Refleksi 150 Tahun Lahat Bangkitkan Kabupaten Lahat Jadi Daerah Terdepan





Tampak keindahan Kota Lahat di malam hari. (foto-ist)

PADA tanggal 20 Mei 2019, Kabupaten Lahat genap berusia 150 tahun, Kabupaten Lahat ini berdiri pada tanggal 20 Mei 1869 yang kala itu bernama Afdeling Palembangsche Bovenlanden atau Afdeling Palembang Dataran Tinggi.

Dahulu Lahat merupakan pusat berbagai sektor seperti pemerintahan, militer, pendidikan dan perekonomian bagi daerah-daerah kekuasaan di bawahnya yang akhirnya berkembang menjadi 10 Kabupaten/Kota di sekitarnya.

150 tahun merupakan suatu usia yang sangat matang dan mapan bagi suatu daerah untuk membangun, apalagi di tunjang dengan sumber daya alam yang sangat melimpah baik yang ada di dalam bumi berupa batubara, minyak dan energi panas bumi. Dan juga sumber daya alam yang di permukaan bumi seperti pertanian, perkebunan dan pariwisata.

Kalau saja dari semua sektor tersebut satu atau dua sektor dikembangkan secara serius dan profesional, tentu akan membawa kemajuan dan kemakmuran bagi masyarakat dan pemerintah Kabupaten Lahat.

Sekarang timbul sebuah pertanyaan, apakah Kabupaten Lahat dan Kota Lahat sebagai ibukotanya sudah maju dan berkembang dengan sangat pesat sesuai dengan kematangan umurnya ? Jawabannya adalah belum seperti yang diharapkan.
Dari pendapatan daerah, Kabupaten Lahat di Sumatera Selatan masih di urutan ke-6 dan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) berada di urutan ke-8 se-Sumatera Selatan serta angka kemiskinan masih tergolong tinggi. Dimana berdasarkan update terakhir Maret 2019, berada di posisi ke-3 tingkat kemiskinan tertinggi di Sumatera Selatan.

Bicara secara realistis dan bukan untuk menyalahkan satu pihak atau pihak lainnya, tetapi kita mencari solusi agar kondisi yang ada dapat ditingkatkan menjadi lebih baik dan Kabupaten Lahat menjadi kabupaten terdepan dalam banyak bidang sesuai dengan kematangan umurnya.

Pemerintah Daerah Kabupaten Lahat harus berupaya keras untuk meningkatkan dan mengembangkan diri menjadi kabupaten yang terbaik. Kota Lahat sebagai ibukota kabupaten dan juga salah satu kota tertua di Sumatera Selatan, harus banyak berbenah diri. Misalnya, membangun gerbang kota yang lebih representative dengan motif gerbang yang berciri khas Lahat. Sehingga ketika orang luar yang baru masuk gerbang Kota Lahat mendapat kesan terbaik terhadap Kota Lahat.

Sebab, gerbang kota juga sebagai salah satu indikator kemajuan kota. Lalu, jalan-jalan kota dibangun lebih lebar menjadi dua lajur, di tengah jalur berupa pembatas jalan dan sekaligus menjadi taman. Hal ini bukan saja untuk kelancaran lalu lintas tetapi juga kota menjadi indah dan sejuk. Di kanan dan kiri jalan di bangun trotoar yang lebar dan nyaman untuk semua pengguna jalan, khususnya pejalan kaki. Juga lampu-lampu jalan yang mempercantik kota di malam hari.

Pasar-pasar yang ada di Kota Lahat harus direvitalisasi agar lebih baik, aman, indah dan nyaman. Kondisi yang ada sekarang sudah cukup memprihatikan, karena tidak ada kesan bersih, indah dan nyaman malah sebaliknya terkesan kotor dan kumuh.

Baca Juga :   Taman Safari Bogor Gelar Parade Sun Go Kong Selama Libur Imlek

Pasar-pasar yang ada selain sebagai tempat jual beli juga dapat dijadikan destinasi wisata dan ini akan menambah pendapatan daerah, seperti; Pasar Ikan Pike Place yang didirikan pada tahun 1930. Pasar ini adalah pasar ikan terbuka yang berlokasi di Seattle, Washington. Hal ini dikenal karena tradisi mereka, yaitu penjual ikan melempar ikan yang telah dibeli oleh pelanggan, sebelum dibungkus. Pasar ini sekarang menjadi tujuan wisata populer di Seattle, menarik hingga 10.000 pengunjung setiap hari dan sering disebut sebagai yang terkenal di dunia.

Lahan-lahan kosong dapat dijadikan taman kota yang akan memperindah wajah kota menjadi lebih hijau, untuk rekreasi bagi masyarakat kota, untuk menyerap gas karbon dioksida (CO2) yang banyak dihasilkan oleh kendaraan bermotor, mobil, pembakaran sampah dan sebaliknya menghasilkan O2 yang dibutuhkan kita.

Selain itu taman kota bisa ikut serta dalam rangka mencegah terjadinya banjir, karena air tidak akan langsung terbuang ke sungai /selokan tetapi diserap oleh tumbuhan yang ada di taman kota.

