Kota Palembang Jadi Target Peredaran Narkoba

Ilustrasi. (foto-net)

Palembang, KoranSN

Kota Palembang tampaknya sudah menjadi target para jaringan pengedar narkoba mencanegara untuk menjual narkoba. Hal itu terungkap dari kasus penyelundupan 2 Kg sabu asal Malaysia yang dibawa dari Pekan Baru Riau ke Palembang, dan berhasil diungkap jajaran Direktorat Reserse Nakorba Polda Sumsel.

Dari pengungkapkan kasus ini, polisi mengamankan tiga orang tersangka, mereka yakni; tersangka Marlina alias Mar (42) dan tersangka Rahian Anaila alias Rai (27), yang keduanya warga Kota Batam Provinsi Riau, serta tersangka Afrydo Kurniawan alias Edo (38), warga Palembang.

Ketiga tersangka tersebut ditangkap, Sabtu (11/11/2017) sekitar pukul 10.00 WIB di pinggir Jalan Palembang-Jambi, tepatnya di Simpang Betung Kabupaten Banyuasin.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adi Negara, Senin (13/112017) mengatakan, penangkapan ketiga tersangka bermula dari anggota kepolisian mendapatkan informasi dari masyarakat yang kemudian dilakukan penyelidikan. Hasilnya, tiga tersangka dengan barang bukti 2 Kg sabu yang dibungkus kemasan tes berhasil diungkap.

Menurut Kapolda, dalam kasus ini tersangka Marlina alias Mar dan tersangka Rahian Anaila alias Rai berperan membawa sabu dari Pekan Baru Riau menuju Kota Palembang dengan menumpangi bus. Setelah tiba di Simpang Betung, kemudian kedua tersangka yang merupakan perempuan ini turun dari bus lalu dijemput oleh tersangka Afrydo Kurniawan alias Edo. Disaat itulah, anggota langsung melakukan penyergapan dan penangkapan.

“Dari hasil penyelidikan dan pemeriksaan kepada ketiga tersangka, diketahui jika 2 Kg sabu itu hendak diedarkan di wilayah Kota Palembang. Sabu tersebut awalnya dari Malaysia yang kemudian diselundupkan melalui Pantai Timur ke Pekan Baru Riau, setelah itu barulah sabu ini dibawa ke Palembang.

Baca Juga :   Beli Peralatan Motor di Cinde, Rio Dianiaya Pakai Kayu Gelam

Dengan demikan, Palembang sudah menjadi sasaran para jaringan pengedar narkoba. Bukan hanya itu, kota lainnya seperti Lampung, Bengkulu, Jambi dan Jakarta juga dijadikan jaringan pengedar narkoba untuk mendistribusikan narkoba,” ungkapnya.

Masih dikatakan Kapolda, dalam mengungkap bandar besarnya memang pihaknya mengalami kesulitan, lantaran para tersangka kasus narkoba yang tertangkap selalu bungkam.

“Jika tertangkap, para tersangka ini selalu mengaku satu kali, lalu saat ditanya siapa yang merintahkan mereka dan siapa pemilik sabu, lagi-lagi mereka diam. Sehingga pengembangan penyelidikannya terputus. Memang jaringan narkoba ini sangat rapi. Meskipun demikian, saya dan jajaran berkomitmen jika pengedar dan bandar narkoba akan kami sikat habis, dan ini betul-betul menjadi perhatian saya selaku Kapolda Sumsel,” tegasnya.

Lanjut Kapolda, dalam membasmi peredaran narkoba harus dilakukan dengan tegas. Sebab, narkoba sangat merusak para generasi bangsa, untuk itulah pemerintah terus memerangi narkoba.

“Selain itu, kami juga berharap partisipasi masayarakat untuk menginformasikan apabila ada warga yang melihat atau mengetahui keberadaan pengedar maupun bandar narkoba,” tandasnya.

Sementara tersangka Marlina alias Mar enggan berkomentar banyak saat diwawancari sejumlah wartawan. Tersangka hanya menunduk dengan mengungkapkan jika dirinya baru pertama kali ini menjadi kurir sabu.

“Baru satu kali ini saya menjadi pengantar sabu,” ucapnya singkat.
Sedangkan tersangka Rahian Anaila alias Rai mengutarakan, jika dirinya diajak oleh tersangka Marlina alias Mar ke Palembang untuk mengantarkan barang.

Baca Juga :   Bandara dan Kantor Pos Dominasi Masuknya Barang Ilegal, Rugikan Negara Rp 1,2 Miliar

“Saya tidak tahu kalau barang itu adalah sabu. Sebab, katanya hanya mengantarkan barang saja. Saya mau ikut ke Palembang, karena dijanjikan uang Rp 10 juta oleh orang yang menyuruh kami. Namun, saya tidak kenal dengan orang itu bahkan selama ini kami hanya berkomukasi melalui handphone saja,” jelasnya.

Masih dikatakannya, jika yang mendorongnya ikut ke Palembang lantaran dirinya sedang butuh uang untuk biaya operasi anaknya.

“Saya sudah pisah dengan suami saya. Anak saya satu dan kini ikut dengan saya. Karena anak saya saat ini sakit usai kecelakaan makanya saya butuh uang untuk biaya operasi anak saya tersebut,” ungkapnya.

Kemudian tersangka Afrydo Kurniawan alias Edo mengaku jika dirinya hanya berperan menjemput kedua tersangka di Simpang Betung dengan menggunakan mobil pribadinya.

“Saya hanya disuruh menjemput mereka saja,” ujarnya.

Namun saat disinggung siapa orang yang menyuruhnya, tersangka Afrydo Kurniawan alias Edo hanya diam dan menunduk. (ded)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Benih Lobster Jadi “Tsunami” Politik Prabowo dan Jokowi

Jakarta, KoranSN Sepulang dari perjalanan dinasnya di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, Menteri Kelautan dan Perikanan …