Oknum Polisi Pungli Penerimaan Polri Terancam Dipecat

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian saat memberikan keterangan pers di Mapolda Sumsel. (Foto-Dedy/Koransn.com)

Palembang KoranSN

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Jumat (28/4) menegaskan, oknum anggota polisi Polda Sumsel yang ditangkap dalam dugaan kasus pungli penerimaan anggota Polri Polda Sumsel tahun 2016 terancam dipecat.

Hal itu dikatakan Kapolri usai melauncing aplikasi Polisi Wong Kito dan memimpin apel pasukan penanggulangan kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) di Mapolda Sumsel.

Dikatakan Kapolri, dirinya mengapresiasi Kapolda Sumsel yang telah berhasil mengungkap mafia penerimaan anggota polisi di Polda Sumsel. Dimana pengungkapan kasus tersebut tak lain untuk memperbaiki SDM anggota kepolisian kedepannya.

“Ada 15 oknum petugas yang ditangkap terkait dugaan pungli tersebut. Saat ini semuanya sedang diproses untuk melengkapi berkas sidang kode etiknya. Saya tegaskan jika kami tak segan-segan memecat para oknum tersebut. Tapi dalam prosesnya, kita harus lakukan sidang kode etik dulu,” ungkap Kapolri.

Masih dikatakan Kapolri, untuk proses sanksi 15 oknum petugas tersebut, saat ini masih dalam proses melengkapi berkas perkara, setelah lengkap barulah digelar sidang kode etiknya.

“Mereka kita proses internal dulu, bahkan kita sudah memindahkan tugas para oknum tersebut, semuanya dinonjobkan. Dengan terungkapnya kasus tersebut kedepan saya harapkan jangan ada lagi mafia rekrutmen di jajaran Polri,” ungkapnya.

Baca Juga :   Prajurit Kodam II Sriwijaya Gotong Royong Perbaiki Kursi Stadion Jakabaring

Dilanjutkan Kapolri, sedangkan untuk penembakan mobil sedan yang menerobos razia di Lubuk Linggau, saat ini dirinya masih menunggu hasil pemeriksaan Brigadir K  yang diduga melakukan penembakan tersebut.

“Kita lihat nanti, sebab untuk kasus penembakan di Lubuk Linggau, terjadi karena kurang kemampuan diskresi yang dimiliki si anggota yang melakukan penembakan mobil itu. Sebenarnya, inilah permasalahan kita, semua anggota kepolisian diseluruh dunia ini tidak semuanya bisa memiliki kemampuan diskresi. Sama halnya seperti kasus penembakan anggota di Bengkulu yang menembak anaknya karena menduga pencuri, akar permasalahnya sama yakni, karena dikresi. Sebab, seorang polisi harus bisa merespon pengambilan tindakan yang tepat untuk melindungi masyarakat atau dirinya sendiri,” terangnya.

Terkait diskresi ini, lanjut Kapolri, dirinya telah memerintahkan pengajar di sekolah kepolisian agar kurikulum tentang diskresi diperbanyak. Selain itu, setiap kepala satuan mulai dari Polsek, Polres hingga Polda agar terus melatih kemampuan diskresi setiap anggotanya.

“Jadikan kejadian Lubuk Lingga sebagai kasus study, supaya saat mengambil tindakan dengan menggunakan senjata api dapat dilakukan anggota dengan tepat,” ujarnya.

Baca Juga :   Walikota Pagaralam Ida Fitriati Dampingi Tim Nawacita Tinjau Lokasi Rencana Jembatan Lematang

Menurut Kapolri, pengambilan keputusan di lapangan memang sudah menjadi resiko bagi semua anggota polisi. Karena, keputusan seorang anggota polisi, kaki kirinya masuk penjara dan kaki kanannya masuk kuburan.

“Dari itulah kita masih memeriksa terlebih dahulu anggota yang menembak mobil di Lubuk Linggau tersebut. Apalagi saat kejadian mobil itu menrobos razia karena plat mobilnya palsu. Untuk itu saya harap masyarakat agar jangan menerobos  razia, sebab polisi akan mengira penjahat. SepertI kejadian di Tuban, ada pengendara menerobos petugas, setelah dikejar terjadi baku tembak usai kejadian ternyata orang itu teroris,” ungkap Kapolri.

Pada kesempatan tersebut Kapolri juga menjelaskan terkait launcing aplikasi Polisi Wong Kito dan apel pasukan penanggulangan Karhutla.

Dikatakan Kapolri, untuk aplikasi Polisi Wong Kito dilauncing tidak lain guna mempermudah pelayanan masyarakat. Sedangkan apel pasukan penanggulangan Karhutla dilakukan agar petugas kepolisian bersama instansi terkait dapat waspada dan siap dalam mengantisipasi terjadinya Karhutla di Sumsel. (ded)

 

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

Dokter Jamhari Meninggal Karena Penyakit Jantung

Palembang, KoranSN Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol Drs Supriadi MM, Senin (25/1/2021) mengatakan, jika …