Murid SD Embacang Lama Bertahun-tahun Berangkat Sekolah Gunakan Rakit









Siswa SDN Embacang Lama lokal jauh berangkat ke sekolah menggunakan rakit bambu. (Foto-Sunardi/Koransn)

Muratara, KoranSN

Lantaran tidak ada akses lain untuk melintasi Sungai Minak dari Dusun Napal Maling ke Dusun Tebing Tinggi Desa Embacang Lama, Kecamatan Karang Kaya. Bertahun-tahun sejumlah murid SD Negeri Embacang Lama Lokal Jauh berangkat ke sekolah terpaksa menggunakan rakit bambu.

Kepala Dinas Pendidikan, (Disdik) Kabupaten Muratara, Abdul Rahman Wahid melalui Kepala Bagian (Kabid) GTK, Barbara Derby Shinta, mengatakan pihaknya sudah melakukan peninjauan dan memang belum adanya akses jembatan untuk keseberang. Memang kondisi ini membuat belasan murid kelas jauh SD Negeri Embacang harus mengunakan rakit untuk dapat menuju ke sekolah.

Baca Juga :   Ponpes Mitra Pemerintah Dalam Ilmu Agama

“Ya setiap hari mereka gunakan perahu rakit yang terbuat dari bambu untuk dapat menuju kesekolah, karena belum adanya jembatan penyebrang,” kata Barbara, Rabu (25/10/2017).

Di Embacang Lama ini menurut dia terdapat dua kelas jauh yakni kelas jauh Tebing Tinggi dan kelas jauh Napal Maling keduanya harus ditempuh melalui jalur air. Kalaupun harus ditempuh menggunakan jalur darat kondisinya cukup jauh selain jalannya curam.

“Artinya kita tidak bisa menggunakan kendaraan roda dua selain jalan kaki. Setiap hari guru yang ada di SD tersebut harus jalan kaki selama satu jam menuju kesekolah,” jelasnya.

Dalam mempermudah akses murid dan guru menurut dia, Kepala SD Negeri Embacang telah mengajukan proposal pengajuan untuk pembangunan jembatan gantung. “Mudah-mudahan apa yang menjadi harapan pihak sekolah dapat dikabulkan, bahkan baru-baru ini pihak sekolah mendapatkan bantuan satu unit ketek dari Donatur Insan Bumi Mandiri sebagai sarana tansportasi mereka,” bebernya.

Baca Juga :   Cabor ESport Nambah Deretan Binaan KONI OKI

Sementara, KZ, salah satu siswa mengaku menaiki rakit bambu adalah hal yang biasa dan asik karena dijadikan tempat bermain mereka jika pulang dan pergi dari sekolah. Tapi dengan penuh harapannya juga jembatan gantung segera dibangun supaya tidak takut lagi pakaian dibuka dan basah.

“Yo galak lah kak jika ado jembatan gantung. Jadi kami tidak khawatir saat berangkat dan pulang sekolah. Apalagi sungai minak meluap,sangat susah untuk diseberangi,” pungkasnya. (snd)











Publisher : Apriandi

Lihat Juga

550 Paket Sedekah ASN OKI untuk Kaum Dhuafa

Kayuagung, KoranSN Sebanyak 550 paket bahan pokok hasil dari pengumpulan sedekah ASN di Kabupaten OKI …

error: Content is protected !!