KPK Dalami Dugaan Keterlibatan Robby Sandes, Kasus OTT Bupati Banyuasin Yan Anton



Palembang, SN

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendalami pemberian uang Rp 1 miliar yang diduga diterima Kabag Humas dan Protokol Pemkab Banyuasin, Robby Sandes. Demikian dikatakan Jaksa Penutut Umum (JPU) KPK, Feby Dwiyandospendy, kemarin.

Menurut Feby, pendalaman dugaan keterlibatan Robby Sandes dalam kasus OTT Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian, karena dari keterangan saksi mantan Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Banyuasin, Merki Bakri yang telah dihadirkan menjadi saksi terdakwa Zulfikar Muharrami (Direktur CV Putra Pratama) di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kelas I A Palembang, diketahui jika tahun 2013, Robby Sandes diduga menerima uang Rp 1 miliar yang uangnya diserahkan Merki Bakri untuk kepentingan Bupati Banyuasin.

“Saat Merki Bakri dihadirkan menjadi saksi terdakwa Zulfikar Muharrami. Di persidangan, Merki mengungkapkan jika tahun 2013, Sekda Banyuasin, Firmansyah meminta kepada Merki agar mencarikan uang Rp 3 miliar untuk Yan Anton dan ternyata dari Rp 3 miliar itu, Merki hanya dapat memberikan uang Rp 1 miliar yang diduga uangnya dari terdakwa Zulfikar Muharrami. Dikarenakan uang hanya Rp 1 miliar, maka Sekda memerintahkan Robby Sandes menerima uang dari Mekri Bakri tersebut. Untuk itulah, saat ini kita masih mendalami dugaan keterlibatan Robby Sandes,” ungkap Feby.

Lebih jauh diungkapkan Feby, jika pemberian uang tersebut diberikan Mekri kepada Robby Sandes di salah satu kamar di hotel yang berada di kawasan Jalan Dr M Isa Palembang.

“Ketika itu, di kamar hotel selain ada Sekda dan Robby Sandes, diduga juga ada Yan Anton dan ayahnya Amiruddin Inoed. Karena pemberian uang terjadi di tahun 2013 dimana Yan Anton Ferdian belum menjadi bupati sebab masih tahap pencalonan. Dari itu, uang Rp 1 miliar tersebut, diduga digunakan untuk kepentingan pencalon Yan Anton dalam Pilkada,” jelas Feby.

Disinggung apakah dalam dugaan kasus ini akan ada tersangka baru termasuk dari pihak-pihak yang rumahnya telah digeledah KPK?     Dikatakan Feby, untuk penetapan dugaan tersangka baru dalam perkara ini bisa saja terjadi, namun hal tersebut masih menunggu hasil pengembangan penyelidikan yang dilakukan KPK.

“Jadi, untuk tersangka baru dalam dugaan kasus ini, kita tunggu pengembangannya dulu. Apalagi, semua hasil dari persidangan terdakwa Zulfikar Muharrami di PN Tipikor Kelas I A Palembang ini, selalu kita berikan ke penyidik KPK sebagai masukan dalam melakukan pengembangan,” ujarnya.

Baca Juga :   Dua Konter HP di Prabumulih Dibongkar Maling

Lanjut Feby, bahkan dalam perkara terdakwa Zulfikar Muharrami, pihaknya selaku JPU KPK akan menghadirkan Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian untuk menjadi saksi terdakwa Zulfikar.

“Tersangka Yan Anton, Rustami alias Darus (Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Setda Banyuasin) dan Kriman (pihak swasta), ketiganya saat ini masih ditahan di KPK. Tapi akhir Desember 2016 ini, tahanan ketiganya dipindahkan KPK ke Rutan Pakjo Palembang dalam rangka persidangan di Palembang. Dari itulah, dalam sidang lanjutan terdakwa Zulfikar pada 12 Januari 2017 mendatang. Kita hadirkan Yan Anton, Rustami dan Kriman menjadi saksi Zulfikar. Sedangkan untuk sidang perkara Yan Anton dan lima tersangka lainnya, akan dimulai sekitar awal Januari 2017,” tutup Feby.

Sementara Kabag Humas dan Protokol Pemkab Banyuasin, Robby Sandes saat dimintai tanggapan dan koonfirmasi terkait hal tersebut melalui handphone (HP) pribadinya, berkali-kali dihubungi, Robby Sandes tak mengangkat telepon.

