Pahri Azhari di Rutan Pakjo, Lucianty ‘Menginap’ di Merdeka



Pahri Azhari beserta istrinya Lucianty-net

Palembang, SN

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (11/2) memindahkan enam tersangka kasus dugaan suap Muba dari Rutan Kelas I Jakarta Timur Cabang KPK dan ke Rutan Polda Metro Jaya ke Rutan yang berada di Kota Palembang.

Keenam tersangka ini yakni; Pahri Azhari (Bupati Muba non aktif) dan isteri Lucianty, serta empat unsur pimpinan DPRD Muba non aktif, Riamon Iskandar (Ketua DPRD), Darwin AH, Islan Hanura, Aidil Fitri (yang ketiganya merupakan Wakil Ketua DPRD).

Untuk tersangka    Pahri Azhari bersama empat pimpinan DPRD non aktif ditahan di Rutan Kelas I A Pakjo Palembang, sedangkan Lucianty ‘menginap’ di Rutan Wanita Kelas I A Merdeka Palembang.

Setiba di Kota Palembang, tim KPK yang dikawal ketat aparat kepolisian membawa ke enam tersangka dengan mengendarai empat mobil Toyota Avanza.

Tiga mobil membawa lima tersangka ke Rutan Pakjo Palembang, sedangkan satu mobil membawa tersangka Lucianty ke Rutan Merdeka.

Ketika tiba di Rutan, para tersangka ini enggan memberikan komentar saat sejumlah wartawan mengajukan pertanyaan. Hanya saja, Pahri Azhari dan Riamon Iskandar yang tampak tersenyum sedangkan Darwin AH terlihat menutupi wajahnya dengan rompi KPK yang dikenakannya. Dengan langkah tergesa-gesa para tersangka suap Muba ini langsung masuk ke dalam Rutan untuk menghindari kejaran wartawan.

JPU KPK Taufiq Ibnugroho didampingi JPU M Wiraksajaya mengatakan, pemindahan keenam tersangka lantaran kemarin, berkas perkara para tersangka telah masuk tahap II. Tersangka ditempatkan di dua lokasi berbeda, dimana untuk Pahri Azhari dan empat unsur pimpinan DPRD Muba non aktif, Riamon Iskandar, Darwin AH, Islan Hanura, Aidil Fitri ditahan di Rutan Pakjo, Kemudian untuk tersangka Lucianty ditahan di Rutan Merdeka.

“Jadi hari ini (kemarin) berkas perkaranya telah tahap II yakni, dilimphkan dari penyidik ke JPU. Karena telah menjadi tanggungjawab JPU maka keenam tersangka kita pindahkan penahanannya ke Palembang. Hal ini dikarenakan, sidang para tersangka akan dilakukan di Palembang sebab para saksinya kan kebanyakan berada di Palembang dan Muba. Sedangkan untuk masa penahanan ke enam tersangka yakni 20 hari kedepan sembari menunggu pelimpahan perkaranya ke Pengadilan Negeri Kelas I Palembang yang dalam waktu dekat berkasnya juga akan segera kita limpahkan,” katanya.

Baca Juga :   Tobing & Akhmad Najib Cs Tersangka Dugaan Korupsi Masjid Sriwijaya Dilimpahkan ke JPU

Diungkapkannya, dalam perkara ini terdapat dua berkas perkara dimana untuk Pahri Azhari dan Lucianty dalam satu berkas, sedangkan untuk empat unsur pimpinan DPRD Muba non aktif berada dalam satu berkas perkara.

“Kalau Pahri dan isteri kan pemberi uang suap sedangkan empat pimpinan DPRD non aktif pihak penerima uang suap. Dari itulah berkas perkaranya ada dua dan terpisah. Sedangkan untuk barang buktinya nanti akan kita hadirkan dalam persidangan para tersangka,” tandasnya.

Di tempat terpisah Pelaksana Harian Kepala Biro Humas KPK Yuyuk Andriati kepada Suara Nusantara mengutarakan, pemindahan tahanan para tersangka dikarenakan sidang ke enam tersangka akan dilakukan di Palembang.

“Selain itu hari ini (kemarin), berkas perkara enam tersangka kini telah tahap II dan masuk ke penuntutan. Usai dilimpahkan ke Rutan yang berada di Palembang maka dalam waktu dekat keenam tersangkan akan segera disidangkan,” tutupnya.

