Pedagang Mengeluh, Awning Dinilai Belum Berikan Solusi

Tampak awning yang terpasang di Lorong Sentot Ali Basah Kawasan Pasar 16 Ilir Palembang. (foto-reigan/koransn.com)

Palembang, KoranSN

Pemasangan awning (semacam kanopi/atap) di Lorong Sentot Ali Basah dinilai belum memberikan solusi bagi para pedagang. Selain masih panas, ketika hujan tidak ada saluran air hingga mengakibatkan tergenangnya air dibawah lapak para pedagang.

Salah satu pedagang di Lorong Sentot Ali Basah kawasan 16 Ilir, Yuli (33) saat ditemui kiosnya, Selasa (12/9/2017) mengatakan, dipasangnya awning di kawasan tersebut seperti tidak memberikan solusi. Karena pada waktu siang hari panas matahari masih dirasa sangat menyengat, untuk itu para pedagang harus menggelar tenda diatas lapak dagangannya guna menghundari pudarnya bahan dagangan saat terkena langsung sinar matahari.

Menurutnya, dipasangnya awning ini saat siang hari masih belum begitu dirasakan. Namun, pada sisi jalan sudah ditinggikan dengan di cor semen sekitar 60 cm diatas tanah. Meski demikian, dengan tingginya jalan tersebut membuat air tidak mengalir ketika hujan turun.

“Kami masih menggunakan atap terpal diatas lapak dagangan, karena panasnya masih terasa karena awning ini warnanya yang tergolong bening. Tapi saat hujan airnya tidak bisa kemana-mana karena tidak ada saluran air. Jadi, dibawah lapak dagangan dibanjiri air hujan dan sampahnya pun yang ada di gorong-gorong tidak diangkut,” ungkapnya.

Baca Juga :   Pencegahan Corona, Siswa siswi Madrasah Ibtidaiyah Hijriyah II Baru Tahu Sekolahnya Libur (FOTO).

Ia menambahkan, perharinya pedagang harus menyetorkan uang retribusi pasar sebesar Rp 10 ribu dengan rincian Rp 5 ribu uang kemanan, Rp 3 ribu uang kebersihan serta Rp 2 ribu untuk tarif parkir. Dimana uang tersebut diberikan kepada petugas pasar, tetapi para pedagang masih harus membersihkan sampah sendiri saar sampah tersebut sudah masuk kedalam selokan antara jalan dan lantai yang telah ditinggikan.

“Kalau sampah yang masuk kedalam selokan antara sela-sela jalan dan lantai untuk para pedagang itu tidak diangkut oleh petugas kebersihannya. Jadi, kami harus membersihkan sendiri agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Selain itu kami juga harus membayar uang Rp 10 perharinya, belum lagi dipungut biaya awning ini. Tapi sekarang biaya awning ini belum ada tagihan karena memang sepenuhnya belum selesai,” jelasnya.

Baca Juga :   Macet Semakin Parah, Warga Palembang Stres

Sementara, salah satu pedagang lainnya dikawasan Lorng Sentot Ali Basah, Uda Zul (52) menuturkan, disin sebagian pedagang mendukung apa yang dilakukan pemerintah demi kemajuan dan keindahan khususnya dikawasan pasar 16 ilir ini asal dengan jalan yang benar melainkan tidak ada permainan yang memberatkan para pedagang.

Lanjutnya, untuk retribusi setiap perharinya, dirinya berharap agar diberikan seperti cek dan jangan hanya dengan meminta saja, karena ditakutkan uang tersebut tidak masuk kedalam PAD Palembang.

“Kami berharap uang yang ditagih ke pedagang diberikan karcis agar jelas uang tersebut masuknya kemana. Kami juga berdagang jadi nyaman dan ikhlas kalau sudah teratur seperti itu,” tandasnya. (rgn)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Herman Deru Ajak Jemaah Masjid Asy-Syakirin Sukseskan Program Vaksinasi Covid

Palembang, KoranSN Gubernur Sumsel, H Herman Deru meminta masyarakat untuk ikut dalam vaksinasi virus Covid-19 …