Diberitakan sebelumnya, mantan Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Banyuasin, Merki Bakri saat menjadi saksi terdakwa Zulfikar Muharrami di persidangan mengatakan, jika pemberian uang Rp 1 miliar yang diterima Kabag Humas dan Protokol Pemkab Banyuasin, Robby Sandes berawal adanya pertemuan di Asrama Haji, pada sekitar April 2013.

Diungkapkan Mekri, saat itu di lokasi ia bertemu Sekda Firmansyah yang kemudian memangilnya seorang diri hingga terjadi pembicaraan antara ia dan Sekda. Dimana dalam pertemuan itu, Sekda menyampaikan permintaan uang Rp 3 miliar untuk keperluan Yan Anton.

“Lalu, saya menelpon Sutaryo (tersangka berkas terpisah). Keseokan harinya, Sutaryo menyampaikan jika dana yang terkumpul hanya Rp 1 miliar. Kemudian saya ke hotel, yang berada di Jalan
Dr M Isa Palembang. Setiba di hotel saya menuju salah satu kamar yang di dalamnya ada; Bupati Yan Anton, Sekda Firmansyah dan Robby Sandes. Nah saat itulah, saya sampaikan ke Sekda kalau untuk uang Rp 3 miliar tidak ada, yang ada hanya Rp 1 miliar. Kemudian Sekda memerintahkan Robby Sandes menerima uang Rp 1 miliar yang saya serahkan tersebut,” ungkap Merki Bakri saat persidangan, Rabu 7 Desember 2016.

Baca Juga :   Kecanduan Sabu, Ibu Tega Jual Anak Kandung

Sambung Mekri, jika dirinya tidak mengetahui untuk asal uang Rp 1 miliar tersebut. Sebab yang mengumpulkan uang tersebut yakni, Sutaryo.

“Saya hanya memberikan uang itu saja, kalau yang mencarikan uangnya Sutaryo. Hal ini dikarenakan, selain Kasi di Dinas Pendidikan Banyuasin, Sutaryo juga merupakan orang kepercayaan Yan Anton Ferdian. Selain itu dia juga anggota Unit Layanan Pengadaan (ULP). Untuk itu, Sutaryo diduga bisa memenangkan kontaktor atau pemborong dalam proyek-proyek di Banyuasin. Dari itu Sutaryo banyak kenal kontaktor termasuk terdakwa Zulfikar,” papar di muka persidangan.

Diketahui, dugaan kasus suap penganggaran dan pelaksanaan proyek pengadaan barang dan jasa di dinas pendidikan dan dinas-dinas lainnya di Pemkab Banyuasin ini terungkap, setelah Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian, Minggu 4 September 2016 tertangkap KPK dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) di rumah dinas Bupati Banyuasin.

Dalam OTT tersebut KPK juga mengamankan barang bukti uang Rp 299,8 juta dan uang Dolar Amerika senilai 11.200 USD.

Usai dilakukan OTT, KPK menetapkan Bupati Yan Anton Ferdian sebagai tersangka. Selain Yan Anton, dalam perkara ini KPK juga menetapkan lima tersangka lainnya, mereka yakni; Umar Usman (Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin), Sutaryo (Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin), Rustami (Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuasin), Zulfikar Muharrami serta Kirman (pihak swasta).

Untuk Zulfikar Muharrami saat ini telah menjadi terdakwa dan sedang menjalani proses persidangan di PN Tipikor Kelas I A Palembang. Sedangkan dua tersangka lainnya; Umar Usman dan Sutaryo, tahanan keduanya telah dipidahkan KPK ke Rutan Kelas I A Pakjo Palembang dalam rangka persiapan persidangan. Sementara Bupati Yan Anton Ferdian, Rustami dan Kirman, dalam waktu dekat penahanan ketiganya juga akan dipindahkan KPK ke Rutan Pakjo Palembang. (ded)

Publisher : Ferdin Ferdin

Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

10 Anggota DPRD Muara Enim Tersangka Dugaan Suap Proyek dan Pengesahan APBD 2019 Segera Disidangkan

Palembang, KoranSN 10 anggota DPRD Muara Enim tersangka dugaan suap proyek pengadaan barang jasa serta …