Kasus Penembakan Mobil Satu Keluarga Diminta Diusut Tuntas

KETERANGAN – Kapolda Sumsel, Irjend Pol Agung Budi Maryoto memberikan keterangan pers terkait kasus penembakan mobil satu keluarga di Lubuk Linggau yang mengakibatkan korban Surini tewas tertembak. (Foto-Dedy/Koransn)

Palembang, KoranSN

Penembakan mobil satu keluarga di Lubuk Linggau hingga mengakibatkan penumpangnya Surini (51) tewas, diminta pihak keluarga korban agar diusut tuntas oleh kepolisian terutama Polda Sumsel. Demikian dikatakan Andri (26), salah satu keluarga korban saat ditemui di IGD RSMH Palembang, Rabu (19/4/2017).

Menurut Andri, dirinya merupakan sepupu dari korban Indrayani (32), salah satu penumpang di dalam mobil yang ditembaki polisi di Lubuk Linggau hingga membuat kondisi Indrayani saat itu kritis.

“Usai kejadian tersebut kondisi Indrayani kritis makanya dia dirujuk ke RSMH Palembang ini. Namun, sejak dirawat di IGD, kondisinya sudah sadar tapi belum stabil. Atas kejadian tersebut, kami pihak keluarga korban tentunya meminta agar pihak kepolisian mengusut tuntas penembakan yang terjadi tersebut,” katanya.

Andri keluarga korban penembakan mobil satu keluarga saat berada di IGD RSMH Palembang. (Foto-Dedy/Koransn)

Diungkapkan Andri, saat penembakan terjadi mobil yang berisi 8 penumpang tersebut dari Curup Bengkulu hendak menghadiri acara sedekahan keluarga di Muara Beliti, Musi Rawas. Dari 8 penumpang tersebut enam penumpang terluka tembak dan satu penumpang bernama Surini (51), tewas tertembak.

“Semua orang di dalam mobil tersebut satu keluarga, yang merupakan anak dan cucu dari Surini, korban yang meninggal dunia usai tertembak. Selain Indrayani, juga ada lima korban lainnya yang terluka tembak namun mereka semua dirawat di Rumah Sakit Sobirin, Lubuk Linggau,” terangnya.

Lebih jauh dikatakan Andri, ia tidak bisa menceritakan kronologis penembakan yang terjadi. Hal tersebut dikarenakan saat kejadian ia tidak berada di dalam mobil yang ditembaki oleh polisi itu.

“Saya takut salah, karena tidak mengetahui kejadiannya. Sebab, saat kejadian saya di Muara Beliti di tempat keluarga yang sedang sedekahan. Saya mengetahui penembakan tersebut setelah pihak keluarga menerima telepon dari polisi yang mengkabarkan kejadian itu. Setelah menerima telpon, lalu kami langsung ke Rumah Sakit Sobirin melihat kondisi para korban. Tak lama kemudian, saya mendampingi korban Indrayani dibawa ke RSMH Palembang ini, sedangkan keluarga lainnya di Rumah Sakit Sobirin menemani lima korban yang dirawat disana,” paparnya.

Lanjut Andri, atas kejadian penembakan yang menimpa keluarganya tersebut saat ini pihak kepolisian sudah bertemu dan melakukan pembicaraan dengan pihak keluarga. Bahkan Kapolda Sumsel berjanji akan menuntaskan kasus tersebut.

“Ya, kami harapkan agar hal tersebut dilakukan, kasus ini diusut tuntas. Meskipun hingga kini biaya korban masih ditangung pihak keluarga,” tandasnya.

Ditempat yang sama, Koordinator dan Pelayan Pelanggan yang juga bagian Humas RSMH Palembang, Endang mengungkapkan, pihaknya tidak memperkenankan sejumlah media mendokumentasikan korban yang sedang diawat di ruang IGD. Hal tersebut dikarenakan pihak keluarga korban tak berkenan.

