Kerjasama dengan Napi Edarkan Narkoba, Oknum Sipir Merah Mata Menangis Usai Tertangkap







Oknum sipir Lapas Merah Mata Palembang, Adiman alias Adi saat menangis di depan Kapolda Sumsel. (Foto-Ferdinand/KoranSN)

Palembang, KoranSN

Oknum sipir Lapas Merah Mata Palembang, Adiman alias Adi (36), Senin (6/8/2018) menangis terisak-isak di hadapan Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara usai tertangkap karena bekerjasama dengan seorang narapidana (Napi) mengedarkan narkoba jenis sabu di Kota Palembang.

Hal itu terungkap saat Kapolda menggelar ungkap kasus tersangka peredaran narkoba di Mapolda Sumsel.

Dikatakan tersangka Adiman, jika dirinya menyesal telah bekerjasama dengan tersangka Rizki yang merupakan Napi Lapas Merah Mata Palembang dalam mengedarkan narkoba.

“Sudah empat kali saya menjalankan permintaan Rizki untuk mengambil paket sabu di pinggir jalan lalu menjualkannya kepada para pembelinya. Saya mau karena mendapat upah dari Rizki, dimana setiap 1 ons sabu yang terjual, saya mendapat bagian Rp 5 juta. Saya menyesal, tolong jangan berhentikan saya dari pekerjaan sebagai sipir, sebab dua anak saya masih kecil,” katanya sembari menangis tersedu-sedu di hadapan Kapolda.

Sedangkan tersangka Rizki mengakui perbuatannya. Dimana dalam kasus ini, awalnya dirinya memesan narkoba dari bandar narkoba yang berada di Aceh melalui handphone (HP).

“Sabu itu semuanya dari Aceh, saya yang memesannya dari dalam Lapas menggunakan HP. Setelah dipesan, lalu paket sabu dikirimkan oleh seseorang ke Palembang. Ketika paket tersebut tiba di Palembang, barulah saya menyuruh Adiman alias Adi (oknum sipir) mengambilnya di pinggir jalan, setelah itu Adiman juga yang memasarkannya,” ungkap tersangka.

Sementara Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara, mengatakan, dalam kasus ini awalnya petugas meringkus tersangka Adiman yang merupakan oknum sipir Lapas Merah Mata di kawasan Tanjung Api-Api. Dari penangkapan tersangka, diamankan barang bukti; paket sabu seberat 209, 59 gram dan uang hasil menjual narkoba sebesar Rp 120 juta.

Baca Juga :   Kejati Terima 11 SPDP Kasus Karhutla di Sumsel

“Kemudian polisi melakukan pengembangan hingga ditangkap seorang Napi di Lapas Merah Mata Palembang bernama Rizki. Dalam kasus ini tersangka Rizki selaku pengendali peredaran narkoba dari dalam Lapas, sementara tersangka Adiman selaku oknum sipir yang berperan mengambil narkoba yang dikirimkan dari Aceh lalu mengedarkannya,” ujar Kapolda.

Lebih jauh dikatakan Kapolda, dalam kasus ini untuk tersangka Rizki dijerat dengan UU TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang). Sebab, uang hasil mengendalikan peredaran narkoba dari dalam Lapas digunakan tersangka untuk membeli rumah, mobil dan sepeda motor.

“Dari itulah aset kekayaan tersangka Rizki tersebut kami lakukan penyitaan. Jadi dalam kasus ini, selain dijerat UU RI No. 35 Tahun 2009 tersangka Rizki juga kami jerat dengan TPPU,” tegas Kapolda.

Menurut Kapolda, bukan hanya kedua tersangka saja yang ditangkap pihak kepolisian Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel. Dari hasil pengembangan penyelidikan, pihak kepolisian juga menangkap Herman Gani (55) yang merupakan narapidana (Napi) di Lapas Merah Mata Palembang.

“Selain itu, anggota juga menangkap dua anaknya yakni Nabila Ufani (20) dan Idham (28), dimana dalam kasus ini kedua tersangka ini berperan memasarkan narkoba yang dipesan oleh Napi Herman Gani yang juga dari bandar narkoba yang berada di Aceh,” tandas Kapolda.

Baca Juga :   SKPD dan Pejabat Banyuasin Akan Diperiksa KPK

Terpisah, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenkumham Sumsel, Sudirman D Huri mengatakan, jika tidak ada kompromi bagi satu oknum sipir dan Napi Lapas Merah Mata Palembang yang telah ditangkap Polda Sumsel dalam kasus peredaran narkoba.

“Untuk oknum sipir jelas kami tindak tegas. Saat ini oknum tersebut baru diberhentikan sementara, namun jika nanti sudah dituntut jaksa 5 tahun di persidangan maka oknum tersebut saya berhentikan secara permanen dari PNS.
Jadi, saya tegaskan kepada jajaran saya baik sipir, Kapala Rutan dan Kepala Lapas untuk jangan pernah main-main dengan narkoba. Sebab, narkoba ini merupakan musuh bangsa. Dan saya marah betul dengan adanya petugas saya yang terlibat dalam kasus ini,” tegasnya.

Diakui Sudirman, memang hingga kini masih ada Napi yang menggunakan handphone (HP) di dalam Lapas meskipun pihaknya selalu melakukan razia.

“Hal ini terjadi karena para Napi ini kan mafia-mafia yang teruji, mereka melakukan segala cara agar dapat membawa masuk handphone ke dalam Lapas. Razia terus kami lakukan, namun masih saja terjadi dan terjadi lagi. Bahkan semua sipir dan petugas di Lapas dan Rutan sudah saya peringatkan dengan keras agar jangan ada yang menyewakan HP, ataupun meloloskan HP masuk ke dalam Lapas dan Rutan. Jika tertangkap, maka petugas tersebut saya berikan sanksi terberat. Selain itu, untuk antisipasi agar kedepan Napi tidak menggunakan HP maka saat ini kami sedang mengajukan ke pusat untuk memasang alat pengacau sinyal di Lapas Merah Mata Palembang dan Lapas Serong Banyuasin. Jika alat ini terpasang, tentunya di Lapas tersebut tidak akan ada sinyal HP lagi,” pungkasnya. (ded)







Publisher : Apriandi

Lihat Juga

Lansia yang Tenggelam di Sungai Ogan Ditemukan Meninggal Dunia

Palembang, KoranSN Tim SAR gabungan berhasil menemukan seorang Lansia bernama Maleha (70) yang sebelumnya tenggelam …

error: Content is protected !!