Ditanya Proyek dan Fee di Banyuasin, Sekda Firmansyah Tidak Ingat, Bupati Yan Anton Perintahkan Galang Dana untuk DPRD





Foto Foto Ferdinand Deffryansyah/koran sn
Dari kiri-Kanan: Umar Usman Kadisdikpora Banyuasin, Sutaryo Kasi Perencanaan & pembangunan Disdikpora, Firmansyah Sekda Banyuasin dan Hari Kusuma yaitu Adik Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian dihadirkan KPK sebagai saksi di PN Tipikor Palembang, Rabu (21/12).- Foto Foto Ferdinand Deffryansyah/koran sn

Palembang, SN
Sekda Banyuasin Firmansyah, Rabu (21/12) banyak menjawab dengan kata ‘tidak ingat’, ketika dicecar pertanyaan oleh Majelis Hakim dan JPU KPK terkait proyek-proyek di Banyuasin serta uang fee yang diminta dari kontaraktor untuk keperluan Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian.

Hal tersebut terungkap saat Firmansyah menjadi saksi terdakwa dugaan kasus suap penganggaran dan pelaksanaan proyek pengadaan barang dan jasa di Dinas Pendidikan dan dinas-dinas lainnya di Pemkab Banyuasin, Zulfikar Muharrami (Direktur CV Putra Pratama) di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kelas I A Palembang.

Dalam persidangan, Firmansyah berkali-kali mengatakan ‘tidak ingat’ kepada Majelis Hakim yang diketuai, Arifin SH MH disaat hakim mengajukan pertanyaan apakah selaku Sekda, dirinya mengetahui terkait proyek-proyek di Banyuasin serta mengetahui tentang fee yang diminta kepada kontraktor yang mendapatkan proyek.

“Kalau tentang proyek dan fee saya tidak ingat, lupa. Sebab, untuk proyek yang bertanggungjawab kan Unit Layanan Pengadaan (ULP). Jadi, saya tidak tahu yang Mulia Majelis Hakim,” ujar Firmansyah.

Bahkan dalam persidangan Firmansyah mengungkapkan lupa
saat Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Feby Dwiyandospendy mengajukan pertanyaan, apakah sebelum OTT KPK terjadi Sekda pernah bertemu dengan Mekri Bakri dan Bupati Yan Anton terkait permintaan uang dan fee dari proyek-proyek? “Saya lupa dan tidak ingat,” kata Firmansyah di muka persidangan.

Lalu JPU kembali menanyakan, apakah Sekda Firmansyah yang memerintahkan Bendahara Seketariat Darah Banyuasin, M Buchori dan sopir Sekda Banyuasin, Pandi membantu Mekri Bakri membawakan uang Rp 2 miliar untuk Ketua DPRD Banyuasin, Agus Salam.

“M Buchori memang staf saya dan Pandi memang sopir saya. Tapi, saya tak memerintahkan keduanya mengatarkan uang itu. Bahkan, saya juga tak mengetahui nominal permintaan uangnya, sebab saat
saya dan Asisten II Rislani A Gafar dipanggil bupati untuk
melakukan penggalangan dana yang uangnya akan diserahkan kepada  pimpinan DPRD Banyuasin, saat itu yang berkoordinasi hanya Mekri Bakri dan Rislani A Gafar. Sebab, setelah pertemuan itu, saya tidak tahu selanjutnya,” paparnya.

Diungkapkan Firmansyah, dalam perkara ini dirinya hanya mengetahui tentang OTT KPK saja. Hal ini dikarenakan, saat OTT terjadi dirinya sedang berada di rumah dinas Bupati Yan Anton.

“OTT tersebut terjadi, Minggu 4 September 2016 di rumah dinas Bupati Banyuasin, setelah acara syukuran untuk keberangkatan Haji Yan Anton. Saat itu, yang diamankan KPK yakni; saya, Bupati Yan Anto, Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin, Umar Usman (tersangka berkas terpisah) serta Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Setda Banyuasin, Rustami alias Darus (tersangka berkas terpisah). Ketika itu, kami dikumpulkan di ruang makan kemudian dibawa ke Polda Sumsel. Selain kami, memang ada orang yang juga diamankan. Dikarenakan kami dibawa dengan mobil terpisah, jadi saya tidak tahu siapa saja yang lainnya tersebut,” jelasnya.

Baca Juga :   PLN Operasikan Empat Infrastruktur Kelistrikan Dukung Ekonomi Jakarta

Dilanjutkan Frimansyah, sesampainya di Polda Sumsel dirinya tidak dibawa ke Jakarta oleh penyidik KPK.
“Saya disuruh KPK pulang, karena roda pemerintahan di Banyuasin harus tetap berjalan. Sedangkan untuk uang dan barang yang disita di rumah dinas bupati saat OTT, saya tidak melihatnya. Karena saat penggeledahan, kami diisolasi di ruang makan dan tidak melihat secara langsung penggeledahannya,” jelasnya.

