Ketut Gubah: ‘Banyu Pinaruh” Untuk Pembersihan Diri





Hari Raya “Banyu Pinaruh” yang merupakan hari raya umat Hindu yang jatuh pada Redite Pahing Wuku Sinta (12/5/2019) di Pura Kahyangan Jagat Watu Klotok di Banjar Celepik, Tojan, Klungkung. (foto-antaranews)

Jro Mangku Ketut Gubah menyatakan esensi ritual “Banyu Pinaruh” yang merupakan salah satu hari raya umat Hindu yang jatuh pada Redite Pahing Wuku Sinta (12/5/2019) adalah untuk penyucian dan pembersihan diri agar mala (kotoran) dapat melebur dengan melukat atau lekat di pantai.

“Sesampainya di jero (rumah) masing-masing, para pemedek () juga melukat dengan kumkuman,” kata Jro Mangku Ketut Gubah saat melukat di Pura Kahyangan Jagat Watu Klotok di Banjar Celepik, Tojan, Klungkung, Minggu (12/5/2019), dilansir dari Antara.

Hari Raya Banyu Pinaruh dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Saraswati, yaitu turunnya Ilmu Pengetahuan dari Dewi Saraswati. Banyu artinya air, pinaruh sama dengan kaweruh atau pengetahan. Selain di Pura Kahyangan Jagat Watu Klotok, kegiatan ritual juga dilaksanakan di jalur By-pass Tohpati-Kusamba (By-pass IB Mantra).

Baca Juga :   Manggarai Barat Bentuk 17 Kelompok Sadar Wisata

Menurut Jro Mangku Ketut Gubah, pemedek yang berdatangan ke Pura Watu Klotok umumnya berasal dari berbagai kabupaten di Bali. Pura Watu Klotok yang juga berdampingan dengan pantai Watu Klotok menjadi tujuan dari para pemedek setiap rentetan hari raya, dari Hari Raya Saraswati, Banyu Pinaruh hingga Pagerwesi.

“Banyu pinaruh yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali ini mengandung pengertian dari Bahasa Jawa Kuno, yakni kata banyu sarat artinya air (kehidupan), dan pinaruh yang berasal dari kata weruh artinya pengetahuan. Dalam etimologinya, terdapat ajaran Dewi Saraswati berawal dari dua sekte yaitu Brahmanisme dan Sekte Devi,” katanya.

Dari sembilan Devi yang paling kuat adalah pemuja Dewi Gangga, karena itu para pemedek yang datang ke pantai memiliki tujuan untuk memuja Dewi Gangga. Hal ini diartikan bahwa ilmu itu mengalir bagaikan air sehingga menghilangkan kekotoran dan kebodohan, seperti pula Bagai Api Mengusir Gelap.

Proses yang dilakukan saat Banyu Pinaruh, adalah melaksanakan penglukatan di beberapa tempat sumber mata air, seperti pantai, klebutan, campuhan dan sumber mata air lainnya. Penglukatan bisa dilakukan sendiri ataupun dapat dipandu oleh Pinandita (pemangku setempat).

Baca Juga :   Pemkab Halmahera Barat Fokus Benahi Infrastruktur Wisata

Sebelum menuju ke tempat penglukatan, ada baiknya untuk membawa perlengkapan sembahyang, seperti canang sari, dupa, sesari atau juga menghaturkan pejati sebagai bentuk permakluman (atur piuning) dalam memohon air suci tersebut.

“Setiap Hari Raya Banyu Pinaruh, saya selalu ke Pantai Klotok tanpa pernah absen, sama teman-teman sekaa truna truni, dan setelah melukat pun rasanya segar kembali,” ujar Komang Sri Devi Handayani, pemedek asal Desa Kemoning, Klungkung.

Ia juga menuturkan bahwa hari raya Banyu Pinaruh ini juga masih ada hubungannya dengan Hari Raya Saraswati yang mana semua umat Hindu bersiap untuk menerima pengetahuan baru. Namun, sebelumnya wajib melalui proses membersihkan diri dengan melukat. (ags)





Publisher : Awid Durrohman

Lihat Juga

Dispar Lombok Barat Siapkan 20 Desa Wisata Ikut ADWI Kemenparekraf

Lombok Barat, KoranSN Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat menyiapkan 20 desa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!