Sementara Kepala Rutan Kelas I A Pakjo Palembang, Yulius Sahruzah mengatakan, setelah diserahkan KPK ke Rutan, para tersangka awalnya ditempatkan di ruangan isolasi terlebih dahulu.
Setelah satu hari atau dua hari, setelah itu barulah para tersangka dipindahkan ke dalam sel tahanan yang berada di blok tahanan Tipikor.

“Para tersangka ditempatkan di dalam sel tahanan yang berbeda. Untuk penempatannya nanti akan disesuaikan dengan blok sel tahanan yang masih bisa ditempati, karena saat ini seluruh warga binaan (Narapidana) kasus Tipikor di Rutan berjumlah 98 orang, itu belum termasuk para tersangka,” ujarnya.

Untuk penempatan awal di ruang isolasi, lanjutkan Yulius, bertujuan untuk mengenalkan hak dan kewajiban mereka sebagai Narapidana baru, setelah itu mereka akan melakukan masa awal pengenalan lingkungan.     “Kita memiliki empat kamar isolasi yang failitasnya sama dengan Narapidana lain, yakni hanya kamar mandi. Disana mereka akan melakukan masa awal pengenalan lingkungan,” ungkapnya.

Namun, jika masa isolasi dinilai banyak kendala seperti yang bersangkutan terlibat masalah keributan sesama warga binaan atau adanya pihak musuh maka masa isolasi mereka akan di perpanjang hingga dua kali atau selama 21 hari. Sementara, untuk pihak keluarga atau kerabat yang ingin menjenguk, sama sekali tidak ada larangan dari pihak Rutan.

Baca Juga :   Jelang Musda KAHMI OKI, Syamsudin & Haris Kandidat Terkuat

“Hanya saja, itu sesuai dengan jam-jam yang sudah ditentukan. Kunjungan untuk keluarga narapidana yakni hari Senin, kamis dan sabtu,”tandsanya.

Diketahui, dalam kasus dugaan ini Pahri Azhari dan Lucianty ditetapkan sebagai tersangka, Jumat 14 Agustus 2015 lalu, kemudian, Jumat 18 Desember 2015 keduanya dijebloskan KPK ke Rutan Polda Metro Jaya.

Sedangkan untuk empat unsur pimpinan DPRD Muba non aktif ditetapkan sebagai tersangka Jumat 21 Agustus 2015. Lalu, Selasa 15 Desember 2015, keempatpun resmi ditahan KPK dan ditempatkan di Rutan Kelas I Jakarta Timur Cabang KPK.

Penetapan tersangka dan penahanan yang dilakukan kepada enam tersangka merupakan hasil pengembangan penyelidikan dan penyidikan dari tersangka Syamsyudin Fei (Kepala DPPKAD Muba), Faisyar (Kepala Bappeda Muba), Bambang Kariyanto, dan Adam Munandar (keduanya Ketua Fraksi Partai di DPRD Muba), yang keempatnya telah divonis Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kelas I A Tipikor Palembang, diketuai Parlas Nababan.

Di persidangan, Syamsyudin Fei dan Faisyar masing-masing divonis hakim pidana penjara 2 tahun 6 bulan dan denda Rp 50 juta. Sementara Bambang Kariyanto divonis pidana penjara 5 tahun, sedangkan untuk Adam Munandar divonis hakim pidana penjara 4 tahun. Selain itu Bambang dan Adam juga didenda Rp 200 juta atau subsider tiga bulan kurungan penjara.

Kasus dugaan suap ini terungkap, saat KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di kediaman Bambang Kariyanto (terpidana)  Jalan Sanjaya Kecamatan Alang-Alang Lebar Palembang, Jumat 19 Juni 2015 pukul 21.00 WIB. Selain Bambang, dalam OTT tersebut tim penyidik KPK juga mengamankan Adam Munandar, Syamsyudin Fei, dan Faisyar (terpidana).

Saat melakukan penangkapan OTT, di lokasi tim penyidik KPK berhasil mengamankan barang bukti, sebuah tas berwarna merah marun yang berisi uang suap senilai, Rp 2.560.000.000. (ded/den)



Publisher : Fitriyanti

Lihat Juga

Kejari Palembang Kembali Tetapkan Satu Tersangka Dugaan Korupsi Pengadaan Pakaian Batik di Dinas PMD Provinsi Sumsel Tahun 2021

Palembang, KoranSN Tim Jaksa Penyidik Pidsus Kejari Palembang, Jumat (1/3/2024) kembali menetapkan satu tersangka dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!