3 Pelaku Pembunuhan Security PT Lonsum Masih Dikejar Polisi







Tampak para tersangka saat diamankan di Polda Sumsel. (Foto-Ferdinand/Koransn.com)

Palembang, KoranSN

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel, Kombes Pol Budi Suryanto Kamis (27/9/2018) mengungkapkan, pihak kepolisian saat ini masih melakukan pengejaran terhadap tiga pelaku pembunuhan security PT Lonsum, yakni Ristal Alam (27).

Menurutnya, hal ini dikarenakan ada tujuh orang yang diduga terlibat dalam kasus bentrok permasalahan sengketa lahan antara warga SP 3 Desa Suka Makmur Kecamatan Gumay Talang Kabupaten Lahat dengan pihak PT London Sumatera (Lonsum) yang mengakibatkan korban tewas. Namun dari tujuh orang tersebut, saat ini baru empat orang yangt sudah ditangkap, mereka yakni Najamudin, Herliansyah, Yandri dan Risansi alias Anggok.

“Jadi dalam kasus ini ada tujuh tersangkanya namun yang baru tertangkap empat orang. Dari itulah saat ini kami masih mengejar tiga pelaku lainnya,” ungkapnya.

Dijelaskan Budi, untuk tiga pelaku yang masih buron tersebut perannya hanya terlibat dalam bentrok saat keributan terjadi. Akan tetapi ketiganya tidak langsung terlibat melakukan pembunuhan korban seperti yang dilakukan tersangka Najamudin, Herliansyah dan Yandri yang sudah tertangkap.

“Kalau untuk tersangka Najamudin, Herliansyah dan Yandri ini ketiganya terlibat langsung membunuh korban. Sebab para tersangka ini menganiaya korban dengan membacokan senjata tajam dan menusuk korban dengan pisau. Meskpun demikian, untuk pelaku yang berlum tertangkap masih kami lakukan pengejaran,” ujarnya.

Lebih jauh dikatakan Budi, sementara untuk tersangka Risansi alias Anggok yang merupakan oknum kepala desa (Kades) memiliki peran sebagai provokator. Dari itulah dalam kasus tersebut pihaknya turut meringkus oknum Kades tersebut.

“Hingga kini tersangka Najamudin, Herliansyah, Yandri dan Risansi telah kami tahan di Mapolda Sumsel untuk dilakukan proses hukum dan melengkapi berkas perkaranya. Selain itu kami juga masih melakukan pengembangan kasus ini,” tandas Budi.

Diberitakan sebelumnya, dalam kasus ini pihak kepolisian telah menangkap empat tersangka, mereka yakni; Najamudin (46), warga SP 3 Palem Baja Desa Desa Suka Makmur Kecamatan Gumay Talang Lahat, Herliansyah (29) warga Desa Tanah Pilih Kecamatan Gumay Talang Lahat, Yandri (35) warga Desa Tanjung Baru Kecamatan Gumay Talang Lahat dan Risansi alias Anggok (48), yang merupakan oknum Kades Suka Makmur Kecamatan Gumay Talang Lahat.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumsel, Kombes Pol Budi Suryanto didampingi Kasubdit III Jatanras AKBP Yoga Baskara, Rabu (26/9/2018) mengatakan, keempat tersangka ditangkap terkait kasus bentrok di Lahan PT Lonsum di Kabupaten Lahat yang mengakibatkan seorang security tewas usai dibacok dan ditusuk senjata tajam. Dari keempat tersangka awalnya polisi menangkap tersangka Najamudin, Herliansyah dan Yandri yang ketiganya memiliki peran menganiaya korban hingg tewas di lokasi kejadian.

Baca Juga :   Pelaku Pembunuhan Driver Taksi Online Tunjukkan Lokasi Tri Widyantoro Dibuang

“Setelah tersangka Najamudin, Herliansyah dan Yandri ditangkap kemudian kami melakukan pengembangan hingga akhirnya kami menangkap tersangka Risansi alias Anggok yang merupakan oknum Kades Suka Makmur. Dalam kasus tersebut oknum Kades ini berperan sebagai provokator, karena sudah memprovokasi warga,” jelas Budi saat gelar ungkap kasus di Mapolda Sumsel.

Masih dikatakan Budi, kasus sengketa lahan antara warga dan PT Lonsum di Kabupaten Lahat memang sudah lama terjadi. Dimana di lokasi perkebunan kelapa sawit tersebut ada blok lahan yang diklaim milik masyarakat. Namun dikarenakan saat kejadian di lahan yang disengketakan itu sedang ada kegiatan panen sawit oleh pegawai PT Lonsum dan dijaga pihak securiy, sehingga terjadilah bentrok tersebut.

“Tak lama kemudian datang tersangka Najamudin, Herliansyah dan Yandri bersama sejumlah warga.

Kedatangan mereka melarang pihak perusahaan memanen sawit, karena menurut warga lahan itu merupakan lahan orang tua mereka yang hingga kini masih konflik dan belum dibayar ganti rugi lahan oleh pihak perusahaan. Namun saat kejadian, dari sejumlah warga yang datang ke lokasi hanya tersangka Najamudin, Herliansyah dan Yandri yang terlibat kontak fisik dengan security, akibatnya ketiga tersangka ini menganiaya korban dengan pisau dan golok hingga korban tewas usai ditusuk dan ditikam,” katanya.

