Sejumlah Kadis Diduga Patungan Uang Tuk Amankan Pembahasaan APBD dan LKPJ

Dari kiri ke kanan – Syahril A Rahman, Rislani A Gafar, Pandi Triawan alias Pandi, M Bukhori saat menjadi saksi di PN Tipikor Palembang. (Foto-Ferdinand/Koransn)

Palembang, KoranSN

Sejumlah Kepala Dinas (Kadis) di Pemkab Banyuasin diduga memberikan uang patungan untuk mengamankan pembahasaan APBD dan LKPJ Bupati Banyuasin tahun 2015 dan tahun 2016. Demikianlah dikatakan, Asisten II Setda Pemkab Banyuasin, Rislani A Gafar, Kamis (23/2/2017) dalam persidangan kasus OTT Banyuasin di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kelas I A Palembang.

Asisten II dihadirkan di persidangan tersebut untuk menjadi saksi terdakwa Yan Anton Ferdian, Umar Usman (Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin), Sutaryo (Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Banyuasin), Rustami (Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Setda Banyuasin) dan terdakwa Kirman (Direktur PT Aji Sai).

Dalam kesaksiannya, Rislani A Gafar mengungkapkan, dirinya mengetahui adanya dugaan patungan uang tersebut karena ia yang mengumpulkan para kepala dinas di Banyuasin berdasarkan perintah bupati saat itu Yan Anton, yang disampaikan kepadanya melalui Sekda Banyuasin, Firmansyah.

“Jadi mendekati pembahasaan APBD dan LKPJ tahun 2015 dan juga pembahasaan APBD dan LKPJ tahun 2016. Ketika itu, Sekda memanggil kemudian menyampaikan agar saya mengumpulkan sejumlah kepala dinas yang bisa diajak komunikasi saja. Mereka yang saya kumpulkan diantaranya, Kepala Dinas PUCK, Kepala Dinas PUBM, Kepala Dinas PU Perairan dan Kepala Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pertambangan. Setelah kumpul, barulah saya sampaikan agar mereka memberikan bantuan dengan patungan uang, yang uangnya akan diberikan ke DPRD Banyuasin untuk pembahasaan APBD dan LKPJ, jadi ada dua kali saya mengupulkan para Kadis yakni; tahun 2014 untuk pembahasan APBD dan LKPJ tahun 2015 serta tahun 2014 untuk pembahasaan APBD dan LKPJ tahun 2016,” ungkap Rislani A Gafar saat memberikan kesaksian dalam persidangan.

Masih dikatakan Rislani A Gafar, dari sejumlah kepala dinas yang telah dikumpulkan diantaranya ada yang tidak mau memberikan uang. Untuk itulah, dirinya menyampaikan kepada Sekda Firmansyah.

“Yang tidak mau memberikan bantuan uang yakni Kepala Dinas Pertambangan saat itu, Syahril A Rahman. Syahril kini menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banyuasin. Setelah saya sampaikan, selanjutnya Sekda menyampaikannya kepada Yan Anton. Informasi yang saya terima, usai dipanggil Yan Anton barulah Syahril memberikan uang,” jelasnya.

Baca Juga :   Belasan Wanita Penghibur Terjaring Razia Pol PP

Lanjut Rislani A Gafar, dirinya tidak tahu berapa jumlah semua uang yang diberikan para kepala dinas. Sebab, ketika itu dirinya hanya bertugas mengumpulkan kepala dinas saja lalu menyampaikan permintaan uang untuk pembahasan APBD dan LKPJ.

“Saya tidak tahu berapa uang yang terkumpul, sebab para kepala dinas memberikan uangnya ke Bendahara Setda Banyuasin, M Bukhori,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, mantan Kepala Dinas Pertambangan yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Banyuasin,  Syahril A Rahman yang juga saksi dalam persidangan membenarkan kesaksian Asisten II Setda Pemkab Banyuasin, Rislani A Gafar.

“Benar kami memang pernah dikumpulkan Asisten II. Ketika itu, Asisten II meminta kami memberikan uang, tapi saat itu awalnya saya tolak dan tidak mau memberikannya. Tak lama kemudian, saya dipanggil Yan Anton, dalam pertemuan itu Yan Anton menyampaikan kepada saya agar saya dapat memberikan bantuan uang semampunya. Dari itulah akhirnya saya memberikan uang Rp 10 juta, uang ini saya serahkan kepada Bendahara Setda Banyuasin, M Bukhori,” jelasnya.

