Melihat Instalasi Seni di Tengah Gurun dan Situs Terbesar di Doha









Saat anda memasuki pintu utama benteng, anda akan melihat pijakan lantai benteng yang dipenuhi kerang-kerang kecil, yang berfungsi sebagai penghantar dingin di tengah cuaca Qatar yang panas. Selain itu, seluruh dinding dari Al Zubarah Fort juga di desain menggunakan campuran tanah liat, batu dan kerang sehingga tembok terasa dingin saat dipegang dan bisa menciptakan udara yang dingin di sekitar benteng.
Selain itu, pijakan dari kerang tersebut juga dijadikan sebagai pertanda ada seseorang yang masuk sehingga bisa terdengar oleh para tentara dari dalam benteng karena suaranya cukup berisik.
Di sekeliling tembok benteng Al Zubarah juga memiliki lubang-lubang kecil yang memiliki arah pandang yang berbeda-beda, sehingga para tentara pada waktu itu bisa mengintai musuh dari segala penjuru.
Juga terdapat saluran pipa air hujan yang mengarah ke dalam benteng, sehingga air tersebut dapat tersaring melalui batu-batu dan dapat diminum, mengingat air sekitar benteng tersebut lebih asin karena dekat dengan laut.
Air yang ditampung juga akan terkumpul di sumur yang ada di dalam benteng, untuk dipakai para tentara hidup sehari-hari.
Selain mengunjungi Al Zubarah Fort, pengunjung juga dapat akses bus gratis yang bisa mengantarkan ke situs arkeologi yang cukup dekat dari lokasi benteng. Situs ini memiliki jam operasional Sabtu-Kamis jam 09:00-17:00 dan Jumat jam 12:30-17:00 waktu setempat.
Al Zubarah adalah situs warisan arkeologi terbesar di Qatar. Kota ini dinobatkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO pada tahun 2013 dan merupakan contoh kota perdagangan dan perikanan mutiara abad ke18 sampai ke19 yang paling terpelihara di kawasan Teluk.
Berbeda dengan kota-kota sezamannya, kota ini sebagian besar masih utuh dan belum hilang ditelan kota-kota modern yang luas di kawasan ini.
Situs yang terletak sekitar 100 km barat laut Doha ini membentang 2,5 km dari Benteng Al Zubarah hingga pesisir pantai. Didirikan pada pertengahan abad kedelapan belas, kota ini berkembang menjadi pemukiman terbesar dan terpenting di negara tersebut.
Keberhasilannya menarik perhatian negara-negara Teluk lainnya, dan setelah beberapa serangan, kota ini dibakar habis pada tahun 1811. Pada dekade pertama abad ke-20, kota ini ditinggalkan. Saat ini, situs tersebut mencakup area seluas 60 hektar dengan sisa-sisa rumah, masajid (masjid), madabis (pencetak kurma), bangunan berbenteng besar, dan pasar.(Antara/ded)

Publisher : Apriandi

Lihat Juga

Mitsubishi Ungkap 7 Fitur Xforce Dukung Perjalanan Mudik Lebaran

Jakarta, KoranSN PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) sebagai agen pemegang merek kendaraan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!