Mengapa Teroris Terus Ada?

Ilustrasi. (foto-net)

KALAU kita perhatikan dan amati, bahaya teroris terus ada di Bumi Pertiwi ini. Ini ditandai dengan tak hentinya aparat keamanan menggerebek tempat persembunyian kelompok ini. Walaupun banyak juga yang menyatakan ini pengalihan isu, nyatanya teroris memang menjadi ancaman di Negeri ini.

Memang Negeri ini masih terus dibayangi aksi teror yang mengancam banyak jiwa. Ya, aksi terorisme saat ini sudah menjadi kejahatan terhadap kemanusiaan yang luar biasa.

Paham ini telah ada dan tak akan pernah mati, karena dalam masalah ada pemahaman dan pemaksaan ideologi tertentu yang dilakukan secara perlahan dalam waktu yang lama dan dari masa ke masa.

Dapat dikatakan faktor yang melatarbelakangi munculnya teroris, khususnya di dalam negeri karena peyebaran ideologi yang sangat bertentangan dengan ajaran agama manapun. Karena itu peyebaran ideologi itu harus dilawan, kalau tidak maka bahaya laten teroris akan terus mengancam kehidupan manusia.

Baca Juga :   Pesatnya Pembangunan Tak Diiringi dengan Kesadaran

Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York,Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai´September Kelabu, yang memakan 3000 korban.

Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur, melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat.

Tiga pesawat komersil milik Amerika Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke Menara Kembar Twin Towers World Trade Center dan gedung Pentagon.

Kita harapkan iklim aman yang terjaga akan terus ada sampai akhir tahun 2017 ini. Karena untuk kita camkan aksi terorisme jelas sangat merugikan. Apalagi pengalaman menunjukkan, banyak jiwa dan nyawa tak berdosa turut menjadi korban.

Mulanya terorisme di Indonesia dimulai tahun 2000 dengan terjadinya Bom Bursa Efek Jakarta, diikuti dengan empat serangan besar lainnya, dan yang paling mematikan adalah Bom Bali 2002. Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada dan ikut melapor bila ada kecurigaan terhadap aksi teror.

Baca Juga :   UU Cipta Kerja: Surga atau Fatamorgana?

Masyarakat harus dilibatkan untuk menghalau dan mencegah aksi teror sejak dini. Sinergi masyarakat dengan komunitas dan aparat di daerah, Polda, serta Kodam dari Babinmas sampai Babinkamtibnas diperlukan agar aksi terorisme tidak terulang kembali dan bisa dideteksi. (Agus Harizal Alwie Tjikmat)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

COVID-19 Masih Memerlukan Perhatian yang Tinggi

  DI penghujung tahun 2020, permasalahan COVID-19 masih memerlukan perhatian yang tinggi, walaupun secara umum …