Negeri Megalith yang Terlupakan



edit copy

TELAH  beberapakali niatku tertunda untuk berkunjung ke kampung seorang sahabat yang dikenal sejak dua tahun lalu. Akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk berkunjung walaupun kunjungan tersebut tidak terencana dengan baik dan terkesan mendadak.

Setelah menempuh perjalanan 29 km ke arah barat dari Kota Lahat, dilanjutkan dengan menyusuri jalan kebun sepanjang satu kilometer. Perjalanan menyusuri perkebunan kopi yang berkelok dan sedikit naik turun dengan udara yang sejuk membuat perjalanan sepanjang satu kilometer menjadi terasa nyaman dan menyenangkan. Perkebunan kopi yang terletak di ketinggian sekitar 400 mdpl sangat subur dengan buah kopi yang masih hijau dan sedikit yang sudah memerah.

Kadang kala saya harus merunduk untuk menghindari dahan-dahan pohon kopi yang penuh dengan buah kopi, karena saya takut akan mengganggu buah kopi tersebut sehingga membuatnya berjatuhan sebelum panen si empunya.

Diantara rimbunnya pohon kopi saya melihat sebuah batu berlubang tiga. Ketiga lubang tersebut berisi air dan dedaunan kopi yang jatuh dan masuk ke lubang batu tersebut. Batu berlubang tiga atau disebut juga Lumpang Batu Berlubang Tiga yang merupakan peninggalan prasejarah yang diperkirakan berusia 3.500 tahun. Dua dari tiga lubang lumpang batu ini mempunyai ukuran diameter lubang dan kedalaman lubang yang sama serta mempunyai garis pembatas antar lubang. Tentu semua itu memiliki makna yang mendalam dari si pembuat lumpang batu yang berukuran 1,5 m x 0,5 m.

Berjalan ke arah utara sekitar 10 m, terdapat sebuah lumpang batu berlubang dua. Dua lubang menghadap arah utara, masing-masing lubang mempunyai ukuran diameter lubang dan kedalaman lubang yang sama. Membuktikan bahwa pada masa itu masyarakat setempat telah mengenal suatu alat ukur.

Di lokasi ini, selain terdapat tiga lumpang batu tersebut, juga terdapat tiga arca manusia, beberapa batu datar atau meja. Tiga arca manusia terletak berdekatan yang berjarak sekitar 20 m dari lumpang batu lubang dua. Arca manusia pertama dengan tinggi sekitar 100 cm  dan lebar 80 cm.

Baca Juga :   Polri Tetap Lakukan Operasi Yustisi di Kawasan Sektor Pariwisata

Arca dalam posisi duduk menghadap arah utara. Tampak jelas bagian kaki dan tangan sedang kepala arca telah hilang. Selain itu arca manusia ini seperti memakai baju karena terlihat sebuah lingkaran di bagian leher arca atau lingkaran ini merupakan sebuah kalung. Dan tepat di depan arca pertama ini terdapat arca kedua dalam posisi terbaring sedang di sebelahnya sebuah batu datar berelief di bagian samping dan atasnya. Batu datar berukuran panjang 120 cm, lebar 50 cm dan tebal 20 cm. Berjarak 1,5 m dari arca kedua terdapat sebuah arca manusia yang hanya terlihat bagian bahu dan kepala. Arca manusia ini memakai penutup kepala seperti helm atau sanggul dan memakai kalung sedang bagian muka dari arca ini agak kurang begitu jelas atau sudah aus termakan usia.

Saya terus berjalan dan berjalan melihat bagian lain dari perkebunan kopi ini dan berharap akan melihat batu megalith lainnya. Dan setelah saya berjalan sekitar 12 m dari arca-arca tadi, tepat dibawah sebuah pohon kopi terdapat sebuah batu. Saya amati batu dengan ukuran 3 kali ukuran kepala manusia itu dan ternyata adalah kepala arca. Terlihat dengan jelas bagian muka seperti mata, hidung, mulut dan telinga serta penutup kepala. Saya berkeyakinan kepala arca ini merupakan kepala dari arca manusia pertama yang aku lihat  tanpa kepala.

Sebelumnya saya sempat bertanya dalam hati, kemana kepala arca ini? Apakah telah dicuri orang? Dan ternyata masih terdapat tak jauh dari si empunya.  Semoga dalam waktu dekat pihak-pihak yang berkompeten dapat menyambung kembali kepala arca sebelum kepala arca tersebut berpindah tangan ke orang yang tidak bertanggung jawab.

Baca Juga :   Basarnas Jateng Bentuk Unit SAR Magelang Dukung Pariwisata Borobudur

Situs megalith di lokasi ini tidak banyak diketahui masyarakat setempat bahkan masyarakat Lahat walau letaknya dekat jalan raya lintas Lahat- Pagaralam. Karena tidak adanya papan petunjuk adanya situs megalith disini.

Seperti telah diketahui tinggalan prasejarah di Kabupaten Lahat telah diketahui sejak 1850 oleh L.Ullman seorang letnan infanteri Belanda dan kemudian tahun 1932 oleh Van Der Hoop yang menulis tentang megalith Pasemah dalam bukunya “Megalithic Remains in South Sumatra”. Dalam buku ini Van Der Hoop menyebut area ini dengan nama Tebat Sibentur.

Sudah semestinya  situs megalith di Lahat ini atau di Tebat Sibentur serta sebaran situs megalith lainnya  di beberapa tempat di Kabupaten Lahat mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Lahat.

Apalagi Kabupaten Lahat telah mendapat penghargaan Rekor MURI sebagai Pemilik Situs Megalitik Terbanyak se Indonesia.

Kalau Pemerintah Kabupaten Lahat serius tentu sangat bermanfaat bukan saja berguna untuk mengenal budaya bangsa dan ilmu pengetahuan namun juga pengembangan pariwisata yang berdampak positif terhadap perekonomian masyarakat dan Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Lahat seperti tertera dalam UU No.11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya pasal 85 Bagian Keempat Pemanfaat berbunyi “Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan setiap orang dapat memanfaatkan Cagar Budaya untuk kepentingan agama, sosial, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan pariwisata.  (By Mario, Traveler ke 200 kota wisata dunia).

Publisher : Apriandi

Lihat Juga

Pemkot Pariaman Upayakan Lanjutkan Pembangunan Masjid Terapung 2022

Pariaman, KoranSN Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman, Sumatera Barat mengupayakan melanjutkan pembangunan masjid terapung pada 2022, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.