Peredaran Daging Babi di Lubuklinggau Terungkap, Warga Muratara Resah



Ilustrasi. (foto/net)

Muratara, KoranSN

Hebohnya kasus peredaran daging babi yang terungkap di wilayah Kota Lubuklinggau, menjadi perbincangan hangat masyarakat di Kabupaten Muratara. Warga mendesak Pemerintah Daerah (Pemda), secepatnya melakukan pengawasan, sehingga peredaran daging babi tersebut tidak menyebar ke wilayah Muratara.

Nur (48) Warga Kelurahan Muara Rupit, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara, menuturkan. Peredaran daging babi atau daging oplosan bisa jadi sudah masuk ke wilayah Kabupaten Muratara. Pasalnya, hampir semua produk kebutuhan barang pokok yang beradar di wilayah Kabupaten Muratara, berasal dari luar daerah. Ketakutan warga itu wajar terjadi, karena tidak menutup kemungkinan adanya oknum yang memanfaatkan momentum Ramadhan dengan kenaikan harga daging yang cukup tinggi.

“Banyak tetanggo yang ngomong kemaren di Linggau ado daging sapi oplosan yang dicampur daging babi. Biso be daging oplosan itu masuk ke siko, soalnyo banyak pedagang ngambek barang jak Linggau,” katanya, Senin (5/6/2017).

Masyarakat berharap, Pemda segera merespon kecemasan masyarakat tersebut dan segera melakukan tindakan kongrit, untuk memantau peredaran daging yang dijual pedagang. Warga berharap adanya upaya sosialisasi ke masyarakat secara langsung, dan menempatkan pengumuman resmi bagaimana cara membedakan daging sapi dengan daging babi.

Baca Juga :   Bupati Banyuasin: Kami Memang Membutuhkan Kodim

“Rato-rato awam warga tahu mano daging babi mano daging sapi. Mesti disosialisasike jangan sampe warga tebudi,” pintanya.

Sementara itu, Masrup pedagang daging di pasar Lawang Agung mengatakan, memang rata-rata produk yang beredar di wilayah Muratara berasal dari Kota Lubuklinggau. Tapi dia menjamin usaha yang sudah digelutinya selama puluhan tahun ini 100 persen halal.

“Aku beli sapi dan potong sendiri, dijualnya sedikit-sedikit bawa ke pasar sekitar 20-30 Kg, sisanya saya jual lagi ke para pedagang,” katanya.

Dia sengaja memajang potongan daging utuh di lapak dagangannya dan langsung memotong daging tersebut di hadapan pembeli. Upaya itu dilakukan untuk menghindari isu negatif dan menjamin kualitas, mutu daging yang dijual.

“Kalau di gantung begini dagingnya asli, jadi pembeli bisa melihat sendiri, ini daging sapi. Artinya kita tidak menipu pembeli,” timpalnya.

Masrup membenarkan jika harga daging sapi di wilayah Muratara cukup tinggi, dan saat ini menembus Rp130 ribu/Kg.

Baca Juga :   Bagikan Puluhan Paket Sembako ke Enam Desa

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan Pasar dan Koperasi (Disperindagkop) Kabupaten Muratara, Syamsu Anwar melalui Kabid Perdagangan, Farrurozi menuturkan. Mereka sudah mendapatkan informasi jika adanya ungkap kasus peredaran daging babi di Kota Lubuklinggau.

Pihaknya mengaku, secepatnya akan turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan secara langsung ke sejumlah pasar tradisional di wilayah Kabupaten Muratara. “Kami sudah dengar informasi itu, kita takut barang itu ikut beredar di wilayah Muratara. Kita akan turun langsung dan mengecek bersama, Dinkes dan Satpol PP,” ujarnya.

Dia menimpali, khusus untuk tingkat konsumsi daging di Kabupaten Muratara, masih terbilang rendah. Bahkan rata-rata daging yang dijual merupakan daging kerbau, itu lantaran harganya lebih murah ketimbang daging sapi. “Daging sapi Rp130 ribu/Kg dan daging Kerbau Rp120 ribu/Kg. Rata-rata masyarakat kita banyak menjual daging Kerbau,” ucapnya.

Pemerintah Daerah menegaskan peredaran daging sapi oplosan memang patut diwaspadai, karena hal tersebut dapat menimbulkan kerugian materil bagi konsumen. “Kita secepatnya turun, di seluruh pasar tradisional di tujuh wilayah Kecamatan akan kami datangi,” pungkasnya. Pungkasnya. (snd)



Publisher : Anton Wijaya

Lihat Juga

KPU Lubuklinggau Selesai Gelar Rekapitulasi, Penetapan Caleg Terpilih Tunggu Juknis dari KPU Provinsi Sumsel

Lubuklinggau, KoranSN Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) telah selesai menggelar …

error: Content is protected !!