Ruwetnya Kemacetan Palembang

Suasana kemacetan di atas Jembatan Ampera beberapa waktu lalu. (foto-dok/ferdinand/koransn.com)

Perkembangan Kota Palembang sebagai kota metropolitan memang patut diacungi jempol. Di berbagai sisi kota, tampak bangunan-bangunan besar bermunculan, mulai dari hotel, mall hingga ruko-ruko bertingkat. Namun, perkembangan ini, tampaknya tidak dibarengi dengan tata kota dan pengembangan jalan yang memadai. Akibatnya, kemacetan pun terjadi hampir di semua titik jalan, terutama di jam-jam sibuk warga.

Memang pihak berwenang bukannya tanpa usaha untuk mengatasi kemacetan ini, mulai dari pemangkasan hingga rencana penstopan operasional bus kota tahun 2018 mendatang, pembangunan sejumlah jembatan untuk mengurai kemacetan, dan yang terbaru ini penerapan sistem one way atau jalan satu arah di Jalan Dhani Effendi (Radial), Jalan POM IX dan Jalan Angkatan 45, namun berbagai langkah ini masih sulit untuk mengatasi kemacetan.

Jika dilihat kasat mata, penerapan one way hanya memindahkan titik kemacetan bukannya mengurai kemacetan. Ini terbukti dengan munculnya sejumlah titik macet baru, seperti di Jalan KH Ahmad Dahlan dan jalan-jalan menuju Bukit Besar dan lainnya.

Mungkin kita bisa berkaca dari negara tetangga, Singapura ataupun Malaysia. Kedua negara ini bisa dikatakan berhasil menghilangkan kemacetan kota. Seperti Singapura, sebagai salahsatu negara maju di benua Asia, Negeri Singa tidak lagi mengenal macet.

Baca Juga :   Hentikan Korupsi dari Lingkungan Terkecil

Dari berbagai sumber yang didapat, kedua negara menerapkan sejumlah langkah jitu untuk menghilangkan kemacetan. Caranya, dengan memberlakukan pajak kendaraan yang sangat tinggi, sehingga warganya harus berpikir dua kali untuk membeli kendaraan pribadi. Dengan penerapan itu, Singapura berhasil menekan angka pertumbuhan kendaraan.

Di sisi lain, Singapura juga memberikan kenyamanan kepada warganya untuk menikmati transportasi publik. Mulai dari Mass Rapid Transit atau MRT, LRT, angkutan massal (bus) dan layanan publik lainnya.

Selain sistem pajak yang sangat tinggi terhadap kendaraan bermotor, Singapura juga menerapkan harga jual mobil yang sangat tinggi. Dan juga masyarakat hanya boleh menggunakan mobil yang sama selama 10 tahun saja.

Tidak sampai disitu, Singapura juga menerapkan biaya parkir yang sangat tinggi mencapai 200 Dollar Singapura per jamnya. Menerapkan plat bermotor berwarna merah dan hitam, untuk plat merah sendiri hanya boleh digunakan pada weekend saja dan pajaknya tentu leih murah daripada plat hitam, sedangkan plat hitam boleh digunakan setiap hari tetapi harus menanggung pajak yang tinggi.

Baca Juga :   Ketika Rupiah Tak Kujung Menguat

Sementara Pemerintah Malaysia, membangun sistem transportasi bus dan kereta api secara terintegrasi, lalu menciptakan KL Sentral yang mana tempat pertemuan berbagai moda transportasi dalam satu kawasan. Pemerintah Malaysia membuat terobosan smart way (jalan bebas hambatan bawah tanah yang bisa untuk mengurai kemacetan dan sekaligus juga bisa sebagai drainase banjir).

Berbagai langkah yang diambil negara tetangga ini, seyogyanya dapat dicontoh Pemerintah Indonesia, khususnya Palembang. Pejabat berwenang harus mampu menciptakan transportasi publik yang aman dan nyaman, sehingga warga tertarik untuk menggunakannya, tentunya dengan ongkos yang tidak memberatkan.

Pajak tinggi juga harus diterapkan untuk menekan angka pertumbuhan kendaraan. Bisa dibayangkan, jika kendaraan terus tumbuh sementara ruas jalan tetap. Langkah apapun yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kemacetan hampir dipastikan sia-sia, karena padatnya kendaraan.

Satu kata yang tidak kalah pentingnya, yaitu kesadaran masyarakat untuk taat berlalu lintas, dan kesadaran untuk menggunakan transportasi publik yang disediakan pemerintah. Dengan demikian, asa menyaksikan Kota Palembang bebas macet, bukanlahhayalan semata. (Anton Wijaya)



Publisher : Imam Ndn

Lihat Juga

Kapal Pengangkut Batubara Tabrak Plaza Dermaga 7 Ulu

Palembang, KoranSN Sebuah kapal tongkang pengangkut batubara menabrak Plaza Dermaga 7 Ulu, Kota Palembang, menyebabkan …

error: Content is protected !!