Protes Tambang Pasir, Ratusan Warga Diduga Mengamuk



TEWAS-Petugas Rumah Sakit Bhayngkara Palembang memindahkan jenazah Riyansyah,yang ditemukan tewas di perairan Sungai Ogan.FOTO-DEDY/KORANSN.

Palembang,KoranSN
Sekitar seratus warga diduga mengamuk di tambang pasir yang berlokasi di kawasan perairan Sungai Ogan, Desa Santapan Barat Kecamatan Kandis Kabupaten Ogan Ilir (OI).Akibat kejadian tersebut membuat Riansyah (45), warga Tangga Takat Kecamatan SU II Palembang yang merupakan serang tug boat penambangan pasir tewas tenggelam.

Jenazah korban, Senin (19/12/2016) pukul 07.00 WIB ditemukan mengapung di perairan Sungai Ogan di Desa Jago Lano Kecamatan Pantau Panjang OI, setelah sebelumnya korban hanyut terbawa arus sungai yang deras.Kapolres Ogan Ilir, AKBP M Arif Rifai mengatakan, kejadian yang menyebabkan korban Riansyah tenggelam terjadi, Sabtu (17/19/2016) saat tug boat yang diserangi korban sedang menambang pasir, didatangi warga yang protes akan aktivitas penambangan yang dilakukan korban dan rekan-rekan korban.

“Ada sekitar 100 warga yang mendatangi tug boat tersebut, hingga korban terjatuh dan tenggelam ke sungai, dan jenazahnya baru ditemukan hari ini (kemarin). Usai jenazah korban ditemukan selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Palembang untuk dilakukan otopsi guna kepentingan penyelidikan,” kata Kapolres saat ditemui di Mapolda Sumsel.

Diungkapkan Kapolres, selain mengakibatkan korban terjatuh dan tenggelam ke sungai. Kedatangan ratusan warga saat itu juga mengakibatkan tug boat yang diserangi korban terbakar. “Namun untuk penyebabnya, apakah korban terjatuh ke sungai ada yang sengaja menceburkan atau adanya dugaan tindak pidana penganiayaan, serta apakah terbakarnya tug boat dilakukan sengaja oleh massa. Semua itu masih kita lakukan penyelidikan,” terangnya.

Lebih jauh Kapolres mengungkapkan, awal mula kejadian tersebut, diduga karena sebelumnya tug boat menabrak tiang listrik di pinggir sungai, hingga mengakibatkan listrik di desa tersebut padam selama satu minggu.”Lalu, warga protes. Sehingga antara warga dan pihak penambang pasir dilakukan musyarwarah dan ditemukanlah kesepakatan; jika antara warga dan penambang pasir sepekat menghentikan penambangan pasir di kawasan perairan di desa tersebut. Namun ternyata, satu hari setelah kesepakatan tersebut, korban bersama rekan-rekannya masih melakukan penambangan. Dari itulah, memicu warga protes hingga mendatangi tug boat dan berakibat korban terjatuh ke sungai,” terangnya.

Baca Juga :   140 Napi Asimilasi Kembali Ditangkap

Sambung Kapolres, sedangkan untuk legalitas penambangan pasir tersebut legal ataukah ilegal saat ini pihaknya masih berkoordinasi dengan Pemda. Apabila jika nanti ternyata aktivitas penambangan tersebut illegal, tentunya yang bertangungjawab dari penambangan pasir di lokasi kejadian akan diproses hukum oleh Polres Ogan Ilir.

“Bahkan saat ini sudah empat orang warga menjadi saksi, termasuk pemilik tug boat yang juga penanggungjawab penambangan pasir di lokasi telah kita periksa. Jadi kasus ini terus kita selidiki,” tutup Kapolres. Sementara Irawan (25), keponakan korban Riansyah saat ditemui di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang mengungkapkan, saat kejadian ia sedang berada di lokasi kejadian bekerja menambangpasir bersama korban.

Dikarenakan ramainya warga yang mendatangi tug boat tempatnya bekerja hingga mengakibatkan, ia dan korban diduga di dorong ke sungai sehingga dirinya dan korban Riansyah terjatuh.”Ketika itu, di tug boat ada orang enam, saya dan paman (korban Riansyah) serta empat teman kerja lainnya. Kami ini hanya pekerja yang bekerja dengan pemiliknya tug boat bernama, Riki. Kalau saya, diupah Rp 1 juta perbulan sedangkan korban diupah Rp 2 juta perbulan. Kami juga tidak tahu, apa permasalahannya hingga saat kejadian warga ramai berdatangan. Dari ramainya warga tersebut, ada sekitar 25 orang yang diduga melempari batu dan bambu kepada kami. Bahkan sebelum diceburkan ke sungai, saya sempat melihat ada orang yang diduga memukul perut korban Riansyah,”  ujarnya.

Baca Juga :   Tim Gabungan Bubarkan Balapan Liar

Diungkapkannya, setelah terjatuh ke sungai, ia berusaha menyelamatkan diri berenang ke tepian sungai. Kemudian, setibanya di tepi sungai dirinya tak melihat korban.”Saya dan teman yang lainnya selamat. Tapi ketika itu paman hilang, karena tenggelam dan terbawa arus sungai yang deras. Setelah dicari, korban tak ditemukan. Hingga akhirnya, paman ditemukan sudah dalam keadaan meninggal dunia,” jelasnya.

Sedangkan Midi (40), adik kandung korban Riansyah mengatakan, jika pihak keluarga mengetahui korban tenggelam usai mendapat informasi jika tug boat tempat korban bekerja menambang pasir didatangi massa.

“Kami tiba di lokasi kejadian malam hari. Saat itu massa sudah sepi, kemudian kami melakukan pencarian dengan menyisir Sungai Ogan tapi korban tak ditemukan. Hingga pagi ini (kemarin) ada warga melihat korban telah meninggal dunia mengampung di perairan Sungai Ogan di Desa Jago Lano Kecamatan Pantau Panjang OI. Jarak antara lokasi kejadian dengan penemuan jenazah sangat jauh, ada sekitar 7 KM. Jenazah ditemukan jauh dari lokasi kejadian, karena arus sungai yang sangat deras hingga membuat korban terseret arus,” ungkapnya.

Masih dikatakannya, jika korban memang merupakan warga Tangga Takat Kecamatan SU II Palembang. Tapi, semenjak bekerja menjadi penambang pasir, korban dan keluarga pindah ke Ogan Ilir. “Alamrhum meninggalkan isteri dan empat orang anak. Saya juga tak menyangka, kakak saya meninggal seperti ini. Padahal semasa hidupnya, korban sangat baik dan tak pernah ada musuh,” pungkasnya. (ded)

Publisher : Alwin

Lihat Juga

Propam Minta Kapolres Maksimalkan Pengawasan Anggota

Semarang, KoranSN Kepala Divisi Propam Polri Irjen Pol.Ferdy Sambo meminta para kapolres memaksimalkan pengawasan terhadap …