Home / Gema Sriwijaya / Ziarah, Gubernur Herman Deru Kenang Kisah Sang Pesirah

Ziarah, Gubernur Herman Deru Kenang Kisah Sang Pesirah


Kejaksaan Tinggi Provinsi Sumatera Selatan

Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin Mengajak Masyarakat untuk datang Ke TPS dan menggunakan hak pilih

Gubernur Herman Deru saat berziarah ke makam ayahnya.

“Pernah satu kali waktu masih kecil saya ikut ayah shalat di masjid (sekarang Masjid Istiqlal). Beliau lihat karpet masjid itu sangat lusuh. Lalu dikumpulkannya masyarakat dan kepala desa, dan dia bilang begini, “Ayo kita gotong-royong beli karpet baru. Saya bisa saja beli sendiri tapi apa kalian mau cuma saya yang masuk surga. Kalau sampai Jumat depan karpet ini belum juga diganti, kita semua jangan sholat di sini lagi,” ujar HD menirukan ucapan ayahnya.

Menurut HD, itu hanya salah satu ketegasan yang dicontohkan oleh sang ayah saat menjadi Pesirah. Tak mengherankan, selama memimpin di Belitang, Hamzah menjadi sosok paling dielu-elukan warganya.

Hamzah menjadi Pesirah paling legendaris yang pernah ada karena dipercaya memimpin sampai 4 periode. Wajar bila warga Belitang benar-benar kehilangan sosoknya saat beliau wafat pada tahun 1995 silam. Hamzah diketahui meninggal diusia yang terbilang muda, 57 tahun.

“Waktu beliau meninggal, semua toko tutup hari itu. Semua petani tidak pergi ke sawah. Semua berduka dan berkabung, karena rakyat sangat kehilangan sosok yang dicintai. Kondisi ini berlangsung sampai beberapa hari,” ujar HD mengenang.

Sang ayah lanjut HD, tertempa keras sedari kecil, karena sudah dititipkan sejak sekolah di SGB. Untuk bisa sekolah Hamzah waktu itu harus menempuh jarak hingga 57 Km dari Martapura ke Belitang. Hamzah menikahi Hj Hayani (ibunda HD) saat berusia 20 tahun hingga memiliki 14 anak, masing-masing 7 perempuan dan 7 laki-laki.

Baca Juga :   Pembukaan TMMD ke-101 Kodim 0402/OKI Percepat Akselerasi Pembangunan Desa

Diakui HD, kerasnya cara almarhum mendidik anak-anaknya terasa hingga ia duduk dibangku kelas 3 SMA.

“Waktu itu saya termasuk yang paling nakal. Waktu SMA saya diberi motor di Palembang. Nah, motor itu suka saya bongkar dan dimodif. Pokoknya diganti-ganti. Tapi saya masih segan dengan beliau, jadi kalau almarhum mau datang ke Palembang kan beri kabar dulu (semacam Wartel). Langsung motor tadi saya bongkar lagi, spion dan lain-lain dipasang seperti semula biar beliau tidak tahu. Nakal saya dulu, Kelas 3 SMA masih saya kena pukul beliau,” ujarnya sambil tertawa.

Selama menjadi Pesirah 4 periode dikatakan HD, banyak karya besar yang dihasilkan sang Pesirah yang fenomenal itu. Sebut saja Yayasan Pendidikan Belitang (YPB) yang sekarang sudah menjadi sekolah unggulan, merupakan sekolah yang pernah digagasnya. Termasuk pusat-pusat perkantoran yang ada di Belitang sekarang.

“Beliau itu pemberani tapi tidak brutal dan tidak ada istilah takut. Secara ekonomi pun beliau sangat sukses. Saya akui ayah memanjakan kami dalam hal materi tapi keras dalam mengontrol. Alhamdulillah semua anaknya sarjana. Bahkan ada yang menjadi gubernur sekarang,” papar HD di sela berziarah.

Bukan hanya pandai mengayomi masyarakat, hal lain yang paling diingat HD ayahnya juga sangat cerdas. Diusianya yang muda, Hamzah kala itu menguasai berbagai bahasa seperti bahasa Inggris, China, Belanda dan beberapa bahasa lainnya.

Baca Juga :   Satpol PP & Damkar Muara Enim Raih Juara 1 & 2

Banyak pesan khusus yang pernah disampaikan kepada HD, dan menjadi acuan Gubernur Sumsel itu selama menjadi pemimpin daerah. Yang masih membekas dalam ingatannya hingga saat ini almarhum pernah berpesan sebelum meninggal.

“Jangan pernah menolak orang yang ingin ikut, jangan sekali-kali menolak orang bertamu. Semua pasti ada gunanya, tidak ada yang tidak berguna. Begitu caranya mengajari kami cara menghargai,” kata HD menirukan ucapan ayahnya.

Dikatakan HD, meski sekilas sangat sederhana, semua itu ada filosofinya. Karena itu pula selama menjadi Bupati hingga Gubernur sekarang, kantor Bupati, kantor Gubernur bahkan rumah pribadinya pun tak pernah sepi dari tamu yang berkunjung.

“Deru jangan pernah tolak tamu ya. Meskipun niatnya jahat. Kalau tujuannya baik mungkin dia membawa info atau rezeki. Kalaupun tujuannya buruk, kalau kamu hadapi dengan niat baik bisa jadi berubah. Tinggi sekali filosofinya. Seperti sekarang ini semua saya terima di Pemprov. Ada yang sudah welcome ada yang belum itu wajar. Biarkan semua berjalan. Lama-lama akan jadi penilaian tersendiri,” jelas Deru.

Mengenai didikannya yang keras, terkadang diakui HD ikut memberikan pengaruh dalam gaya kepemimpinannya di OKUT. Namun hal itu tak jadi masalah menurutnya, terlebih untuk hal yang baik dan positif.

“Keras itu tidak harus kejam dan itu saya lakukan juga. Semua menurun di kami, termasuk intonasi saya itu adopsi semua dari ayah. Beliau juga tidak pernah menghindari masalah. Beliau keras tapi disukai, nah disitu hebatnya ayah saya,” tegasnya.

Hotel Grand Inna Palembang

Wujudkan Milenial Cinta Tertib Lalu Lintas Berkeselamatan Menuju Indonesia Gemilang

Publisher : Apriandi

Apriandi

Lihat Juga

Herman Deru: Bupati PALI Harus Gas Poll Turunkan Kemiskinan

PALI, KoranSN Didampingi Ketua Tim Penggerak PKK Sumsel Hj Febrita Lustia, Gubernur Sumsel H. Herman …