Penyerahan Dokumen Syarat Minimal Dukungan Pasangan Calon Perseorangan Dalam Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Tahun 2020

Sidang Dugaan Korupsi Kredit Rugikan Negara Rp 13 M, Pihak Bank Sumsel Babel dan PT Rekind Saling Bantah

Yudo Adiyasmoko pegawai bagian keuangan PT Tesko Indonesia saat diperiksa sebagai saksi di PN Palembang, Kamis (12-12).-(FOTO/Ferdinand/KoranSN)

Palembang, KoranSN

Saksi dari pihak Bank Sumsel Babel (BSB) dan saksi dari PT Rekayasa Industri (Rekind), Kamis (12/12/2019) saling bantah dalam persidangan tentang penandatangan terkait pembayaran hasil pekerjaan proyek pipa di PT Pusri Palembang yang dikerjakan oleh PT Gatramas Internusa.

Hal tersebut terjadi dalam sidang lanjutan dugaan korupsi kredit modal kerja kerja (KMK) Bank Sumsel Babel ke PT Gatramas Internusa yang menimbulkan kerugian negara Rp 13 miliar, dengan terdakwa Ir Augustinus Judianto di Pengadilan Negeri Tipikor Palembang.

Saling bantah tersebut antara saksi Wisnu Wardana dan Anton yang keduanya pegawai Analis Kredit Bank Sumsel Babel, dengan saksi Nendroyogi Hadiputro selaku mantan GM Corporate Finance PT Rekind, yang kini menjabat Direktur Keuangan PT Pupuk Indonesia Energi, disaat Majelis Hakim mengkonfrontir keterangan dari para saksi tersebut.

Dalam persidangan, awalnya Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH didampingi Hakim Anggota Adi Prasetyo SH MH dan Dr Saepudin SH MH mengajukan pertanyaan kepada saksi Wisnu Wardana dan Anton terkait apakah kedua saksi mendatangi PT Rekind untuk memberitahukan jika PT Gatramas Internusa selaku sub kontraktor dari PT Rekind mendapat fasilitas kredit modal usah dari Bank Sumsel Babel.

“Saksi Wisnu Wardana dan Anton apakah kalian pernah bertemu dengan pihak Rekind terkait kredit yang diberikan kepada PT Gatramas Internusa,” tanya hakim.

Kemudian satu persatu saksi Wisnu Wardana dan Anton bergantian mengungkapkan jika mereka pernah mendatangi PT Rekind dan bertemu dengan saksi Nendroyogi Hadiputro, yang saat itu menjabat sebagai GM Corporate Finance PT Rekind.

Dikatakan Wisnu Wardana, jika dirinya yang pertama kali ke kantor PT Rekind. Kedatangannya saat itu untuk melakukan pertemuan dan tandatangan kontrak kredit modal kerja antara dirinya selaku perwakilan pihak Bank Sumsel Babel, PT Gatramas Internusa selaku sub kontrakor pekerjaan proyek pipa di PT Pusri Palembang dengan Nendroyogi Hadiputro selaku pihak PT Rekind yang merupakan perusahaan kontraktor yang membayar hasil pekerjaan PT Gatramas Internusa.

“Pertemuan tersebut dilakukan sebelum kredit diberikan kepada PT Gatramas Internusa. Dimana saat itu yang menggelar pertemuan yakni saya, Hery Gunawan (telah meninggal dunia) dan terdakwa selaku pihak dari PT Gatramas Internusa, serta Nendroyogi Hadiputro dari PT Rekind. Sebelum penandatanganan, saya sampaikan kepada Pak Nendroyogi Hadiputro jika PT Gatramas Internusa mendapatkan kredit modal dari BSB, sehingga untuk hasil pekerjaan PT Gatramas Internusa di PT Pusri agar dibayarkan ke rekening Bank Sumsel Babel. Saat itu Pak Nendroyogi Hadiputro mengiyakan lalu kami semua, termasuk Pak Nendroyogi Hadiputro melakukan tandatangan kontrak,” paparnya.

Kesaksian saksi Wisnu Wardana langsung dikonfrontir oleh Ketua Hakim kepada saksi Nendroyogi Hadiputro di persidangan.

“Saksi Nendroyogi Hadiputro benar ada pertemuan itu?,” tanya Hakim.

Dijawab saksi Nendroyogi Hadiputro jika dirinya tidak pernah melakukan pertemuan tersebut.

“Tidak ada, saya tidak pernah bertemu dan saya juga tidak melakukan tanda tangan itu,” ujar saksi Nendroyogi Hadiputro.

Setelah itu, giliran saksi Anton selaku pegawai Analis Kredit Bank Sumsel Babel yang diminta Hakim memberikan keterangan terkait pertemuan dengan dengan saksi Nendroyogi Hadiputro.

