Ribuan Ekstasi Gagal Beredar di Palembang, Jaringan Pengedar Lintas Provinsi





 

Tiga tersangka kurir asal Palembang yang merupakan jaringan pengedar narkoba lintas provinsi saat diamankan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel, Kamis (16/2) . — Foto Ferdinand Deffryansyah/ koransn

Palembang, koransn.com

Jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumsel, Kamis (16/2) berhasil mengagalkan peredaran 1.232 butir ekstasi dan sabu seberat 320,19 gram yang hendak diedarkan di Kota Pelambang

Narkoba asal Aceh dan Medan yang diduga dikendalikan seorang narapidana di salah satu Lembaga Pemasyarakatan di Lampung ini, diamankan polisi dari tiga tersangka kurir asal Palembang yang merupakan jaringan pengedar narkoba lintas provinsi.

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Tommy Aria Dwianto menjelaskan, narkoba itu rencananya akan diserahkan ketiga tersangka kepada pemesan yang ada di Kota Palembang dan Lampung. Bahkan barang haram yang diamankan dari tangan tiga kurir yakni;  ‘EA’ (28), ‘FP’ (29), dan ‘WD’ (30) tersebut sebagian besarnya akan diedarkan di wilayah Palembang.

“Penangkapan ketiga tersangka itu merupakan hasil pengembangan terhadap tersangka-tersangka yang sebelumnya terlebih dulu kita amankan. Dalam kurun waktu dua minggu, kita melakukan pengintaian hingga berhasil menangkap tiga tersangka yang merupakan jaringan pengedar narkoba lintas provinsi tersebut. Para tersangka ditangkap di dua lokasi berbeda yakni; di kawasan Talang Kramat, dan di kawasan Jalan Segaran 17 Ilir Palembang,” katanya.

Menurut Tommy, tersangka ‘EA’, dan ‘FP’ ditangkap di kawasan Talang Kramat, dari kedua tersangka diamankan barang bukti 1.232 butir ekstasi dan 270 gram sabu yang akan diserahkan kedua kurir itu ke seoarang bandar di Palembang. Kemudian ketika dilakukan pengembangan, keesokan harinya pihaknya kembali menangkap tersangka  ‘WD’ yang sedang mengendarai sepeda motor di kawasan Jalan Segaran 17 Ilir, polisi mendapati paket sabu di saku celana tersangka.

“Ribuan ekstasi warna merah berlogo LC dan ekstasi warna biru berlogo kran asal Aceh yang dibawa tersangka ‘EA’ dan ‘FP’ serta sabu asal Medan yang dibawa tersangka ‘WD’ sebagian besar akan di edarkan di Palembang dan sisanya akan di bawa ke Lampung. Jika berhasil mengantarkan pesanan tersebut, ketiga kurir masing-masing akan mendapatkan upah masing-masing sebesar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta dari seorang narapidana salah satu Lembaga Pemasyarakatan di Lampung berinisial ‘A’ yang diduga sebagai pengendali jaringan narkoba lintas provinsi ini serta sekaligus pemesan barang haram tersebut,” ungkapnya.

Baca Juga :   Sarimuda-Abdul Rozak Pastikan Maju Berpasangan

Dilanjutkan Tommy, dalam kasus ini ketiga terangka dikenakan Pasal 114 ayat (2) jo Pasal 112 ayat (2) UU No 35 Tahun 2009.

“Dengan ancaman minimal penjara seumur hidup dan maksimal hukuman mati,” tegasnya.
Sementara tersangka ‘EA’ dan ‘FP’ mengaku, narkoba tersebut dititipkan kepadanya oleh seseorang yang tak diketahui namanya. Narkoba itu rencananya sebagaian besar akan diambil pemesannya di Palembang, kemudian sisanya akan dibawa ke Lampung.

“Jika sampai di Lampung, narkoba itu sudah ada yang mengambilnya, kami tak tak tahu siapa yang akan mengambil barang ini. Namun kata polisi, kami ini suruhan seorang Napi yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan di Lampung,” tandasnya.

‘Home Industri Senpira’

Sementara itu jajaran Satreskrim Polres OKI juga menyergap dan menangkap dua tersangka perakit Senpira yakni; ‘LO’ (23) serta ‘SL’ (20), di Desa Sungai Ceper Dusun V Kecamatan Sungai Menang Kabupaten OKI. Ditempat yang memang sudah dikenal atau sebagai sarang home industry senpira ini, polisi  menyita sejumlah alat pembuat seperti bor besi, besi plat baja, batangan besi yang digunakan untuk membuat silinder revolver, beberapa senpi revolver yang sudah jadi, gergaji besi, kir, amunisi aktif,  dan satu senpi laras panjang yang hampir selesai.

Baca Juga :   Angkot Terbang di Fly Over, Truk Kontainer Tabrak Pagar Jembatan Musi II

Kapolres OKI AKBP Amazona Pelamonia mengatakan, penggrebekan home industri Senpi ini, berkat adanya informasi masyarakat. Dari laporan itu,  pihaknya langsung menurunkan anggota untuk melakukan penyelidikan dan setelah satu minggu melakukan penyelidikan pihaknya menangkap dua tersangka dan sejumlah barang buktinya.

Menurutnya, pembuatan senpi illegal di dua rumah tersebut sudah dilakukan sejak lama tetapi sempat berhenti dan mulai kembali memproduksi sejak 4 bulan terakhir ini. Dalam seminggu untuk satu rumah ini  para tersangka bisa membuat satu senpi jenis revolver. Tersangka membuat Senpi jika ada pemesannya, 1 Senpi bermodalkan Rp 300- Rp 400 ribu dan dijual kepada pemesan Rp 2 juta- Rp 2,5 juta. Senpi buatan tersangka juga sudah sangat rapi dan 95% mirip dengan senpi asli.

“Senpi yang dibuat disesuaikan dengan pelurunya yang sudah ada. Untuk membuat silindernya, tersangka menyesuaikan dengan ukuran amunisi yang tersedia. Kami masih mengembangkan kasus ini termasuk untuk mengetahui asal peluru karena ini terorganisir,” jelasnya.

Tersangka ‘LO’ mengaku mulai aktif lagi membuat Senpi sejak 4 bulan terakhir.  Sebenarnya ia sudah lama atau 2 tahun bisa membuat Senpi tapi pernah vakum. Namun ada warga yang memesan maka produksi kembali dilakukan.

“Pemesannya dari Desa Pagar Dewa  Kecamatan Mesuji OKI, Lampung dan daerah lain. Sudah hampir 20 Senpi yang terjual,” tandasnya. (den/iso)

Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel, Kombes Pol Tommy Aria Dwianto beserta jajaran saat merilis tangkapan narkoba dan para tersangka Direktorat Polda Sumsel, Kamis (16/2).-foto ferdinand/koransn




Publisher : Ferdin Ferdin

Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

KPK Periksa Pihak Bank Untuk Dalami Aliran Uang Dugaan Korupsi Pengangkutan Batu Bara BUMD Pemprov Sumsel

Palembang, KoranSN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (2/12/2022) memeriksa saksi dari pihak bank untuk mendalami …

error: Content is protected !!