Pajar Bulan Pusat Batu Megalit





caption..
Batu Megalit yang berada di Kabupaten Lahat.

KECAMATAN Panjar Bulan merupakan pusat temuan batu megalit terbesar di Kabupaten Lahat dan Sumatera Selatan bahkan mungkin, terbesar se-Indonesia.

Selain di kawasan Pajar Bulan, batu megalit berupa bilik batu, menhir, dolmen, arca, batu tegak, tetralith juga ditemukan disejumlah desa seperti; Desa Pulau Panggung, Desa Talang Pagar Agung, Kota Raya Darat dan Kota Raya Lembak.

Bahkan Batu Gajah yang sangat terkenal, yang kini tersimpan di Museum Balaputra Dewa di Palembang juga berasal dari Desa Kota Raya, Kecamatan Pajar Bulan.

Pada tahun 1850 batu megalit di dataran tinggi pasemah ini pernah dikunjungi oleh L Ullman, dan yang cukup terkenal adalah Van Der Hoop, pada tahun 1932 dengan bukunya ‘Megalithic Remains in South Sumatera’.

Keberadaan megalit di Kabupaten Lahat menunjukkan pada masa prasejarah telah tumbuh dan berkembang peradaban manusia yang sangat tinggi. Maka megalit yang tersebar di Lahat bukan saja milik Kabupaten Lahat, bukan saja milik Sumatera Selatan, bukan milik Indonesia akan tetapi sudah menjadi milik umat manusia.

Dari itu di pagi yang cerah penulis melakukan kunjungan ke beberapa batu megalit yang ada di kawasan tersebut. Udara sejuk dan segar sangat terasa ketika memasuki Desa Aceh, Desa Pajar Tinggi hingga Desa Pulau Panggung Kabupaten Lahat.

Suasana Kota Lahat terlihat hiruk-pikuk, berdebu oleh truk-truk batu bara yang melintas sesaat memasuki Kecamatan Pajar Bulan, yang merupakan kecamatan pemekaran dari Kecamatan Jarai.

Jarak menuju Desa Pulau Panggung hanya sekitar 8 Km dari Kota Pagaralam atau 73 Km dari Kota Lahat yang dapat ditempuh selama 1,5 jam perjalanan.

Jalanan yang beraspal mulus dan sedikit berliku membuat perjalanan ini sangat mengesankan. Kebun kopi penduduk yang hampir dipanen kelihatan memerah. Panorama alam pegunungan sangat mempesona.

Mayoritas penduduk disini bertanam kopi dan merupakan produk andalan kawasan di kaki Gunung Dempo yang berhawa sejuk.

Sebelum menuju Desa Pulau Panggung, penulis mengunjungi sebuah batu berelief yang menggambarkan seseorang sedang memegang tanduk rusa yang terletak di halaman depan rumah warga di Desa Pajar Bulan Kecamatan Pajar Bulan.

Seorang pemuda yang kami temui mengatakan, jika penduduk sekitar tidak mengetahui bahwa di batu tersebut terdapat relief peninggalan masa prasejarah disebabkan selama ini tertutup pepohonan.

Baca Juga :   3.296 Wisatawan Berlibur di Kepulauan Seribu

Keberadaan batu berelief sebagai peninggalan masa prasejarah atas hasil ekskavasi oleh tim Balai Arkeologi Palembang.     Kemudian kami singgah di sebuah lumpang batu berlubang 4 (empat) terletak di halaman rumah yang cukup jelas terlihat bila kita melalui jalan raya dari Desa Pajar Bulan ke arah Desa Pulau Panggung.

Batu lumpang ini juga peninggalan masa prasejarah.
Sebelum perjalanan kami lanjutkan ke Desa Pulau Panggung, Kades Pajar Bulan telah siap menjamu kami dengan makan siang dan tak lupa kopi khas desa ini.

Kami mendapat sambutan yang sangat hangat dari Pak Kades dan keluarga juga masyarakat yang kami temui. Hal ini suatu pengalaman yang tiada tara dan tak dapat kami lupakan.

Setelah merasa cukup, kami pun memohon diri untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Pulau Panggung. Walau disiang hari dan matahari bersinar terik tapi panasnya tak membuat kami lelah.     Ketika memasuki Desa Pulau Panggung Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat, tidaklah susah untuk menemukan kediaman Ahlan sang juru pelihara batu megalit Desa Pulau Panggung.

