Baru 18 %, Lahan Sawit Tersertifikasi

Pembukaan & Paparan Perkembangan RSPO oleh Ibu Tiur Rumondang – Direktur RSPO Indonesia. (foto-ferdinand/koransn.com)

Palembang, KoranSN

Dari total 11 juta lahan sawit di Indonesia, baru 18 % atau sekitar 1,8 juta hektare lahan sawit yang tersertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Untuk Sumsel lahan yang tersertifikasi sekitar 163 ribu hektare  dan seluruh dunia baru mencapai 3,3 juta hektare, padahal Indonesia masuk dalam negara penyangga 50 % dari kebutuhan sawit dunia. Hal tersebut dikatakan Direktur RSPO, Tiur Rumondang saat ditemui di Hotel Aston Palembang, Rabu (29/3/2017).

Capaian tersebut dikatakannya, patut disyukuri karena sertifikat RSPO sifatnya sukarela atau tidak seperti sertifikat ISPO yang sifatnya mandatory. Melihat data tersebut membuktikan adanya perubahan perilaku dari pelaku bisnis untuk memiliki RSPO. “Saat ini tinggal bagaimana mendorongnya mengingat sejumlah isu yang masih menghadang, seperti isu lingkungan, isu deforestasi, isu gas rumah kaca dan isu biodeversity. Strategi yang kita buat adalah  menghimbau pihak-pihak dalam rantai bisnis sawit untuk segera menyertifikasi usahanya,”ujarnya.

Baca Juga :   WOM Optimis Tetap Tumbuh

Menurutnya, meskipun produk sawit Indonesia saat ini banyak dikirim ke Tiongkok dan India yakni negara yang belum mengharuskan serfikasi RSPO, tetapi seiring dengan perubahan prilaku penduduk dunia yang ingin mengetahui proses suatu produk maka lambat laun bakal menjadi keharusan pasar global. Karena sertifikat RSPO dipadang cukup efektif untuk menangkal isu-isu lingkungan.

RSPO dijelaskannya, merupakan organisasi nirlaba para pemangku kepentingan rantai bisnis kelapa sawit. Karena itu RSPO di tahun 2020 menargetkan sebanyak 50 % lahan sawit di Indonesia tersertifikasi. Target tersebut harus diwujudkan karena persyaratan memiliki sertifikat RSPO diperkirakan pada masa mendatang bakal menjadi keharusan terutama oleh negara-negara pengespor produk CPO, dan lainnya.

Dikatakannya, untuk negara Eropa dan Amerika saat ini sudah mewajibkan lahan sawit memiliki RSPO. Ke depan, sertifikat RSPO bakal menjadi kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan rantai bisnis sawit. Tujuh sektor yang masuk dalam RSPO yaitu perkebun kelapa sawit, pengelola atau penjual minya kelapa sawit, produsen barang dan konsumen, peritel, bank, investor, LSM konservasi lingkungan dan LSM sosial untuk mendorong minyak kelapa sawit berkelanjutan. RSPO membuat 8 standarisasi rantai bisnis sawit mulai dari proses, penjualan, hingga pembelian yang diperbarui setiap lima tahun, diantaranya, komitmen pada transfaransi, sistem pertanian berkelanjutan dan peningkatan produktifitas.

Baca Juga :   Cooking Class Sambil Berenang Hanya Rp 110 Ribu

Pada 2016 dijelaskannya, sebanyak 2.700 petani swadaya kelapa sawit dengan luas lahan 5.500 hektare di tiga kecamatan Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan meraih sertifikat berkelanjutan RSPO. (ima)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Menteri Digital ASEAN Sepakati Kerja Sama dengan AS, China dan India

Jakarta, KoranSN Menteri Digital ASEAN menyepakati kerangka kerja sama dengan Amerika Serikat, India, dan China …