Lanjut Budi, kini keempat tersangka sudah kami tahan di Polda Sumsel guna dilakukan proses hukum. Dalam kasus ini, para tersangka kami jerat dengan Pasal170 KUHP.

“Selain itu kami juga akan mengarahkan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencananya,” tegas Budi.

Sementara tersangka Najamudin mengatakan, saat kejadian dirinya menusuk perut korban dengan pisau. Hal itu dilakukannya karena saat ia melarang pegawai perusahaan memanen sawit, dirinya dianiaya oleh korban dan security lainnya.

“Saat itu di lokasi sedang ramai, sebab ada pegawai yang sedang memanen dan juga banyak security berjaga. Sementara dari warga, jumlahnya juga banyak tapi warga lainnya hanya melihat-melihat saja saat saya bersama dua adik ipar saya, Herliansyah dan Yandri ribut dengan security. Keributan itu terjadi karena saat saya melarang mereka memanen, korban memegangi tangan saya yang sedang memegang samurai, kemudian teman-teman korban lainnya memukuli kepala saya pakai tongkat.

Karena emosi maka saya menikam perut koban sebanyak satu kali dengan pisu, setelah itu korban juga dibacok oleh Herliansyah,” ungkapnya.

Menurutnya, dirinya nekat melakukan hal tersebut karena di lahan tersebut ada sekitar 5 hektare lahan yang merupakan lahan miliknya.

“Dulu pemerintah memberikan lahan itu kepada kami sebab lahan tersebut merupakan lahan untuk transmigrasi. Kemudian sekitar tahun 2003 pihak perusahaan melakukan perjanjian dengan warga jika lahan tersebut akan ditanami kelapa sawit, dengan janji perusahaan akan memberikan uang ganti rugi kepada warga. Akan tetapi, sampai kini saya belum menerima uang ganti rugi tersebut,” tandasnya.

Baca Juga :   Kawanan Jambret di Mayor Salim Batubara Ditangkap

Sedangkan tersangka Herliansyah mengungkapkan, saat menganiaya korban dirinya berperan membacok korban dari belakang. Hal itu dilakukannya setelah melihat kakak iparnya yakni Najamudin dipegangi dan dipukuli oleh pihak security.

“Awalnya saya mendekat untuk membantu kakak ipar saya namun kepala saya langsung dipukul pakai tongkat. Tak lama kemudian dari arah belakang saya membacok bahu belakang korban sebanyak satu kali. Setelah itu korban terjatuh, sedangkan teman-teman korban lainnya langsung bubar dari lokasi,” ungkapnya.

Ditambahkan tersangka Yandri, jika saat kejadian dirinya hanya memegang senjata tajam jenis golok menakuti sejumlah security yang merupakan teman dari korban.

“Saat itu saya melihat kakak ipar saya dan soudara saya Herliansyah dipukuli dan dipegangi makanya saya kibas-kibaskan golok hingga para security tersebut ketakutan. Usai kejadian, kami ditangkap saat sedang berada tak jauh dari lokasi kejadian,” tutupnya.

Diketahui sebelumnya, Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Pertanahan Kabupaten Lahat membacakan SK Bupati Lahat, yang membuka portal lahan seluas 303 hektar oleh warga di Desa Suka Makmur. Dengan demikian, lahan berupa perkebunan kelapa sawit itu kini kembali dikelola PT Lonsum. Selanjutnya, pihak perusahaan melakukan pemanenan di kebum tersebut.

“Kompensasi telah diberikan, tentu warga eks transmigrasi SP III Desa Suka Makmur tidak akan menuntut lagi lahan usaha II kepada PT Lonsum dan Pemkab Lahat,” tegas Ketua Tim Identifikasi dan Verifikasi Penanganan Sengketa Tanah Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (PR-KPP) Kabupaten Lahat, Nazarudin Effendi.

Menurutnya, SK Bupati Lahat nomor 196/KEP/III/2012 tentang penyelesaian permasalahan lahan usaha II warga eks transmigrasi SP III BM V/B Desa Suka Makmur Kecamatan Gumay Talang, sebenarnya telah diselesaikan.

Perkebunan itu telah dikuasai masyarakat sejak tahun 2012 yang lalu. Kemudian, ada penyelesaian namun muncul kembali permasalahan di tahun 2014, masyarakat kembali mengklaim lahan itu milik mereka.

“Jika ada permasalahan, silahkan masyarakat bernegosiasi dengan membawa bukti-bukti terkait klaim lahan yang ada dan menyelesaikan secara hukum. Kita bacakan SK Bupati Lahat ini sesuai aturan” jelasnya.

Terpisah, Lawyer PT PP Lonsum Tbk, Agus Effendi menegaskan, tidak akan membuka pintu mediasi.

“Kita siap menunggu mereka (warga) ke ranah hukum. Semua proses penyelesaian terhadap warga telah dilakukan pihak perusahaan. Ini memang hak PT Lonsum yang telah dikuasai warga sejak lama,” katanya. (ded/rob)







Publisher : Awid Durrohman

Lihat Juga

Gakkum KLHK dan Bakamla Gagalkan Penyelundupan Kayu Ilegal

Makassar, KoranSN Tim Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wilayah Sulawesi bersinergi …

error: Content is protected !!