Baca Juga :   3 Pengedar Sabu Divonis 15 Tahun Penjara

“Keluarga pasien tidak mengizinkan untuk diambil gambar, sedangkan untuk kondisi pasien, kami tidak bisa menjelaskannya,” ujarnya singkat.

Diberitakan sebelumnya, Kapolres Lubuk Linggau, AKBP Hajat Mabrur Bujangga, Selasa (18/4) mengungkapkan, anggota yang diduga menembak mobil tersebut yakni, Brigadir ‘K’ yang kesehariannya bertugas di Sat Sabhara Polres Lubuk Linggau. Bahkan Polda Sumsel juga telah menurunkan tim untuk melakukan penyelidikan.

Lanjut Kapolres, penembakan dilakukan anggotanya lantaran saat kejadian, mobil itu menerobos razia yang sedang digelar sehingga membuat anggota di lapangan yang sedang bertugas curiga.

“Apalagi saat menerobos razia, mobil itu hendak menabrak anggota yang sedang razia. Bahkan saat akan dihentikan, mobil tersebut malahan tak berhenti sehingga anggota bertambah curiga dan melakukan pengejaran. Disaat pengejaran dilakukan inilah membuat Brigadir ‘K’, salah satu anggota yang ikut dalam razia menembak ke arah mobil itu. Usai ditembak, barulah mobil berhenti. Setelah dicek, ternyata ada seorang penumpang tertembak dan akhirnya penumpang itu meninggal dunia,” papar Kapolres.

Disinggung hasil dari pemeriksaan terhadap mobil tersebut apakah ditemukan barang yang mencurikan seperti narkoba? Dikatakan Kapolres, jika hasil pemeriksaan di dalam mobil tersebut tak ditemukan apa-apa.

Kapolda Akui Ada Pelanggaran SOP, Brigadir K Bisa Dipidanakan

KAPOLDA Sumsel, Irjend Pol Agung Budi Maryoto, Rabu (19/4/2017) mengakui adanya pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) yang diduga dilakukan Brigadir ‘K’ saat menghentikan mobil sedan yang ditembak di Lubuk Linggau. Dari itu apabila dari hasil pemeriksaan, Brigadir ‘K’ terbukti bersalalah, tentunya Brigadir ‘K’ bisa dikenakan pidana umum.

Dikatakan Kapolda, hal tersebut dikarenakan akibat tembakan dari Brigadir ‘K’ tersebut membuat seorang penumpang di dalam mobil meninggal dunia dan enam penumpang lainnya menderita luka tembak.

“Tim sudah saya turunkan memeriksa Brigadir ‘K’, kita tunggu hasil pemeriksaannya. Jika terbukti bersalah dan ada unsur pidananya maka Brigadir ‘K’, kita bawa ke Polda Sumsel untuk ditahan,” tegas Kapolda.

Diceritakan Kapolda, kejadian tersebut terjadi saat mobil sedan BG 1488 ON melintasi razia yang digelar Polres Lubuk Linggu di Jalan Lingkar Barat Kota Lubuk Linggau. Saat itu mobil tersebut menerobos razia bahkan hendak menabrak tiga anggota yang berada di lokasi. Melihat hal tersebut, petugas mengecek plat mobil tersebut ke Samsat dan ternyata nomor plat BG mobil tersebut tak terdaftar, sehingga ada lima anggota yang melakukan pengejaran.

“Lima polisi yang mengejar ini terdiri dari; Brigadir ‘K’ yang menumpangi mobil Sat Lantas dengan seorang sopir anggota Sat Lantas.    Sedangkan tiga anggota lainnya mengejar dengan sepeda motor. Ketika dikejar, mobil sedan tersebut terus melaju hingga salah satu sepeda motor tertinggal sementara dua sepeda motor lainnya bersama mobil Sat Lantas yang ditumpangi Brigadir ‘K’ terus melakukan pengejaran. Namun, saat di Jalan Yos Sudarso Lubuk Linggau, mobil sedan itu tersusul mobil yang ditumpangi Brigadir ‘K’ hingga terjadilah penembakan itu. Usai kejadian, barulah anggota lainnya yang tadinya mengendarai dua sepeda motor tiba di lokasi. Kemudian mobil sedan tersebut diperiksa, disaat itulah diketahui jika di dalam mobil berisi 8 penumpang yang salah satunya meninggal dunia usai tertembak,” papar Kapolda.

