Peran Penting Dosen Wanita UII Yogya di MCA



Dosen UII Yogya, Tara Dwi Wijayanti saat ditangkap polisi. (foto-net/vivanews.com)

Jakarta, KoranSN

Satu dari enam anggota kelompok penyebar berita bohong alias hoax bernama Muslim Cyber Army atau MCA, ternyata seorang wanita yang berstatus sebagai dosen di Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta. Dosen UII itu bernama Tara Arsih Wijayanti, berusia 40 tahun.

Menurut Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Fadil Imran, dalam kelompok yang selalu mengatasnamakan agama Islam itu, Tara berperan sebagai admin grup MCA.

“Dosen di UII Yogyakarta, (dosen) Bahasa Inggris. Dia juga merupakan admin di grup MCA,” kata Fadil Imran di Kantor Dittipid Siber Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (28/2/2018).

Meski seorang perempuan, tapi dalam kelompok penyebar hoax ini, peran Tara sangat penting. Dia diketahui berperan sebagai orang yang menyebarkan langsung konten-konten hoax ujaran kebencian terhadap agama dan kelompok tertentu.

“Perannya diduga menyebarkan ujaran kebencian (SARA) dan berita bohong dan menyebarkan virus,” ujar Fadil.

Tara diringkus di Yogyakarta, Selasa (27/2/2018). Dalam penangkapan itu, polisi mengamankan berbagai barang bukti terkait aktivitas MCA.

Selama ini Tara bertugas menyebarkan hoax dibantu lima anggota The Family MCA lainnya, yang juga diringkus polisi, yakni Muhammad Luth (40 tahun), Rizki Surya Dharma (35 tahun), Ramdani Saputra (39 tahun), Yuspiadin (24 tahun).

Mereka dijerat dengan Pasal 45A ayat (2) juncto pasal 28 ayat (2) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal juncto Pasal 4 huruf b angka 1 Undang-undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 33 UU ITE.

Baca Juga :   Gatot Nurmantyo Yakin Dapat Tiket Capres 2019

MCA ini merupakan kelompok yang selalu menyebar berita bohong alias hoax, yang bersifat provokatif dengan tujuan memecah belah umat beragama dan kelompok. Selama ini mereka gencar menyebar isu tentang penculikan ulama dan kiai, kebangkitan PKI dan menghina Presiden, pemerintah dan tokoh tertentu.

Tak hanya itu saja, mereka juga kerap mengirimkan virus untuk merusak perangkat elektronik penerima pesan hoax yang mereka sebar. (viva.co.id)







Publisher : Awid Durrohman

Lihat Juga

Kemenkumham Sumsel Lakukan Optimalisasi Sistem Pelaporan dan Pembaruan Legalitas PPNS

Jakarta, KoranSN Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Selatan melalui Divisi Keimigrasian menunjukkan komitmen …

    error: Content is protected !!