BSN Bidik Usaha Pangan Sumsel Disertifikasi Jelang Asian Games



Kepala BSN Bambang Prasetya bersama Direktur Umum dan SDM PT Semen Baturaja, Amrullah saat diwawancarai wartawan. (foto/Perdinand Defriansyah)

Palembang, KoranSN

Menjelang perhelatan Asian Games 2018, Badan Standarisasi Nasional (BSN) membidik usaha pangan yang ada di Sumsel, terutama di Kota Palembang untuk disertifikasi. Tujuannya, untuk memberi rasa nyaman kepada pelancong atau tamu Asian Games, terutama soal kebersihan makanan.

Hal ini diungkapkan Kepala BSN, Bambang Prasetya, ditemui saat berkunjung ke PT. Semen Baturaja (Persero), Palembang, Senin (22/5/2017).

Menurutnya, dengan disertifikasi, kualitas produk pangan akan terjamin, mulai dari bahan bakunya, tempat memasaknya (dapur) hingga kualitas makanan/masakan bisa dipastikan bersih dan aman.

“Jelang Asian Games 2018 ini, kita harap usaha pangan di Sumsel sudah disertifikasi, dari masakan, dapurnya disertifikasi, keamanan pangan, peralatan masaknya, sehingga dengan demikian orang luar akan percaya dengan kualitas dan kebersihan masakan,” ungkap Bambang.

Di sisi lain, Bambang mengakui UMKM yang sudah disertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia) di Indonesia masih sangat minim.

“Dari 55 juta UMKM, yang sudah ter SNI masih sangat sedikit. Penyebabnya karena keterbatasan biaya untuk sertifikasi dan juga masih banyak pelaku UMKM yang belum mengerti pentingnya sertifikasi produk. Saya ambil contoh, di Bogor itu ada produk Komoca Toys, dulu sebelum sertifikasi, naruh di Gramedia atau carrefour itu susah, tapi setelah SNI, dia tinggal nelpon dan dipercaya, bahkan ia mendapat kepercayaan bank hingga dibantu mendirikan pabrik,” ungkap Bambang.

Bambang menerangkan, produk standarisasi ada dua macam, diwajibkan dan sukarela. Produk yang diwajibkan ada sekitar 200 an SNI, mereka wajib disertifikasi tanpa terkecuali, baik impor maupun dalam negeri. Salahsatu produk yang wajib sertifikasi adalah semen, karena semen ini sangat terkait dengan masalah keselamatan. Tidak pernah terbayangkan sebuah bangunan, yang dibangun dengan semen yang tidak terjamin kualitas atau mutunya. Resiko ambruknya bangunan yang bisa mengancam jiwa manusia, tentu sangat besar kemungkinan terjadi.

Baca Juga :   Stikes Muhammadiyah Gelar Fisioterapi Gratis Untuk Umum

Dengan dasar pemikiran tersebut dan untuk mendorong pengembangan industri semen di Indonesia, Badan Standardisasi Nasional (BSN) yang diberikan tugas oleh pemerintah untuk membina dan mengembangkan Standardisasi di Indonesia, menetapkan 20 Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait Semen.

“SNI yang ditetapkan oleh BSN bersifat sukarela. Namun, karena produk semen menyangkut masalah K3L (Keamanan, Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan Hidup), Kementerian Perindustrian mengeluarkan peraturan yang memberlakukan secara wajib SNI Semen,” ujar Bambang.

SNI yang diberlakukan secara wajib, lanjut Bambang, meliputi SNI 15-3758-2004 Semen Masonry; SNI 2049:2015 Semen Portland (Selain Portland Putih, Portland Pozoland, Portland Campur dan Semen Masonry); SNI 15-3500-2004 Semen Portland Campur (Mixed Cement); SNI 7064:2014 Semen Portland Komposit; SNI 0302:2014 Semen Portland Pozoland; serta SNI 15-0129-2004 Semen Portland Putih.

Dari 14 industri semen yang ada di Indonesia, kata Bambang, PT. Semen Baturaja (Pesero) adalah salah satu industri semen yang terbukti telah menerapkan SNI dan standar lainnya dengan baik dan konsisten. Perusahaan ini diketahui memproduksi semen jenis Ordinary Portland Cement Type I (OPC-I) dan Portland Composite Cement (PCC) yang masing-masing telah tersertifikasi SNI 2049: 2015 untuk OPC-I dan SNI 7064:2014 untuk PCC. Untuk pengemasan produk, terdapat tiga jenis kemasan, yaitu kantong 50 kg, big bag 1000 kg, dan curah.

Baca Juga :   Padi dan Cakra Khan Ramaikan Biznet Festival

Sementara itu, Direktur Umum dan SDM PT Semen Baturaja, Amrullah yang menerima kunjungan Kepala BSN dan rombongan mengungkapkan, standarisasi untuk produk semen harus ada, karena masyarakat yang ingin membeli produk itu, pasti memperhatikan standarisasinya, termasuk sertifikasi-sertifikasi lainnya.

“Kalau semen harus ada, orang-orang yang mau beli pasti mau lihat sudah standar belum, sudah SNI belum, malah ditambah lagi sertifikasi yang lain, seperti sertifikasi lingkungan dan mutu,” ungkapnya.

Di sisi lain ia menerangkan, tahun ini PT Semen Baturaja menargetkan 2 juta ton produksi. Target ini optimis dapat tercapai, apalagi Sumsel sedang gencar membangun, berkaitan dengan banyaknya proyek di Sumsel, terutama proyek Asian Games dan LRT.

“Perlu diketahui, LRT itu, 90 persen menggunakan semen baturaja,” ujarnya. (awj)

Publisher : Anton Wijaya

Lihat Juga

DPRD Palembang Minta Pemkot Segera Cairkan Insentif Nakes

Palembang, KoranSN Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palembang meminta Walikota Palembang untuk segera mencairkan …