Dengan potensi pariwisata yang melimpah sudah seharusnya Pemda Kabupaten Lahat menjadikan sektor pariwisata menjadi salah satu pundi pendapatan daerah. Kabupaten Lahat sebagai pemilik air terjun terbanyak se-Indonesia (143 air terjun), pemilik situs megalitik terbanyak se-Indonesia (Rekor MURI tahun 2012), pemilik megalitik terbaik se-Indonesia (buku Lonely Planet terbit di Inggris), terowongan terpanjang ke-10 se Indonesia, bangunan heritage, sungai untuk rafting, rumah adat, pusat latihan gajah (1 dari 7 pusat latihan gajah se-Indonesia) bahkan Kabupaten Lahat pemilik bukit terunik di dunia, Bukit Serelo atau Bukit Jempol.

Seperti kita ketahui, banyak kota di banyak negara menggandalkan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan pendapatan daerah, karena sektor pariwisata dapat menghidupkan geliat ekonomi suatu daerah. Terbukti dari data The World Travel & Tourism Council (WTTC), ada kota-kota besar di dunia yang mayoritas Produk Domestik Bruto (PDB) berasal dari sektor pariwisata.

Hingga pada akhirnya, sektor pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian penduduk di daerah tersebut. Pendapatan dari sektor pariwisata tidak melulu tentang melihat keindahan alam atau budaya saja tetapi adaMICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dan olahraga juga memberi pemasukan yang tinggi untuk sektor pariwisata.

Sebagai contoh, beberapa kota di dunia dengan PDB tertinggi dari sektor pariwisata adalah Cancun (Meksiko), Orlando dan Miami (Amerika Serikat), Dubrovnik (Kroasia), Venesia (Itali), Dubai (Emirat Arab) dan Bangkok (Thailand). Di Indonesia sendiri, kota yang menggandalkan pariwisata sebagai sektor unggulan adalah Bali, Bandung, Banyuwangi dan Yogyakarta serta Aceh yang pada pertengahan tahun 2018 mencanangkan sektor pariwisata sebagai sektor unggulan.

Metode lain untuk meningkatkan pendapatan daerah, misalnya dengan mengoptimalkan penerimaan pendapatan daerah dari pajak dan restribusi. Dalam hal ini Kepala Daerah harus melakukan langkah konkrit agar sejumlah SKPD yang memiliki kewenangan penarikan pajak daerah dan retribusi benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik. Karena mungkin, beberapa wajib pajak kurang patuh dalam membayar pajak.

Baca Juga :   Tour de Singkarak 2021 Berpotensi Libatkan Tiga Provinsi

Misalnya, hotel atau penginapan tidak melaporkan tingkat hunian atau okupansi hotel/penginapan yang sebenarnya padahal hotel/penginapan sudah mengambil pajak dari konsumen dan pihak hotel/penginapan wajib melaporkan pajak yang telah dibayar oleh konsumen. Nah, untuk mengoptimalkannya maka di setiap hotel/penginapan di pasang tax monitor berupa alat khusus perkiraan pembayaran pajak pihak tertentu.

Bukan hanya hotel/penginapan yang harus di pasang tax monitor atau e-tax, akan tetapi juga rumah makan dan restoran. Jika semua hotel/penginapan, rumah makan dan restoran telah menyetorkan pajak yang di pungut dari konsumen dan disetorkan ke pemerintah maka dapat meningkatkan pendapatan daerah. Hal ini sudah dilakukan oleh beberapa hotel, rumah makan dan restoran di Indonesia, seperti Palembang yang mulai menerapkan akhir tahun 2018 sedang Banyuwangi sudah menerapkan e-tax sejak Juli 2018. Hasilnya, dalam 3 bulan setelah penerapan terjadi peningkatan sebesar 200 persen di sektor ini.

Begitu juga dengan kegiatan pertambangan yang ada di Lahat, dimungkinkan banyak pajak yang dapat diambil misalnya dari pajak alat-alat berat, pajak jual beli tanah yang dijadikan area pertambangan, pajak mobil truk yang mempunyai pelat no luar Lahat tetapi beroperasi di pertambangan di Lahat.

Cara lain untuk optimalisasi pendapatan daerah adalah menerapkan aturan, bahwa setiap unit usaha yang beroperasi di Lahat wajib memiliki badan usaha yang berdomisili di Lahat. Selama ini, mungkin banyak badan usaha yang alamat NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak), tidak berada di Lahat tetapi melakukan usahanya di Lahat.

Untuk hal ini, Pemda Kabupaten Lahat harus melakukan pendekatan agar semua unit usaha yang melakukan usaha di wilayah Kabupaten Lahat memindahkan pajak perusahaannya ke Kabupaten Lahat.

Untuk mewujudkan semua itu tentu harus ada dukungan semua pihak dan yang terpenting komitmen kepala daerah atau Chief Executive Officer (CEO). Karena peran kepala daerah atau CEO menentukan 50 % kesuksesan daerah dalam membangun. Dengan komitmen orang nomor satu di suatu daerah itu maka semua program dengan mudah akan berjalan atau tidak. Karena tugas pemimpin itu menentukan arah pembangunan dan mengalokasikan semua sumberdaya yang ada.

Semoga dengan momen peringatan hari lahir ke-150 Kabupaten Lahat akan menjadi awal kebangkitan Kabupaten Lahat, menjadi refleksi agar kedepan Kabupaten Lahat menjadi daerah terdepan dalam banyak bidang pembangunan menjadi Kabupaten Lahat Bercahaya. (mario andramatik)





Publisher : Awid Durrohman

Lihat Juga

Dispar Lombok Barat Siapkan 20 Desa Wisata Ikut ADWI Kemenparekraf

Lombok Barat, KoranSN Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat menyiapkan 20 desa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!