Keindahan dari Ketinggian 1.145 mdpl

cughup bale

* Surga yang Tersimpan di Lahat

DARI ketinggian 1.145 mdpl (meter diatas permukaan laut) kami parkir kendaraan kami. Jalan menanjak yang baru saja kami lalui cukup menantang. Jalan tanah yang hanya diperkeras dengan batu cukup berbahaya dan beberapa kali sepeda motor kami sedkit oleng melintas batu-batu kerikil.

Namum dalam perjalanan menanjak ini kami sangat menikmati panorama alam. Di sebelah kiri kami membentang ngarai dan bukit hijau serta gumpalan awan putih yang menambah indahnya pemandangan alam.

Dari sebuah camp di mana kami memarkir sepeda motor, kami melanjutkan perjalanan kaki menembus hutan untuk melihat keindahan air terjun. Baru saja menempuh perjalanan kaki 200 meter jalanan mulai menurun. Kami harus menembus semak belukar dengan menyingkirkan ranting-ranting dihadapan kami. Tak ayal muka kami sering terkena ranting-ranting pohon. Jalanan terus menurun dengan kemiringan 45 derajat dan mengharuskan kami berjalan lebih hati-hati.

Aku sempat berhenti untuk melihat pohon pakis dengan ukuran besar yang tidak ditemukan di dataran rendah dan beberapa tanaman lain yang tidak aku ketahui namanya. Ada tanaman dengan buah bulat biru dan ada juga yang berbuah bulat putih yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

Jalanan bukan semakin baik akan tetapi bertambah parah. Aku sempat terjatuh karena menginjak pohon yang lapuk. Yah cukup banyak pohon-pohon besar yang telah tumbang dan lapuk termakan usia akan tetapi juga aku temukan pohon yang sengaja di tebang. Terlihat pohon tersebut di tebang dengan menggunakan alat potong dan lempengan kayu hasil potongan yang di tinggal begitu saja. Cukup miris melihat kondisi hutan yang di rambah oleh pembalak tanpa menghiraukan kelestarian alam.

Perjalanan seperti ini pernah kami alami ketika mengunjungi ayek kemughak atau sumber air panas di Pagar Gunung. Kami menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan menembus hutan lindung di Bukit Barisan untuk menikmati indahnya sumber air panas yang masih alami dan sungai dengan air yang sangat jernih.

Kami baru menempuh setengah perjalanan ke air terjun dan perjalanan berikutnya kami harus menuruni tebing dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Kami tambatkan tali di sebuah pohon dan dengan sangat hati-hati kami bergelantungan menuruni tebing dengan tangan memegang erat tali.     Dan berikutnya kami harus bergelantungan pada ranting-ranting pohon karena tali yang kami bawa hanya sepanjang 20 mtr. Jalanan masih terus menurun dan kami berhenti pada sebuah pohon besar dengan diameter sekitar 150 cm. Aku sempatkan untuk memotret pohon besar ini.

Baca Juga :   Pengelola Wisata Pelancu Dapat Bantuan Tempat Sampah

Dan selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menantang ini dengan merambat dinding tebing dengan bergelantungan pada akar-akar pohon. Tebing dengan kemiringan hampir 90 derajat harus kami turuni dengan super hati-hati. Dengan beban kamera dan tripod di punggungku, semakin berat beban menuruni tebing terjal ini.

Alhamdulillah perjalanan menantang menaklukan tebing telah selesai dan dihadapan kami terbentang sungai dengan air yang sangat jernih.  Dan perjalanan selanjutnya menyusuri aliran sungai menuju air terjun. Baru saja berjalan 100 mtr menyusuri aliran sungai dengan melompati bebatuan dan kami harus menyeberangi sungai karena perjalanan terhalang tebing sungai.

Kami menyeberangi sungai dengan bergantengan tangan agar tidak terbawa arus sungai yang cukup deras.

