POM Palembang Minta Apotek Tarik Obat Mengandung DNA Babi



Ilustrasi. (foto-net)

Palembang, KoranSN

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mengintruksikan kepada dua produsen obat, yakni PT Pharos Indonesia produsen dari Viostin DS dan PT Medifarma Laboratories produsen obat Enzyplex untuk menarik kedua obat tersebut dari pasaran, lantaran diketahui mengandung DNA Babi.

Atas dasar itulah, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (POM) Palembang menegaskan, apabila masih menemukan toko obat atau apotek hingga minimarket yang masih menjual kedua obat tersebut, untuk melaporkannya ke POM Palembang.

Demikian diungkapkan oleh Kepala Balai Besar POM Palembang, Setia Murni saat dikonfirmasi, Rabu (7/2/2018). Ia mengatakan, pihaknya akan memberikan sanksi tegas kepada mereka yang masih menjual obat-obatan yang terindikasi mengandung DNA babi tersebut.

Menurut Murni, akan ada sanksi berupa teguran hingga penyegelan penutupan tempat usaha, jika masih ada toko obat yang menjual barang ilegal tersebut.

Ia menuturkan, langkah antisipasi beredarnya obat tersebut di pasaran, pertama-tama, distributor akan dicek terlebih dahulu. Kemudian, meminta Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) untuk mengingatkan kepada anggotanya agar tidak lagi menjual obat yang bermasalah tersebut.

Baca Juga :   Gubernur Instruksikan Bupati Jaga Daerah dari Karhutla

“Setiap apotik pasti memiliki Apoteker penanggung jawab, nanti pasti akan kita panggil jika masih ada yang menjual. Dikarenakan, baik pengusaha maupun apoteker pasti tau permasalahan ini,” ungkapnya.

Murni menambahkan, pentingnya peran konsumen, pelaku usaha dan pemerintah dalam bersinergi menyikapi persoalan ini. Jika ada masyarakat masih menemukan ada peredaran obat yang telah dilarang tersebut dapat langsung melaporkan, ke bagian pelayanan konsumen Balai Besar POM.

“Informasi Contact Center Halo BPOM di nomor telpon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, email halobpom@pom.go.id atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di Seluruh Indonesia,” jelasnya.

Murni mengatakan, BPOM Palembang akan mengambil langkah strategis dengan melakukan pengawasan secara langsung.

Seperti pengawasan terhadap para pengusaha apotik di lapangan dan memastikan intruksi benar-benar dilakukan. Lantaran sesuai intruksi Kepala Badan POM RI, Penny K sehingga edaran tersebut menjadi tanggung jawab semua BPOM di seluruh Indonesia, termasuk Balai Besar POM Palembang.

Baca Juga :   Dua Rumah Mewah Itu Dihuni Isteri Tua dan Isteri Muda 'ZM'

“Menyikapi edaran tersebut tentu akan ada pengawasan langsung. Teman-teman pemeriksa dan petugas dari Balai Besar POM Palembang telah saya intruksikan untuk turun ke lapangan, kita akan memanggil distributor, untuk meminta data penarikan,” ujarnya.

Murni menambahkan, ada ketidak konsistenan informasi data sebelum dijual (pre-market) dengan hasil sesudah dijual (post-market) terkait adanya temuan obat yang positif mengandung DNA Babi dalam dua produk Viostin DS dan Enzyplex ini.

“Artinya, data yang diserahkan saat pre-market dan post-market ada perbedaan atau ketidak konsistenan. Sebab saat pre market kandungan bahan baku bersumber dari sapi tetapi, saat post market justru bersumber dari babi. Dan inilah yang kita khawatirkan. Untuk itu, kami berharao masyarakat harap lebih mewaspadai hal-hal seperti ini,” pungkasnya. (rgn)







Publisher : Awid Durrohman

Lihat Juga

Kemenkumham Sumsel Dukung Perlindungan Kekayaan Intelektual, Dorong Pembentukan Sentra KI Universitas Kader Bangsa

Palembang, KoranSN Animo civitas akademika Universitas Kader Bangsa (UKB) untuk membentuk Sentra Kekayaan Intelektual (Sentra …

    error: Content is protected !!