Dalam kesaksiannya, Firmansyah juga mengakui jika pada tahun 2014 yang lalu, ia dan Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Desa dan Kesra Banyuasin, Rislani A Gafar sempat diminta Yan Anton
melakukan penggalangan dana untuk pimpinan DPRD Banyuasin dalam rangka pembahasan APBD.

“Dalam pertemuan itu, bupati meminta bantuan untuk
penggalangan dana. Sehingga, Asisten II, Rislani A Gafar
menunjuk Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin saat itu, Mekri Bakri.
Setelah itu, saya tidak tahu persis karena Asisten II Rislani A Gafar yang berkoordinasi dengan Mekri Bakri. Apalagi, sejak saya menjadi Sekda pada tahun 2012 lalu hingga sampai sekarang, saya tidak kenal dengan Zulfikar dan baru di persidangan ini saya bertemu terdakwa Zulfikar,” tutup Frimansyah.

Sementara usai persidangan, Sekda Banyuasin Firmansyah enggan berkomentar dengan sejumlah wartawan. Dengan langkah tergesa-gesa Firmansyah meninggalkan PN Palembang. “No comment,” singkat Firmansyah sembari berjalan dan melambaikan tangannya.

Selain Firmansyah, dalam persidangan tersebut JPU KPK juga menghadirkan, Kabid Pengendalian dan Oprasianal Dinas PU CK, Hari Kusuma yang taklain adik kandung Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian untuk menjadi saksi terdakwa Zulfikar Muharrami.

Diungkapkan Hari Kusuma, jika dirinya tidak mengetahui persis terjadinya dugaan kasus tersebut. Namun saat OTT terjadi di rumah dinas Bupati Banyuasin, ketika itu dirinya sedang berada di lokasi.

“Saat itu saya ada di lokasi tapi di halaman luar rumah dinas. Setelah OTT, saya langsung pulang ke rumah di Palembang. Saya memang adik kandung Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian dan kami hanya dua beradik,” ujarnya.

Masih dikatakan Hari, sebelum OTT terjadi dirinya pernah diberi uang Rp 50 juta oleh Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin, Sutaryo (tersangka berkas terpisah). Uang tersebut diberikan Sutaryo kepadanya, setelah ia meminta uang kepada Yan Anton Ferdian.

Baca Juga :   Gunung Merapi Luncurkan 18 Kali Guguran Lava Pijar ke Barat Daya

“Saya kan adik kandung Yan Anton, dari itulah saya meminta uang ke kakak saya. Kepada Yan Anton saya katakan; ‘Kak boleh minta uang Rp 50 juta untuk keperluan pribadi’. Ketika itu, kakak meminta rekening bank saya. Tapi taklama kemudian, kakak menyuruh saya meminta kepada Sutaryo. Saat menyampaikan permintaan uang ke Sutaryo, saya mengatakan Rp 300 juta tapi masih tetap diberi Sutaryo Rp 50 juta. Kalau meminta uang ke Sutayo, baru pertama kali itulah, sebab sebelumnya kakak memberikan uang untuk keperluan pribadi saya, senilai Rp 100 juta dan Rp 20 juta yang uangnya, langsung dari kakak saya,” jelasnya.

Saat JPU KPK menyingung, apakah Hari Kusuma mengetahui tentang proyek-proyek dan pernah mengikuti proyek di Banyuasin?
Hari Kusuma mengungkapkan, jika ia tidak pernah ikut dalam proyek.

“Saya tak pernah ikut proyek dan saya tidak tahu tentang proyek di dinas-dinas di Banyuasin,” tandasnya.
`
Usai mendengarkan kesaksian para saksi, Majelis Hakim yang diketuai Arifin SH MH menunda persidangan hingga 12 Januari 2017 mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi lainnya.

Terpisah, JPU KPK, Feby Dwiyandospendy mengutarakan, dari kesaksian Sekda Firmansyah di persidangan terungkap, jika Bupati Yan Anton memberikan perintah agar melakukan penggalangan dana yang uangnya untuk DPRD Banyuasin.

“Terkait penggalangan dana ini, tentunya akan kita teruskan ke penyidik KPK agar bisa didalami. Sedangkan terkait kesaksian Hari Kusuma yang merupakan adik kandung Yan Anton, sebenarnya dari BAP saksi jika Hari Kusuma itu meminta uang Rp 300 juta kepada Sutaryo, karena yang bersangkutan tidak mendapatkan proyek di Dinas Pendidikan. Namun, di persidangan saksi Hari Kusuma memberikan kesaksian dengan versi yang berbeda. Meskipun demikian, fakta-fakta di persidangan akan terus kita gali dan kita dalami,” pungkasnya. (ded)





Publisher : Ferdin Ferdin

Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

Terungkap Pria Terjatuh dari Atas Hotel di Palembang

Palembang, KoranSN Kapolsek IT I Palembang, Kompol Ginanjar Aliya Sukmana, Senin (5/12/2022) membenarkan adanya penangkapan …

error: Content is protected !!