Di pertigaan jalan disebelah kiri tertulis petunjuk  menuju batu megalit yang juga ke arah rumah Ahlan.

Setelah diterima Ahlan, kamipun langsung berjalan menuju kebun Ahlan yang juga merupakan komplek batu megalit berada. Jalan tanah selebar 2 meter dengan perkebunan kopi di kanan kiri sangat menyenangkan. Sepanjang perjalanan Ahlan banyak bercerita tentang megalit yang ada di kebunnya.

Kunjungan pertama kami melihat sebuah batu terletak di dalam tanah berukuran 1 meter. Batu ini ditemukan karena mimpi dari Rorena anak sang juru pelihara batu megalit tersebut.

“Aku menggali batu megalit ini karena mimpi dari Rorena anakku”, kata Ahlan.

Di batu tersebut terdapat pahatan seorang dimakan seekor ular pada bagian tangan sampai bahu, sedang seorang lagi dililit dan digigit seekor ular. Pada bagian atas batu ini terdapat genangan air. Tampaknya batu ini sebuah lumpang.

Lumpang batu berukir merupakan hal yang langka, unik dan tentu mempunyai nilai budaya sangat tinggi. Lumpang batu yang ditemukan sekitar bulan April 2010 ini hanya berpagar bambu yang cukup melindungi lumpang batu di dalamnya.

Dengan menyusuri pepohonan kopi di kanan kiri yang mulai memerah sampailah kami pada sebuah batu yang menggambarkan seseorang sedang mengapit anak pada tangan kanannya sambil menunggang seekor gajah.

Baca Juga :   Pemkot Pariaman Gelar Vaksinasi di Objek Wisata Mulai Senin Depan

Pada bagian depan batu ini sangat jelas digambarkan seekor gajah dengan mata, belalai dan kedua gadingnya. Batu ini disebut Baturang mungkin singkatan dari batu orang. Batu megalit yang konon berusia 4.000 tahun merupakan tinggalan masa prasejarah jauh sebelum adanya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.

Walau batu megalith sangat tinggi nilai budayanya tapi hanya berpagar bambu yang dibuat sendiri oleh Ahlan sang juru pelihara. Sudah selayaknya, benda purbakala bernilai budaya tinggi ini mendapatkan pemeliharaan yang lebih baik lagi.

Selain pagar bambu yang seadanya, jalanan menuju megalit Baturang hanyalah jalan yang biasa digunakan untuk menuju kebun kopi warga. Begitupun dengan tanda atau petunjuk yang menerangkan bahwa megalit ini merupakan benda cagar budaya yang dilindungi undang-undang.

Bukan hanya dua batu megalit itu saja yang ada di kebun Ahlan tapi masih ada satu lumpang batu berlubang satu dan 8 lesung batu yang bentuk hiasan luarnya beragam dan letaknya tersebar. Ada lesung batu berkepala kodok, lesung batu berkepala kambing, berhias seekor ular dan orang.

Semua lesung batu tersebut mempunyai lubang dengan ukuran lebar dan dalam yang sama, sepertinya mereka yang membuat telah mengenal alat ukur. Suatu temuan yang langka dan unik.

Di Desa Pulau Panggung ini kami telah mengunjungi dua lumpang batu, satu arca dan 12 lesung batu. Sebenarnya masih ada beberapa batu megalit lainnya seperti arca manusia, lesung batu, batu tegak dan tetralit.

Sekarang timbul sebuah pertanyaan, sudah berapa banyak masyarakat Lahat yang telah mengunjungi situs megalit yang telah tersohor sejak 166 tahun silam?

Apakah kita masyarakat Kabupaten Lahat tahu dan menyadari bahwa di Lahat yang kita sayangi ini terdapat megalit terbanyak dan terbaik se-Indonesia?

Semua ini menjadi tugas kita bersama untuk menjaga, memelihara, melestarikan, memanfaatkan dan mempromosikan pada dunia semua yang kita miliki, sehingga bermanfaat untuk masyarakat Kabupaten Lahat. (mario andramatik)





Publisher : Apriandi

Lihat Juga

Pemkab Wonosobo Gandeng Oemah Wisata Perkuat Promosi Pariwisata

Wonosobo, KoranSN Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Wonosobo bekerja sama dengan Oemah Wisata sebagai …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!