Baca Juga :   Jokowi Ganti 6 Menteri Kabinet Kerja

Masih dikatakan Kapolda, dari pemeriksaan Tim Polda Sumsel kepada Brigadir ‘K’ dan pemeriksaan terhadap 10 anggota kepolisian lainnya termasuk Kapolsek Timur I Lubuk Linggau yang saat razia berada di lokasi kejadian, diduga saat itu Brigadir ‘K’ menembak mobil tersebut mengira jika di dalam mobil adalah pelaku pencurian mobil. Hal itu dikarenakan, plat BG tersebut tak terdaftar di Samsat, kemudian saat dihentikan dan dilakukan tembakan peringatan namun pengemudinya tidak keluar dari dalam mobil tersebut sehingga membuat Brigadir ‘K’ menembak mobil itu.

“Dari lokasi ditemukan 7 selongsong peluru senjata api laras panjang jenis SS1 V2 yang dibawa Brigadir ‘K’. Meskipun dari pemeriksaan diketahui jika razia saat itu sesuai peraturan karena ada papan pengumuman razia serta dipimpin seorang perwira yakni, Kapolsek Timur I Kota Lubuk Linggau. Tapi, penembakan yang dilakukan Brigadir ‘K’ melanggar SOP. Sebab senjata api dengan peluru tajam yang dibawa saat razia hanya digunakan jika anggota sedang terancam. Namun, Brigadir ‘K’ menggunakannya tidak dalam ancaman, karena saat itu mobil tersebut hanya berhenti dan penumpangnya tidak keluar dari dalam mobil. Jadi, tidak ada ancaman,  dari itu Brigadir ‘K’ menyalahi SOP,” tegas Kapolda.

Selain itu, lanjut Kapolda, hasil dari pemeriksaan plat kendaraan BG 1488 ON di mobil sedan tersebut, diketahui ‘plat bodong’ alias palsu. Karena setelah dicek ternyata mobil sedan itu plat aslinya B asal Jakarta.

“Saat ini kita masih melakukan pemeriksaan terhadap STNK dan surat kepemilikan mobil. Sebab, dari pemeriksaan sementara mobil sedan tersebut aslinya berplat B milik salah satu yayasan di Jakarta. Dari itulah diduga sopir panik dan takut saat melihat petugas hingga mobil itu menerobos razia. Saat ini sopir yang membawa mobil itu terluka dan masih dirawat di rumah sakit makanya kita belum melakukan pemeriksaan, nanti setelah sopir tersebut sehat, baru kita periksa,” jelas Kapolda.

Disingung sanksi untuk Brigadir ‘K’ jika terbukti bersalah? Dikatakan Kapolda, untuk saksi tentunya masih menunggu hasil pemeriksaan dan sidang dulu.

“Kita tidak boleh mendahului persidangan dan hakim. Namun yang jelas, jika hasil pemeriksaan nantinya terbukti ada unsur pidananya maka saya sebagai Kapolda Sumsel akan mengajukan unsur pidana tersebut ke Jaksa, yang kemudian disidangan di pengadilan umum. Setelah itu, barulah dilakukan PTDH (Pemberhentian Dengaan Tidak Hormat). Sedangkan untuk biaya pengobatan para korban, semuanya akan ditangung oleh Bid Dokkes Polda Sumsel,” pungkas Kapolda. (ded)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

KPK Usut Dugaan Korupsi Pengadaan Mesin Giling PG Djatiroto

Lumajang, KoranSN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusut kasus dugaan korupsi pengadaan mesin giling di Pabrik …