Harga Makin Anjlok, Petani Karet Menjerit

Suasana nimbang getah di Desa Jerambah Besi. (foto: Anasrul)
Suasana nimbang getah di Desa Jerambah Besi. (foto: Anasrul)

PALI, SN

Pergantian tahun rupanya belum merubah nasib para petani karet yang ada dibumi serepat serasan, harga komoditi andalan sebagian besar masyarakat PALI belum ada tanda-tanda akan meningkat, dan disebagian wilayah malah tambah anjlok.

Pantauan SN, di pasar getah Desa Jerambah Besi, harga hasil dari pohon karet tersebut menembus angka terendah, yakni Rp 3.500/Kg.

Seperti yang dikatakan Maman (45) salah satu petani karet asal Desa Jerambah Besi bahwa kondisi sekarang ini ibarat makan buah simalakama.

“Serba bingung sekarang ini pak, bagaimana tidak, kalau tidak disadap pohon karet kami tentu kami tidak makan, disadap dapat capeknya saja dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masih kurang, karena harganya tak kunjung naik, malah tambah turun,” keluhnya, Minggu (3/1).

Baca Juga :   Wabup PALI Inginkan Program TMMD Setiap Tahun

Sambung Maman, bahwa kesulitan petani karet seperti dirinya kian bertambah dimana harga kebutuhan sehari-hari makin melambung sementara penghasilannya tambah menurun.

“Kalau sebanding tidak jadi soal, tapi ini terbalik, harga getah murah sementara bahan pokok tambah mahal,” tambahnya.

Keluhan serupa dikatakan Bambang (25) petani karet asal Desa yang sama. Dirinya mengatakan bahwa kalau hanya mengandalkan hasil karet tidak bakal cukup menutupi kebutuhan hidupnya, karena dirinya dalam satu minggu paling hanya bisa mendapatkan 30 kilogram getah.

“Setelah nyadap karet, aku langsung kerja ikut mencari kayu kasau ke hutan untuk dijual, lumayanlah bisa menambah penghasilan, karena kalau hanya dari hasil getah, paling cukup beli beras saja,” ucapnya.

Sementara itu, Apri (35) salahsatu pembeli getah menjelaskan bahwa harga beli belum meningkat dikarenakan dirinya mengikuti harga pasaran pabrik getah.

Baca Juga :   Terimakasih Warga PALI Telah Berikan Bantuan Untuk Korban Tsunami

“Sebenarnya harga getah berpariasi tergantung tingkat kadar airnya, saya beli antara 3.500 sampai 6.000 rupiah untuk minggu ini, karena saya harus mengikuti harga di pabrik,dan saya juga berharap tahun ini ada perubahan, karena saya juga sama ,selain membeli getah dari petani punya kebun karet juga,” ungkapnya. (anasrul)

Publisher : Anton Wijaya

Avatar

Lihat Juga

Heri Amalindo Sembuh dari Corona

PALI, KoranSN Setelah dinyatakan negatif dari Covid-19 oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Palembang melalui …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.