikeluarkan secara paksa. Sungguh hal ini sangat miris.

Masih banyak lagi kasus lainnya yang cukup membuat hati terenyuh. Kasus pembunuhan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga secara psikis. Maksud membunuh anak secara psikis ini melalui kata-kata kasar yang diucapkan oleh seorang ibu sehingga ia membunuh tumbuh kembang anak. Akhirnya anak tersebut tidak memiliki kepercayaan diri untuk melakukan dan mencurahkan apa yang ia miliki.

Baca Juga :   Ketika Truk Batubara Dilaporkan ke Presiden

Tingginya Angka
Kematian Ibu

Euforia hari ibu memang sangat kita rasakan saat ini. Beberapa kalangan merayakannya dengan memberikan penghargaan atau ucapan kepada ibunya. Akan tetapi di balik euforia tersebut ternyata ada ironi yang sepertinya belum dapat terpecahkan, yaitu masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI). Survei Demografi dan Kesehatan Tahun 2015 menunjukkan AKI di Indonesia berada pada angka 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Di Sumsel, kendatipun trend AKI mengalami penurunan namun masih ini menjadi persoalan. Angka tersebut tentu masih dibawah dari target kelima Millenium Development Goals (MDGs), yaitu pada 2015 mencapai 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Menjelang berakhirnya MDGs 2015, Indonesia masih menyisakan rapor merah terhadap penurunan target Angka Kematian Ibu.

Sangat disayangkan apabila ada ibu yang meninggal ketika ia melahirkan anaknya. Ia tidak dapat mencurahkan segala kasih sayang yang dimilikinya. Kemudian anak yang lahir tersebut menjadi piatu dan tidak dapat merasakan belaian kasih sayang ibunya. Angka kematian ibu (AKI) ini menjadi momok bagi para ibu ketika dalam keadaan hamil.

Dari berbagai realita yang terjadi saat ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi kita semua untuk turut andil dalam mengatasi ironi hari ibu. Tugas ini bukanlah menjadi beban pemerintah saja, melainkan tugas semua pihak. Terutama kalangan terdidik yang dapat menjadi juru kampanye akan pentingnya peranan seorang ibu.

Sebagai seorang perempuan yang akan menjadi calon ibu, setidaknya dapat mengambil banyak pelajaran agar tidak ikut terjerumus pada lubang yang sama. Untuk mengubah peradaban yang kelam, kita harus memulainya dari diri kita sendiri serta orang-orang di sekitar kita.

Kesimpulannya, kita semua tahu bahwa ibu merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya serta menjadi tonggak peradaban suatu bangsa. Perjuangan seorang ibu tidak berhenti pada saat ia melahirkan anaknya, akan tetapi perjuangan tersebut untuk seumur hidupnya untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang taat beragama, beretika dan bermartabat.

Pendidikan umum dan pendidikan agama merupakan kunci utama untuk mengatasi semua persoalan yang masih membelit kaum ibu-ibu Indonesia saat ini. Untuk itulah, saya mengajak seluruh perempuan di Sumatera Selatan untuk memperingati dan memaknai Hari Ibu secara hakiki, bukan sekedar seremoni belaka. Selamat memperingati Hari Ibu. (HJ Febrita Lustia Herman Deru / KETUA TIM PERGERAK PKK PROVINSI SUMSEL)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Pengabdian Tanpa Akhir Sang Mantan Gubernur Sumsel

  Oleh Zulkarnain Alregar KETIKA pertama kali Provini Sumatera Selatan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.