Empat Lawang Gemuruh Suara Petasan, Kekhusyukan Tarawih Terganggu





Ilustrasi. (foto-net)

Empat Lawang, KoranSN

Kebiasaan buruk warga memainkan petasan pada bulan Ramadan sepertinya tidak bisa dihilangkan. Pasalnya, suara petasan menjadi suara pemecah ditengah kekhusyukan umat Islam menjalankan ibadah shalat tarawih.

Suara petasan yang umumnya dimainkan anak-anak dan para remaja ini terdengar hampir di seluruh daerah dalam Kabupaten Empat Lawang, khususnya pusat kota, Tebing Tinggi.

Menggelegarnya suara petasan yang cukup memekakan telinga ini sangat dikeluhkan warga, selain warga yang sudah tua, juga warga dari kaum hawa.

“Kami yang sudah tua seperti ini, mudah kaget mendengar suara-suara keras seperti ledakan petasan. Makanya, kami kesal kalau ada yang menyalakan petasan, apalagi di sekitar rumah,” kata Jamal, salah seorang warga yang geram dengan suara petasan.

Menurut Jamal, selain membuat kaget, suara petasan juga sangat mengganggu kekhusukan beribadah, karena mereka yang bakar petasan tak kenal waktu, terkadang saat menunaikan ibadah shalat tarawih dan shalat wajib lainnya.

“Mereka sepertinya lepas kontrol dari orang tua, atau mungkin ada yang membiarkan saja, seakan cuek, padahal seharusnya orang tuanya juga menegur anaknya. Suara petasan yang bersahutan sangat mengganggu kekhusukan shalat, ya mereka tidak kenal waktu, kita lagi shalat, anak-anak dan remaja asyik bermain petasan,” kesalnya.

Baca Juga :   Update Covid-19 Muba: Bertambah 1 Kasus Sembuh, 3 Positif, 1 Meninggal Dunia

Maraknya petasan ini terjadi hampir setiap kali bulan Ramadhan, sejak menjelang hingga setelah bulan ramadhan. Kebiasaan buruk seperti ini, tidak pernah hilang, lantaran penjualannya juga marak. Kondisi seperti ini, perlu juga perhatian aparat atau pihak terkait, untuk menekan peredaran petasan, sehingga tidak ada lagi yang memainkan petasan.

“Kalau tidak ada peredarannya, tentunya tidak akan ada lagi suara petasan, makanya pihak terkait perlu menertibkan penjualan petasan atau percon, terkecuali kembang api. Ya, kepolisian dan Pol PP bisa menggelar razia pedagang petasan, karena dengan maraknya pedagang petasan ini, marak pula suara petasan di tengah masyarakat,” paparnya.

Seorang Ibu Rumah Tangga, Ita yang enggan nama disebut juga mengatakan, peran orang tua untuk mengawasi anaknya sangatlah penting untuk menekan maraknya suara petasan, karena pada umumnya petasan ini anak-anak yang memainkannya. Setidaknya, orangtua tidak membelikan dan melarang anaknya membeli petasan.

“Kadang, orang tuanya yang salah, anaknya dibelikan petasan, atau sebaliknya anaknya mau beli petasan tidak dilarang. Kalau, banyak orang tua seperti ini, setiap penjuru pasti ada suara petasan,” ujarnya.

Baca Juga :   Kepsek SMA, SMK dan SLB se-Kabupaten Empat Lawang Lakukan Sertijab

Sementara itu, Kepala Dinas Satpol PP dan Linmas Kabupaten Empat Lawang, Chandra melalui Kabid Penegakan Perda, Arta Ujang mengaku saat ini pihak Satpol-PP belum bisa menertibkan para pedagang petasan di bumi Saling Keruani Sangi Kerawati.

“Kami sudah mengeluarkan surat edaran yang berisi larangan menjual petasan, kembang api, dan mainan bedil bambu. Karena itu mengganggu ketentraman dan ketertiban umum, Tetapi jika tidak diindahkan maka kita bersama intansi yang terkait akan bertindak,” tegasnya.

“Kita juga telah berkordinasi dengan intansi terkait tentang ketentraman selama bulan suci romadhan ini, untuk menindak tegas bagi yang tidak mengindahkan teguran dari pemerintah tersebut,” ujarnya. (foy)





Publisher : Awid Durrohman

Lihat Juga

5 Desa di OKI Sepakat Jadi Bagian Tim Mitigasi Cegah Konflik Gajah dan Manusia

Kayuagung, KoranSN Konflik satwa gajah dan manusia kerap terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel), khususnya di …

error: Content is protected !!