Diungkapkan saksi Anton, dirinya melakukan pertemuan kepada saksi Nendroyogi Hadiputro setelah PT Gatramas Internusa mendapatkan fasilitas kredit modal usaha dari Bank Sumsel Babel.

“Saya datang langsung ke Kantor PT Rekind di Jakarta dan saat itu saya bertemu dengan saksi Nendroyogi Hadiputro. Dalam pertemuan itu saya mengkonfirmasi, dan menyampaikan kepada Nendroyogi Hadiputro kalau Bank Sumsel Babel sudah menyalurkan kredit ke PT Gatramas Internusa, sehingga dalam pembayaran hasil pekerjaan PT Gatramas Internusa di PT Pusri yang dilakukan PT Rekind selaku pihak kontraktor sesuai kontrak perjanjian kredit dibayarkan melalui rekening Bank Sumsel Babel. Ketika itu Pak Nendroyogi Hadiputro mengatakan kepada saya dengan perkataan, iya saya sudah tahu ada fasilitas kredit itu,” terangnya.

Baca Juga :   Satu Keluarga di Sukarami Keracunan Asap Genset, 1 Tewas 2 Kritis

Namun saat dikonfrontir Majelis Hakim saksi Nendroyogi Hadiputro juga membantah telah melakukan pertemuan dengan saksi Anton.

“Saya tidak bertemu dengan saksi Anton. Yang Mulia Majelis Hakim, saya sampaikan yang ada hanya Bank Sumsel Babel mengirimkan surat ke PT Rekind, dan surat itu diterima setelah masalah kredit ini terjadi. Jadi saya belum pernah dan tidak pernah bertemu dengan saksi,” tandasnya.

Setelah mendengar keterangan para saksi, Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH mengungkapkan, keterangan saksi yang mengaku tidak bertemu dan tidak melakukan tandatangan itu merupakan hak dari saksi.

“Itu hak saksi ya tidak mengaku, namun kami Mejalis Hakim bisa menilai dan mempertimbangkan ketarangan dari saksi,” tegas Hakim.

Terkait keterangan saksi Nendroyogi Hadiputro yang mengaku tidak pernah bertemu dengan saksi Wisnu Wardana dan Anton membuat Jaksa Penutut Umum (JPU) menujukkan bukti berkas yang ditandatangan saksi Nendroyogi Hadiputro, saat pertemuan dilakukan di PT Rekind kepada Majelis Hakim.

Bukan hanya itu, JPU juga membacakan hasil pemeriksaan BAP saksi Hery Gunawan selaku Direktur PT Gatramas Internusa yang telah meninggal dunia dalam persidangan. Dimana dalam BAP tersebut Hery Gunawan mengaku ikut menghadiri pertemuan dengan saksi Wisnu Wardana dan Nendroyogi Hadiputro ketika kredit masih dalam proses pengajuan di BSB.

“Saya ikut dalam penandatangan di PT Rekind tersebut, dimana ada Pak Wisnu dari BSB dan Pak Nendroyogi Hadiputro dari PT Rekind. Setelah penandatangan tersebut, keesokan harinya saya dan Augustinus Judianto (terdakwa) ke Kantor Bank Sumsel Babel di Palembang guna melakukan penandatangan pernjanjian kontrak dengan pihak bank,” ungkap Jaksa Penutut Umum membacakan BAP Hery Gunawan di persidangan.

Selain itu, dalam persidangan tersebut juga dihadirkan saksi Yudo Adiyasmoko selaku pegawai bagian keuangan di PT Tesco Indonesia.

Dikatakan Yudo, jika tahun 2011 PT Gatramas Internusa membeli mesin bor untuk tambang minyak jenis Top Drive Brand Tesco USA Type 500 HC750 Hidraulic Top Drive Sistem, yang belakangan diketahuinya saat diperiksa penyidik kejaksaan jika mesin tersebut dijadikan oleh terdakwa sebagai agunan meminjam kredit di Bank Sumsel Babel.

“Jadi PT Gatramas Internusa membeli mesin itu kepada kami tahun 2011, saat dibeli kondisi mesin bukan baru tapi second dan yang membelinya yakni Pak Augustinus Judianto (terdakwa) melalui sales kami di PT Tesco Indonesia. Dalam pembelian tersebut saya yang menyiapkan invoice bukti pembelian dan fakturnya, kemudian ditandatangani oleh atas saya yakni Direktur PT Tesco Indonesia Enjo Mina. Adapun harga mesin yang saat itu kami jual, yakni seharga 803 ribu US dolar yang kalau dirupiahkan saya tidak terlalu ingat mungkin sekitar Rp 7,5 miliar,” ungkapnya.

