Pilkada OKI, Raih 50 Persen Suara, Cetak Sejarah

Ilustrasi.

PEMILIHAN gubernur, walikota dan bupati serentak tahun 2018 mendatang di Sumsel merupakan Pilkada ketiga kalinya di Bumi Sriwijaya. Seluruh bakal calon kepala/wakil kepala daerah baik petahana maupun rivalnya sudah gencar bersosialisasi.

Hendak melakukan pembangunan daerah yang lebih baik lagi merupakan alasan umum yang dilontarkan setiap bakal calon ke publik, banyak alasan lain yang tidak mungkin diucapkan mereka di muka umum. Namun tak terbantahkan, menjadi kepala daerah di era sekarang akan hidup lebih mewah dari kemewahan sebelumnya.

Alasan hendak menjadikan daerahnya lebih baik lagi dan faktor lainnya menjadi magnet tersendiri bagi putra daerah untuk menjadi kepala daerah. Sehingga tak heran, Pilkada selalu diikuti banyak pasangan calon (Paslon) yang menjadi kontestan.

Seperti di Ogan Komering Ilir (OKI), 2 kali Pilkada sebelumnya di kabupaten ini selalu diikuti minimal 4 Paslon. Pilkada 2008 diramaikan 4 Paslon (3 Paslon diusung Parpol, 1 Paslon jalur independen) dan Pilkada 2013 lebih semarak, karena ada 6 Paslon (4 Paslon dari Parpol dan 2 Paslon independen).

Baca Juga :   Loyalitas Anak Negeri dan Semangat Proklamasi

Menariknya, kemenangan Paslon di 2 Pilkada itu tak mampu meraih separuh atau 50 persen suara sah hasil pencoblosan. Seperti Pilkada 2008, Paslon Ir H Ishak Mekki MM-H Engga Dewata Zainal SSos yang menang hanya meraih kisaran 41-42 persen suara. Selanjutnya di 2013, Paslon Iskandar SE-HM Rifa’i SE yang dinyatakan jawara hanya mendapat 30,72 persen suara.

Realita di atas menunjukan tak ada Paslon yang mencatatkan rekor memenangi Pilkada OKI dengan raihan suara gemilang, atau 50 persen bahkan lebih. Banyaknya Paslon yang menjadi ikut Pilkada juga menjadi faktor kantong kantong suara pemilih terbagi ke seluruh Paslon meski tidak merata.

Faktanya, setiap banyak Paslon akan akan kian menyulitkan seorang Paslon meraup 50 persen suara. Pilkada serentak 27 Juni tahun depan di OKI menjadi peluang bagi Paslon yang menjadi peserta untuk menorehkan namanya tercatat sebagai pecetak rekor dan menjadi pelaku sejarah di OKI.

Sebaliknya, bila tak ada Paslon yang menggapainya maka kian memperpanjang catatan belum ada Paslon Pilkada OKI yang mampu unggul dengan suara mayoritas dari total suara sah. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Paslon dan Timsesnya untuk bersama-sama menjadi yang pertama pencetak sejarah Pilkada OKI.

Baca Juga :   Ruwetnya Kemacetan Palembang

Namun diprediksi akan sulit Paslon meraih 50 persen di Pilkada serentak 2018 di Sumsel apabila Pilgub, Pilwako dan Pilbup diikuti 3 Paslon atau lebih. Apalagi, PKPU saat tidak mengatur Paslon yang dinyatakan memenangi Pilkada harus meraih suara minimal.

Seperti pada Pilkada-Pilkada sebelumnya, aturan PKPU menyebutkan pemenang Pilkada harus meraih minimal 50 persen plus 1 suara pada Pilkada daerah istimewa dan pemenang Pilkada mendapatkan minimal 30 persen plus 1 suara pada Pilkada di daerah lain umumnya. (Maniso, SE )

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

COVID-19 Masih Memerlukan Perhatian yang Tinggi

  DI penghujung tahun 2020, permasalahan COVID-19 masih memerlukan perhatian yang tinggi, walaupun secara umum …