Beberapa kali kami harus menyusuri sungai dan menyeberanginya untuk dapat melihat keindahan air terjun. Dan tak jarang kami harus jatuh bangun. Terlihat dari perjalanan bahwa area ini sangat jarang dijamah manusia. Perjalanan menuju air terjun berupa hutan tropis dan tidak kami temukan perkebunan penduduk. Kami harus membuka jalan dengan menerobos semak belukar dan pepohonan besar serta menyusuri dan menyeberangi sungai untuk menuju air terjun.

Deru air bergemuruh menyambut kedatangan kami. Air keluar  dari celah tanah dari ketinggian sekitar 100 meter dan jatuh membentuk pusaran air yang sangat deras dan membentuk danau membentang. Dari jarak 100 mtr aku siapkan kameraku untuk mengabadikan keindahan air terjun ini. Bila aku mendekat maka kameraku akan terkena air dan basah. Maka air terjun ini merupakan salah satu air terjun tertinggi yang ada di kabupaten Lahat selain air terjun Lintang Kecil dan air terjun Gunung Nyawe.     Akan tetapi air terjun ini lebih deras dan lebih sulit untuk di jangkau serta masih sangat alami.

Air terjun dengan ketinggian sekitar 100 meter dan lebar 5 meter dengan airnya yang jernih dan deras dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai air terjun Bale. Terletak di antara desa Karang Endah dan desa Tunggul Bute kecamatan Kota Agung. Selain air terjun Bale pada aliran sungai ini bagian hulu ada air terjun Mendingin yang sudah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik untuk keperluan listrik desa Tunggul Bute. Dan pada bagian ilirnya terdapat air terjun Ujan Panas.

Baca Juga :   Keraton Kasepuhan Cirebon Ditutup

Untuk dapat menikmati ketiga air terjun tersebut dari kota Lahat menuju arah barat atau arah Pagaralam dan di pertigaan simpang asam kecamatan Tanjung Tebat belok kiri ke arah kecamatan Kota Agung. Dari Simpang Asam Tanjung Tebat menuju Kota Agung jalanan aspal hotmix dalam kondisi baik dan sepi kendaraan. Kita dapat memacu kendaraan. Setiba di desa Sukarame belok kanan. Jalan ini baru saja di aspal dari CSR sebuah perusahaan akan tetapi lebar jalan ini lebih kecil di banding jalan Simpang Asam – Kota Agung.

Jalan yang telah di aspal sampai desa Karang Endah dan terus ke arah Desa Bandar Pagaralam sedang jalan dari desa Karang Endah ke arah air terjun dan desa Tunggul Bute belum di aspal hanya dilakukan pengerasan dengan batu. Pengerasan dengan batu dilakukan dari CSR perusahaan. Kondisi ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya jalan tanah dan ketika musim hujan berlumur bahkan seperti kubangan kerbau dan tidak dapat dilalui kendaraan sama sekali.

Setelah melakukan perjalanan sejauh 3 km dari simpang tiga di desa Karang Endah belok kiri ke camp perusahaan geothermal dan dari sini melakukan perjalanan kaki sejauh 3,2 km. Jarak sejauh 3,2 km kami tempuh selama 2 jam perjalanan. Hal ini disebabkan oleh  kondisi jalan yang masih sangat alami dan belum pernah dijamah manusia,  belum lagi kondisi jalan yang sulit untuk dilalui.

Akan tetapi jauhnya perjalanan dan sulitnya medan perjalanan terbayar sudah dengan keindahan air terjun Bale. Dengan adanya tulisan ini agar masyarakat Lahat dan sekitarnya mengetahui dan berkeinginan untuk mengunjunginya. Dan juga dapat menjadi referensi pemerintah agar ke depannya air terjun ini menjadi salah satu destinasi wisata kabupaten Lahat. (Mario, traveler ke 200 kota wisata di 100 negara)

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

Kebun Raya Cibodas kembali Dibuka untuk Umum

Cianjur, KoranSN Kebun Raya Cibodas di Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, kembali dibuka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.