Pencarian Harta Karun Marak di Sungai Musi

7

1Bermodalkan alat alat sederhana warga palembang ramai cari ‘harta karun’ di sungai Musi, Senin (17/10/2016). Foto foto Ferdinand/ koransn

Palembang, SN

Pencarian harta karun marak terjadi di Sungai Musi Palembang. Hal ini merupakan tindakan yang dinilai merugikan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang dan masyarakat banyak.

Diungkapkan Ketua Tim Penelitian Balai Arkeolog Palembang, Retno Purwanti, kegiatan seperti ini sudah ada sejak tahun 90an.  Kegiatan seperti ini memang dilarang, tapi sebagai peneliti pihaknya tidak bisa untuk menyetop atau menertibkan kegiatan para pencarian harta karun tersebut.

“Kami hanya bertugas untuk meneliti jika ada penemuan-penemuan yang didapatkan dari hasil pencarian tersebut. Seperti artefak-artefak atau peninggalan sejarah lainnya,” katanya saat dihubungi, Senin (17/10).

Sejauh ini, menurutnya, penemuan-penemuan yang didapatkan dari hasil pencarian tersebut, kebanyakan hanya koin-koin zaman dahulu, belum pernah ada benda-benda seperti artefak atau patung seperti yang disampaikan beberapa pihak.

“Dulu itu kan hanya sekedar cerita saja, tapi buktinya kita belum pernah melihat bagaimana bentuk atau wujud aslinya. Selama ini, hanya koin-koin saja yang di dapatkan, itupun kami sudah banyak koleksi di balai, jadi tidak diperlukan lagi penelitian untuk hal itu,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, selain aktifitas tersebut ilegal, banyak penemuan dari hasil pencarian tersebut yang tidak dilaporkan kepada pemerintah. Dimana seharusnya, itu perlu dilaporkan karena menyangkut cerita sejarah yang dirasa dapat menjadi daya tarik sendiri, jika hal itu di abadikan di museum.

“Dari setiap penemuan benda atau peninggalan zaman dahulu pasti ada ceritanya, untuk itu diharapkan jika ada penemuan harus dilaporkan ke pemerintah. Tentu saja pemerintah akan memikirkan kompensasi untuk itu, contohnya saja penemuan cagar budaya yang ada di daerah Kalimantan. Bahkan secara langsung Presiden memberikan kompensasi dan penghargaan. Kalau hanya sekedar dijual kepada pengkoleksi barang antik, apa yang didapat kan cuma uang,” ulasnya.

Baca Juga :   Kapolri: Saya Minta Maaf ke Warga Bila Kinerja Polri Belum Maksimal

Retno menuturkan, sebagai pihak yang juga bertanggungjawab menjaga cagar budaya yang ada di Palembang, pihaknya juga telah melakukan upaya pendekatan kepada para pencari harta karun tersebut.

“Tetapi mereka ini yang tidak mau didekati, kita selalu mengupayakan sosialisasi. Tinggal kesadaran masyarakat yang kita harapkan,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Isnaini Madani mengatakan, untuk pariwisata sendiri sebenarnya tidak terlalu berdampak, tetapi alangkah lebih bagusnya jika setiap penemuan yang dinilai mengandung unsur sejarah, itu dilaporkan agar dapat diteliti lebih lanjut.

“Kalau disumbangkan kepada pemerintah bisa jadi pengisi museum. Kita jangan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, kelestarian budaya juga menjadi aspek penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, kita himbau kepada masyarakat agar melapor jiak menemukan penemuan harta karun. Demi kemaslahatan bersama,” ungkapnya.

Pantauan Suara Nusantara, Senin (17/10), para pencari harta karun tersebut nampak dengan santai melakukan pencarian di Sungai Musi, dengan menggunakan dua perahu yang disatukan dan selang besar sebagai penyedot benda-benda di dasar sungai, beberapa diantara mereka terlihat ramah dengan sorotan kamera yang di arahkan ke perahu mereka di tengah Sungai Musi.

Baca Juga :   Diduga Pemasok Narkoba Bupati OI, Rumah Faizal Roche Turut Digeledah BNN RI

Terpisah, Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Cahyo Budi Siswanto mengatakan, para pencari harta karun dan barang-barang antik di Sungai Musi yang kemudian hasilnya dijual ke kolektor tentunya bisa dikenakan pidana dan melanggar undang-undang apabila harta karun dan barang-barang antik yang dijualkan tersebut memiliki nilai sejarah berdasarkan penelitian yang telah dilakukan.

“Apakah harta karun dan barang antik tersebut termasuk barang bersejarah seperti candi-candi? Itukan perlu diteliti. Jika memang bersejarah seperti candi, tentunya tidak boleh dijual belikan karena itu jelas melanggar dan bisa dipidana. Sebab, barang bersejarah dilindungi dengan undang-undang dan tidak boleh dijual belikan,” ungkap Cahyo.

Masih dikatakan Cahyo, apabila dari penelitian menyatakan harta karun dan barang antik tersebut masuk dalam berang bersejarah yang dilundungi, barulah pihak kepolisian melakukan tindakan hukum berdasarkan KUHP, apakah hal tersebut termasuk dalam pidana khusus atau pidana umum.

“Sedangkan untuk para pencari harta karun yang mencari barang-barang antik dengan menambang di Sungai Musi juga perlu penyelidikan untuk mengetahui apakah terdapat unsur-unsur pidanannya. Sebab, dalam menerapkan pasal pidananya pihak kepolisian kan harus berdasarkan dengan KUHP dan undang-undang yang berlaku,” ujarnya. (ded/tya)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

40 Mahasiswa SPI Fahum UIN Raden Fatah Belajar Buat Tanjak

Palembang, KoranSN Workshop “Mengenal Karya Seni Lokal Palembang” Penerapan Mata Kuliah Dokumenter Sejarah Prodi Sejarah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.