Catatan Jayanto Arus Adi: Hattric versus Freekick Ala Muhaimin Iskandar







Belajar dari Anas

Sedikit melebar fenomena Cak Imin, bertolak belakang dengan kisah Anas Urbaningrum. Secara anatomis apa yang dialami Anas sebenarnya memiliki komplikasi dengan identifikasi yang sama. Namun Anas Urbaningrum tercampak atau tergelincir lebih karena kesalahan strateginya sendiri. Andai Anas Urbaningrum dapat lebih bersabar dan bertindak menunggu momentum yang tepat bisa jadi ceritanya akan lain.

Apa yang dilakukan Anas ketika itu ibarat burung yang sayap dan bulunya belum sepenuhnya kuat, namun memaksa terbang jauh, maka dia belum kuat menghadapi petir juga badai akhirnya jatuh. Ya, atau tidak, yang jelas Cak Imin lebih sabar dan telatan merawat konstituen. Dengan bergerilya ala santri eskalasinya justru tumbuh luar biasa.
PKB kini, dan Muhaimin sekarang adalah personifikasi yang luar biasa.

PKB tubuh menjadi partai dengan soliditas dengan akar yang kuat. Begitu pun Cak Imin, saat ini dia telah menjelma menjadi politikus ulung dengan kalkulasi yang matang. Langkah kuda PKB berkoalisi dengan Gerindra adalah trisula yang memiliki kekuatan tangguh,
Strategi Cak Imin tersebut mampu menghadirkan dua lompatan strategis secara paralel, pertama menjadi kunci mewujudkan hattricknya, untuk PKB dan sekaligus ambisi politiknya, yakni menjadi Wakil Presiden. Kedua, jika strategis pertama tidak, atau belum mampu diwujudkan, maka dia dapat melakukan manuver guna melakukan free kick untuk mengatasi lawan politik yang menjadi ancaman.

Apakah hattrick atau freekick kita mengikuti waktu sebagai pengadil dan hakim zaman. Catatan penutup menjadi pesan khusus dari tulisan saya di sini adalah PKB dan Nahdlatul ulama adalah ibarat dua keping mata uang. Dua keping ini mesti bersatu menjadi kekuatan yang utuh. Bukan sebaliknya menjadi dua sisi mata pedang yang bisa saja saling menikam.

Gus Muhaimin Iskandar mempunyai pekerjaan rumah besar terkait relasi asimetris di atas. Sangat elok dan indah jika NU dan PKB dapat benar benar menjadi jiwa raga civil society di Indonesia. Konfigurasi yang tampak sekarang kurang memberi maslahat bagi umat secara ideal. Karena chemistry yang ada tidak dapat sepenuhnya menyatu.

Baca Juga :   Bicara Transformasi Energi, Erick Thohir Ingatkan Indonesia Harus Jadi Produsen Bukan Konsumen Energi Hijau

Harapan saya untuk kepentingan bangsa dan negara, juga untuk kepentingan umat, Ketua PBNU, KH Yahya Staquf dan Muhaimin Iskandar nahkoda PKB punya spirit dengan goal yang sama untuk Indonesia Raya. (*)

Penulis: Drs Jayanto Arus Adi MM
(Wartawan Senior, Direktur JMSI Institute, Ketua Bidang IT JMSI Pusat, Ahli Pers Dewan Pers, Dosen dan Mahasiswa S3 Universitas Negeri Semarang (Unnes), Dosen STIE BPD Jateng, penggiat Satu Pena Indonesia).

Tulisan dan opini adalah pandangan pribadi, tidak mewakili lembaga atau institusi institusi di atas.







Publisher : Apriandi

Lihat Juga

Teguh Santosa Raih Press Card Number One, Agus Harizal: Ini Kebanggaan JMSI

Palembang, KoranSN Ketua Umum JMSI (Jaringan Media Siber Indonesia) Teguh Santosa meraih Press Card Number …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!