Bupati Bangka Tengah Ajak Warga Lestarikan Tradisi “Makan Bedulang”



Tradisi ini disebut “makan bedulang” karena penyajian lauk pauk diletakkan di atas dulang, sedangkan air minum dan kue yang dilengkapi dengan kobokan (air cuci tangan) disajikan dalam baki persegi empat. Untuk nasinya, disiapkan dalam baskom kecil dan diletakkan di atas empat piring.

Selain itu, ciri khas sajian “makan bedulang” adalah tudung saji sebagai penutup dulang yang terbuat dari daun lais dengan cat merah dan dihias sedikit sentuhan warna lain berbentuk lukisan kecil.

Biasanya warga menggelar “makan bedulang” pada bulan dan hari tertentu, seperti saat kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Isra Miraj, menjelang memasuki Ramadhan, menjelang Idul Fitri dan Idul Adha dan kegiatan hari ketujuh (nuju ari) setelah adanya warga meninggal dunia di suatu kampung. HALAMAN SELANJUTNYA>>







Publisher : Apriandi

Lihat Juga

Pelindo Edukasi Nelayan di Benoa Bali Untuk Wisata Taksi Air

Denpasar, KoranSN PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Sub Regional III Bali Nusa Tenggara mengedukasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!