Sungai Musi Surut, Distribusi Air PDAM Di Beberapa Tempat Stop Sementara







_DSC0593b
Air Sungai Musi Tampak Surut. (Foto Ferdinand)

Palembang, SN
Surutnya air baku di Sungai Musi saat musim kemarau ini, berdampak terganggunya distribusi air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kepada pelanggan.

“Akibat surutnya sumber air baku Sungai Musi maka kami harus melakukan penyetopan sementara untuk distribusi air bersih dibeberapa unit pelayanan seperti unit KM4, Alang-Alang Lebar, Sako dan lain sebagainya,” kata Direktur Operasional PDAM Tirta Musi Palembang, Andi Wijaya, kemarin.

Saat ini, jelas Andi, air baku di Sungai Musi surut mencapai 3 meter, membuat kapasitas produksi air PDAM Tirta Musi menurun. Jika biasanya mencapai 900 liter perdetik perhari, maka saat ini hanya mampu sampai 500 liter perdetik perhari.

“Kami kehilangan sampai 400 liter perdetik perharinya sehingga membuat sejumlah kawasan harus terganggu air bersihnya,” terangnya.

Baca Juga :   Uang Rp 130 Miliar Masjid Sriwijaya Diduga Dikorupsi, Marzuki Alie: Saya Sakit Hati!

Namun, sambung Andi, meskipun pihaknya kehilangan sampai 400 liter perdetik akibat surutnya air Sungai Musi, pihaknya akan tetap berupaya semaksimal mungkin agar tetap mendistribusikan air bersih kepada pelanggan.

“Kami akan berusaha mengoptimalkan produksi kalau debit air masih naik,” ujarnya.

Dirinya menambahkan, selain terganggunya distribusi air bersih, pihaknya juga mengakui, akibat surutnya air baku Sungai Musi, kekeruhan air pun mengalami peningkatan dari biasanya meski sudah diproses menggunakan mesin pengolahan.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel memprediksi saat ini wilayah Sumsel sudah memasuki musim kemarau. Demikian diungkapkan Kasi Data dan Informasi BMKG Kenten Palembang , Indra Purnama.

“Untuk puncak ambang batasnya akan terjadi pada bulan Agustus sampai September dengan suhu yang mencapai 35 derajat celcius,” terangnya.

Baca Juga :   Career Expo Unsri Dibanjiri Ribuan Pencari Kerja

Meskipun memasuki musim kemarau namun, sambung Indra, untuk suhu masih normal yaitu masih antara 33 -34 derajat. Sedangkan panas yang dirasakan saat ini dikarenakan berkurangnya pertumbuhan awan, serta meningkatnya aktivitas penggunaan lahan sehingga serapan panas pun berkurang.

“Karena itu, panas yang dirasakan saat ini sangat menyengat, padahal suhu masih tergolong normal,” jelasnya.

Ia menambahkan, dengan kondisi saat ini dikhawatirkan titik hot spot meningkat sehingga menyebabkan kebakaran hutan dan kemudian menjadi kabut asap. “Tidak menutup kemungkinan kabut asap yang terjadi beberapa tahun lalu akan terulang lagi di tahun ini,” tandasnya. (wik)







Publisher : Ferdin Ferdin

Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

K-MAKI Minta Bareskrim Segera Tetapkan Tiga Tersangka Dugaan Kasus RUPS-LB Bank Sumsel Babel

Palembang, KoranSN Ir Feri Kurniawan Deputi Komunitas Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (K-MAKI) Sumsel, Sabtu (22/6/2024) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!