Mendengar keterangan saksi membuat Jaksa Penuntut Umum, Adi Purnama menujukkan dua surat berupa bukti yang tertera tandatangan Direktur PT Tesco Indonesia Enjo Mina kepada Majelis Hakim yang juga disaksikan oleh saksi.

Baca Juga :   21 Calon Jamaah Umroh Melapor, Polda Sumsel Police Line Kantor Abu Tours Palembang

Usai melihat dua surat tersebut, saksi Yudo Adiyasmoko mengatakan, jika keduanya merupakan berkas invoice pembelian mesin yang dibeli PT Gatramas Internusa. Akan tetapi salah satu surat tandatangan yang tertara berbeda dengan tandatangan Direktur PT Tesco Indonesia, Enjo Mina.

“Saya bagian keuangan jadi saya hafal dan paham dengan bentuk tanda tangan Direktur PT Tesco Indonesia, Enjo Mina. Dari dua surat yang ditunjukan JPU, salah satunya bukan tandatangan Enjo Mina selaku direktur perusahaan tempat saya bekerja Yang Mulia Majelis Hakim,” terangan saksi.

Lalu JPU Adi Purnama mengungkapkan, jika dalam perkara ini diduga terdakwa memalsukan harga invoice bukti pembelian mesin bor minyak yang kemudian surat invoice yang dipalsukan tersebut dipergunakan untuk berkas persyaratan pengajuan kredit ke Bank Sumsel Babel.

“Ini ada dua surat invoice, yang satu terulis harga pembelian 830.000 US Dolar atau senilai 7,5 miliar rupiah yang ditandatangani Direktur PT Tesco Indonesia, Enjo Mina. Kemudian untuk surat kedua sama, yakni surat invoice, akan tapi di dalamnya tertera jika harga pembelian mesin itu seharga 1,4 juta US Dolar atau senilai Rp 15 miliar lebih, dan tandatangan yang tertera dari keterangan saksi Yudo Adiyasmoko tidak sama dengan tandatangan Direktur PT Tesco Indonesia Enjo Mina,” kata Adi Purnama menjelaskan barang bukti yang diharikannya dalam persidangan.

Sedangkan Ir Redi Ferianto yang juga saksi dalam persidangan mengungkapkan, jika saat dugaan kasus ini terjadi dirinya bekerja sebagai karyawan PT Rekind.

“Tapi tahun 2018 saya sudah keluar dari PT Rekind. Nah, saat saya masih bekerja di Rekind saya ditugaskan menjadi kepala proyek pekerjaan pipa yang dikerjakan oleh PT Gatramas Internusa selaku sub kontraktor PT Rekind di PT Pusri. Untuk pembayaran hasil pekerjaan memang dibayarkan melalui rekening bank lain bukan Bank Sumsel Babel. Sebab saat itu terdakwa mengajukan berkas penagihan dengan melampirkan rekening bank yang berbeda,” tandasnya.

Ditambahkan Heru Budi Prasetyo yang juga saksi, jika saat dugaan kasus ini dirinya merupakan pegawai PT Rekind selaku pengawas pekerjaan yang dilakukan PT Gatramas Internusa di PT Pusri.

“Hasil pengawasan saya jika saat itu hasil pekerjaan PT Gatramas Internusa di PT Pusri hanya 66,25 persen yang diselesaikan. Hal ini dikarenakan kala itu para pegawai PT Gatramas Internusa banyak yang demo yang dari informasi kami jika PT Gatramas Internusa tidak membayarkan gaji mereka. Maka dari itulah pekerjaan di PT Pusri yang dilakukan PT Gatramas Internusa tidak selesai 100 persen,” jelasnya.

Sedangkan saksi Yusrini Azmi selaku Bagian Keuangan PT Rekind yang juga menjadi saksi di persidangan menerangkan, jika PT Rekind hanya membayarkan uang hasil pekerjaan ke PT Gatramas Internusa senilai Rp 40 miliar lebih.

“Uang itu dibayarkan sesuai pekerjaan yang dikerjakan PT Gatramas Internusa hanya mencapai 66,25 persen. Dalam pembayaran uang tersebut, kami membayarkannya ke rekening yang diajukan oleh terdakwa yakni bukan rekening Bank Sumsel Babel,” ujarnya.

Usai mendengarkan keterangan para saksi, Ketua Majelis Hakim, Erma Suharti SH MH menutup sidang dan akan kembali membuka sidang pada kamis depan. (ded)

Publisher : Awid Durrohman

Awid Durrohman

Lihat Juga

Kantor Sat Reskrim Polres Ogan Ilir Terbakar

Ogan Ilir, KoranSN Kantor Satuan Reserse Kriminal Umum (Sat Reskrim) Polres Ogan Ilir (OI), Senin …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.