Sementara Bendahara Setda Banyuasin, M Bukhori mengutarakan, dirinya mengumpulan uang dari para kepala dinas tersebut setelah diperintah Sekda Banyuasin, Firmansyah.

“Kata Pak Sekda kumpulkan dan simpan uang dari serahan kepala dinas itu. Dari itulah, uangnya dikumpulkan dengan cara menyimpan di kantor. Waktu itu, saya tidak tahu berapa total uang yang telah terkumpul. Saya baru mengetahuinya, saat Sekda dan Merki Bakri (mantan Kepala Dinas Pendidikan yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata Banyuasin) meminta saya membuka semua bungkusan uang lalu menyerahkannya ke Sutaryo, ketika itulah saya tahu uangnya ada Rp 2 miliar, lalu semuanya saya serahkan ke Sutaryo,” ujarnya.

Tak lama uang tersebut diserahkan ke Sutaryo, sambung M Bukhori, dirinya lalu ditelpon Merki Bakri. Dalam telpon Merki memintanya mengajak Pandi Triawan alias Pandi (sopir Sekda) untuk menemui Merki di salah satu hotel di Jalan Jendral Sudirman.

“Setiba di sana, kami bertemu Sutaryo dan Merki. Kemudian mereka berdua mengajak kami naik ke kamar di lantai atas. Saat itulah, Sutaryo menyerahkan koper ke Pandi dan saya. Setelah itu, dengan mobil terpidah Merki Bakri mengajak kami ke parkiran salah satu Rumah Sakit di Jalan Demang Lebar Daun. Setiba di lokasi, ternyata sudah ada mobil yang menunggu, tapi karena saat itu malam jadi saya kurang jelas jenis mobil itu apa. Nah, saat itulah Merki mengambil koper yang ada di mobil kami, kemudian memindahkan koper ke dalam mobil yang telah menunggu tersebut,” jelasnya.

Baca Juga :   Pisah dengan Isteri, Oknum PNS di 9 Ilir Konsumsi Sabu Selama 5 Tahun

Lebih jauh diungkapkannya, dalam perkara ini dirinya bersama Pandi juga pernah diperintah Sekda Firmansyah mengantarkan uang di dalam plastik kresek diduga untuk Agus Salam dan juga diduga untuk Askolani, yang uangnya diberika kepada Agus Salam di pinggir Jalan Soekarno Hatta Palembang.

“Uang itu saya dan Pandi yang memberikannya. Untuk nominalnya terdiri dari; uang Rp 1 miliar diduga untuk Agus Salam dan uang Rp 500 juta diduga untuk Askolani yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Banyuasin,” jelasnya.

Sedangkan Pandi Triawan alias Pandi (sopir Sekda) dalam kesaksiannya menjelaskan, jika untuk plastik kresek yang diduga diberikan kepada Agus Salam dan Askolani diperolehnya dari Sutaryo.

“Jadi, uang yang di plastik kresek itu kami peroleh dari Sutaryo di dekat salah satu ATM di kawasan KM 5. Setelah itu, uangnya kami serahkan ke Agus Salam di Jalan Soekarno Hatta. Sedangkan untuk uang di koper yang kami bawa bersama Merki Bakri ke parkiran salah satu rumah sakit di Jalan Demang Lebar Daun itu, bukan kami yang menyerahkan kopernya. Tapi ketika kami tiba di lokasi, Merki menyerahkan koper itu ke seseorang yang ada di dalam mobil yang telah menunggu di parkiran tersebut. Setelah itu, saya dan Buchori pergi meninggalkan lokasi,” tandasnya.

Usai mendengarkan keterangan dari para saksi, Mejelis Hakim diketuai, Arifin SH MH dengan hakim anggota Paluko Hutagalung SH MH dan Haridi SH MH, menunda sidang hingga minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi lainnya. (ded)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

Polres Solok Tangkap Empat Pelaku Penyalahgunaan Narkotika

Solok, KoranSN Kepolisian Resor (Polres) Solok Kota menangkap empat pelaku penyalahgunaan narkotika jenis sabu-sabu di …