Sejarah Kerajaan Suku Lime di Desa Pagar Lahat (Bagian II)

Jembatan gantung di desa Pagar Batu. (foto-ist)

PAGAR Batu merupakan sebuah desa di Kecamatan Pulau Pinang Kabupaten Lahat Provinsi Sumsel. Di desa ini selain memiliki jembatan gantung terpanjang dengan panjang 310 meter, ternyata merupakan tempat berdirinya sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Suku Lime.

Awal terbentuknya Kerajaan Suku Lime ditandai dengan kedatangan Raden Patah pada tahun 1500 masehi ke daerah, yang sekarang disebut Desa Pagar Batu. Raden Patah merupakan raja pertama, dan pendiri kerajaan Demak Bintoro yang saat ini berada di Provinsi Jawa Tengah.

Raden Patah mempunyai banyak nama dan gelar, seperti Pate Rodim, Tan Eng Hwa, Aryo Timur, Senopati Jimbun, Panembahan Jimbun, Sultan Syah Alam Akbar al Fatah, dan Senopati Jimbun Ningrat Abdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.

Raden Patah terus mengembangkan syiar Islam ke seluruh penjuru pulau Jawa, dan melanjutkan syiar Islam menuju pulau Sumatera. Raden Patah bersama istri, seorang anaknya dan pasukannya menuju Sumatera Selatan, yaitu Palembang yang tidak lain adalah tanah kelahirannya sendiri.

Kemudian, Raden Patah terus berlayar menyusuri Sungai Musi dan terus masuk ke Sungai Lematang dan menetaplah di suatu daerah yang saat ini bernama Desa Pagar Batu.

Baca Juga :   Liburan Mewah dan Tak Terduga di USA

Di Desa Pagar Batu inilah, Raden Patah mulai menyebarkan syiar Islam dan membangun komunitas yang kemudian mendirikan sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Suku Lime. Kerajaan Suku Lime saat ini meliputi Desa Pagar Batu, Desa Jati, Desa Muara Siban, Desa Selawi dan Desa Muara Temiang.

Di kelima desa ini masih ada Ketua Adat atau Jurai Tue, keturunan Raden Patah yang dapat menjelaskan silsilah keturunan Raden Patah berikut benda-benda pusaka yang selalu dirawat dengan baik oleh para Jurai Tue.

Untuk di Desa Pagar Batu sendiri, saat ini masih terpelihara dengan baik petilasan Raden Patah berupa kuburan kuku dan rambut yang berada di dekat rumah Jurai Tue, dan tak jauh dari rumah adat atau Ghumah Baghi.

Ghumah Baghi berbahan kayu berkwalitas tinggi dengan ukiran pada dindingnya menggambarkan keagungan dan kemegahan. Juga ada pemakaman istri dan anak-anak Raden Patah. Batu nisan pada pemakaman ini berupa nisan batu berukir yang mempunyai kemiripan dengan nisan-nisan batu yang berada di Demak.

Baca Juga :   ASITA: Pelaku Wisata di NTT Mulai Layani Kunjungan Wisatawan

Keturunan kelima desa tersebut merupakan keturunan langsung Raden Patah, saat ini dipimpin oleh Bur Maras yang telah dinobatkan sebagai Raja Kerajaan Suku Lime dengan gelar Ratu Prabu Sira Alam Muda.

Keberadaan Kerajaan Suku Lime di Kabupaten Lahat Provinsi Sumsel, merupakan suatu kekayaan budaya dan sejarah yang menjadi kebanggaan kita dan harus kita jaga dan lestarikan keberadaannya. Masyarakat Kabupaten Lahat dan Sumsel harus mengetahui dan turut serta mengenalkan kepada masyarakat luas. (tamat/mario andramartik)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Garut Siapkan Program “Digital Tourism” Untuk Kenyamanan Berwisata

Garut, KoranSN Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut, Jawa Barat telah menyiapkan konsep penerapan program” digital tourism” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.