Setelah Bentrokan, Otoritas Sudan Kerahkan Pasukan ke Darfur Barat



Seorang pria terlihat di dalam sebuah rumah yang terbakar hangus saat bentrok antara pengembara dan penduduk di desa Deleij, terletak di lokalitas Wadi Salih, Central Darfur, Sudan. (foto-antaranews)

Khartoum, KoranSN

Otoritas Sudan akan mengerahkan pasukan militer ke Darfur Barat dan menangguhkan pembicaraan damai dengan kelompok pemberontak selama 24 jam setelah pecahnya bentrokan mematikan di sekitar al-Junaynah, ibu kota Distrik Darfur Barat.

Tidak ada rincian skala penyebaran atau bentrokan di sekitar al-Junaynah, tetapi Menteri Informasi Faisal Saleh mengatakan, kepala dewan penguasa transisi Sudan dan perdana menteri akan mengunjungi kota itu.

Pesawat akan dikirim untuk mengevakuasi yang terluka ke ibukota, Khartoum, kata Faisal Saleh, Selasa (31/12/2019).

Baca Juga :   2.600 Penerbangan di China Ditunda di Tengah Puncak Arus Mudik

Seorang warga dari al-Junaynah mengatakan kepada Reuters, bahwa kekerasan berkobar setelah seorang tentara dari Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter ditikam hingga mati dengan dua kerabatnya sebagai pembalasan atas insiden di mana penduduk setempat ditabrak mobil.

Pada Senin, kelompok-kelompok Arab menanggapi kematian prajurit itu menyerbu kamp-kamp orang terlantar di dekat al-Junaynah.

Mereka membunuh orang dan ternak di al-Junaynah dan tempat pengungsian yang disebut sebagai serangan balas dendam, ujar warga setempat.

Tidak jelas berapa banyak orang yang terbunuh dan terluka. Pemerintah daerah mengumumkan jam malam di Darfur Barat.

Otoritas transisi Sudan, yang mengambil alih kekuasaan setelah mantan Presiden Omar al-Bashir digulingkan pada April setelah pemberontakan rakyat, telah mengadakan pembicaraan dengan kelompok pemberontak untuk mengakhiri konflik di beberapa daerah di negara itu, termasuk Darfur.

Baca Juga :   Aung San Suu Kyi Ditahan Militer, Negara Lain Serukan Pembebasan

Konflik pecah di Darfur pada 2003 setelah sebagian besar pemberontak non-Arab bangkit melawan Khartoum. Hingga 300.000 orang telah tewas dan 2,7 juta orang terlantar, menurut perkiraan PBB.

Pasukan pemerintah dan terutama milisi Arab yang dikenal sebagai Janjaweed, beberapa di antaranya laki-laki kemudian dimasukkan dalam Pasukan Dukungan Cepat (RSF), dituduh melakukan kekejaman selama konflik, tuduhan yang ditolak oleh pihak berwenang pada saat itu. (Antara/Reuters/ded)

Publisher : Awid Durrohman

Lihat Juga

AS Kecewa China Tolak Penyelidikan Asal Usul COVID-19

Washington, KoranSN Gedung Putih pada Kamis (22/7/2021) mengaku “sangat kecewa” dengan keputusan China yang menolak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.