Waspadai Ngorok, Bisa Jadi Itu Obstructive Sleep Apnea

Ilustrasi. (foto-detik.com)

Jakarta, KoranSN

Ngorok atau mendengkur saat tidur merupakan hal yang lumrah terjadi di antara kita. Kebanyakan menyebut dengkuran kita adalah ‘bukti’ dari tidur yang pulas dan nyenyak.

Padahal, justru faktanya mendengkur adalah salah satu tanda kita memiliki gangguan atau hambatan pada saluran pernapasan. Dan jika tidak segera ditangani, akan menjadi silent killer.

“Dari masyarakat masih banyak misleading tentang informasi gangguan tidur. Ngorok dianggap tidurnya enak, padahal itu sebenarnya gangguan tidur. Itu tanda awal dari yang kita sebut dengan Obstructive Sleep Apnea,” tutur dr Andika Chandra Putra, dokter spesialis paru di RSUP Persahabatan, Kamis (22/2/2018).

Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah gangguan tidur yang disebabkan oleh sumbatan jalan napas yang berakibat terhentinya napas dalam beberapa waktu, yang pada kondisi fatal berakibat kematian karena kekurangan oksigen. Biasanya ditandai dengan mendengkur saat tidur,.

OSA sering kali ditandai dengan kondisi mendengkur saat tidur yang pada waktu-waktu tertentu mengalami henti napas yang terjadi berulang sepanjang malam. Ini jelas membahayakan karena bisa jadi seseorang meninggal saat tidur karena tertutupnya jalan masuk oksigen ke paru-paru.

Kondisi sleep apnea ini dapat terjadi pada semua usia. Pada anak-anak dapat terjadi karena terjadinya pembesaran tonsil atau kelainan struktur saluran napasnya. Pada dewasa, laki-laki pada usia pertengahan lebih banyak ditemukan dibanding perempuan walaupun saat menopause resikonya akan lebih besar.

Baca Juga :   BPOM: Hati-hati Dengan Kosmetik yang Menjanjikan Putih Secara Cepat

Penyebab terjadinya OSA bermacam-macam, namun sepertinya dijelaskan oleh dr Andika, yang paling sering terserang adalah orang gemuk atau obesitas, dan umumnya pria. “Karena rata-rata lemak pada pria berkumpul di bagian leher, dan ini nantinya akan menekan saluran pernapasan,” jelasnya.

dr Andika juga menyebutkan bahwa prevalensi OSA di Rumah Sakit Umum Pusat Pesahabatan Jakarta yang dilakukan oleh Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia oleh Pahlesia R. sebesar 7,35% dan dibuktikan dengan pemeriksaan Polysomnogaphy pada pasien.

Sedangkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2013 oleh Susanto AD didapatkan sebesar 52,5% OSA pada pengendara taksi dengan berat badan berlebih dan Obesitas hal ini dibuktikan dengan gejala klinis dan pemeriksaan PSG. Penelitian yang dilakukan oleh Susanto AD pada tahun 2014 didapatkan sebesar 21,7% pada polisi di Tangerang dan Jakarta Timur terduga OSA.

Melihat begitu besarnya bahaya akan gangguan tidur namun masih kurangnya pemahaman dikalangan medis apalagi di masyarakat maka perlu diadakannya sosialisasi bagi masyarakat dan kader kesehatan serta kalangan medis sendiri.

Baca Juga :   Pasien Sembuh dari COVID-19 jadi 100.674

Di RSUP Pesahabatan juga tersedia sleep lab atau klinik tidur bagi yang ingin memeriksakan diri karena gejala gangguan tidur. Nantinya kita akan diperiksa dengan menggunakan alat Polysomnogaphy guna mendeteksi penyebab gangguan tidur yang dialami.

“Sleep apnea itu sangat terkait dengan gaya hidup,” imbuh dr Andika.

“Dan jika tidak segera ditangani akan membahayakan, bisa jadi meninggal mendadak, seperti kasus artis Mike (Mohede) dan putranya ibu Susi (Panji Hilmansyah, red).”

“Saya sarankan untuk jaga pola tidur. Yang utama untuk mendapatkan tidur yang berkualitas adalah tidur yang ‘bersih’, hindari main gadget dan makan sebelum tidur. Periksakan jika merasa mengalami gejala-gejala gangguan tidur.” (detikcom)

Publisher : Imam Ndn

Lihat Juga

Manfaat Bersepeda Bagi Kaum Muda

Jakarta, KoranSN Olahraga sepeda yang kini menjadi banyak pilihan bagi masyarakat untuk mengisi waktu luang …