Tak Dapat Lapak, Pedagang Mengamuk

pedagang pasar 10 Ulu mengamuk

Palembang, SN

Suasana mendadak ramai, usai Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Rachmat Gobel meresmikan Pasar 10 Ulu, Minggu (14/6). Pasalnya, beberapa pedagang pasar tiba-tiba mengamuk dan berteriak memanggil nama Mendag Rakhmad Gobel. Pedagang ini pun, langsung diusir keluar dan diamankan oleh satpam Pasar dan dibawa keluar gedung.

Dari penelusuran wartawan SN, kegaduhan tersebut karena sejumlah pedagang protes, dan ingin menyampaikan kekesalannya langsung kepada Mendag RI tentang revitalisasi pasar tradisional.

“Saya sudah 15 tahun berjualan disini, tapi setelah revitalisasi pasar, kami tidak mendapatkan petak jualan. Malah pedagang yang baru yang dapat lapak. Padahal sebelumnya kita sudah didata oleh PD Pasar 10 Ulu Palembang, ternyata tidak dapat juga. Sekarang saya tidak ada penghasilan karena tidak ada lapak jualan. Bukan cuma saya, tapi banyak pedagang lama yang kehilangan lapak jualan,” kata Sukamto, pedagang rempah-rempah Pasar Tradisional 10 Ulu Palembang.

Emosi para pedagang pun semakin meninggi saat salah satu pedagang baju, Mistia, menangis meraung ditengah pasar, karena tidak mendapatkan kejelasan tentang lapak jualannya setelah peresmian pasar.

Bahkan, lapak di pasar diisukan telah diperjual belikan oleh PD Pasar Tradisional 10 Ulu Palembang dengan kisaran harga Rp 60 juta hingga Rp 70 jutaan. Sedangkan, untuk mengontrak lapak dibagian depan, pedagang dibebankan dengan harga kontrak mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 15 jutaan.
“Saya sudah 23 tahun berjualan disini, tapi sekarang saya tidak dapat lapak jualan didalam. Padahal saya dulu ada tiga lapak jualan didalam, sekarang pedagang baru semua yang mendapati lapak didalam. Ini ada yang jual beli lapak oleh PD pasar. Jadi, yang ada uang saja yang bisa dapatkan lapak di pasar ini, kita pedagang lama yang tidak ada uang, tak bisa berjualan lagi,” ungkap Mistia.
“Kemarin kita dikasih tahu kalau di bagian depan pasar ini akan diisi oleh pedagang baju semua. Tapi sekarang yang mengisi kios pasar didepan ini beragam, mulai dari penjual telur hingga sembako. Sepertinya siapa yang bisa beli lapak disini, yang bisa mengisinya sesuka hati,” lanjutnya.

Baca Juga :   RENSTRA Kabupaten Muara Enim Disusun

Tidak hanya dirugikan dalam bentuk fasilitas, para pedagang juga merasa dirugikan secara finansial. Pasalnya, mereka sudah membayar perpanjangan sewa lapak pada Oktober 2014 lalu kepada asisten PD Pasar. Namun ternyata, lapak tempat mereka menyewa digusur dan di gedung baru ini para pedagang lama tidak mendapatkan petak lapak jualan sama sekali.
“Kami membayar sebesar Rp 7 juta untuk ganti nama untuk sewa lapak. Setelah kami bayar, ternyata petak lapak kami dibongkar dan sekarang kami tidak mendapatkan petak lapak didalam pasar. Padahal saya berjualan disini sudah dari tahun 1968. Percuma menteri datang kesini, tidak bertanggung jawab. Tidak ada hasil acara ini,” ujar Lia, pedagang manisan.
Saat dimintai komentar ke Mendag RI tentang protes para pedagang, Rachmat Gobel hanya mengatakan akan mengatur semua pedagang tradisional agar bisa mendapatkan fasilitas yang lebih bermartabat.
“Tujuan dari fasilitas ini kan untuk membangun martabat pedagang, tidak membuka lapak lagi dijalan. Justru kita akan atur semuanya, pemerintah harus mengatur semua ini, harus diberikan fasilitas,” pungkasnya. (yun)

Publisher : Ferdin Ferdin

Avatar
Pewarta Harian Suara Nusantara, www.koransn.com, Mingguan Suara Negeriku.

Lihat Juga

5 Pasangan Mesum Terjaring Razia Yustisi Protokol Kesehatan Covid-19

Palembang, KoranSN Pihak kepolisian Polsek Kemuning Palembang, Sabtu malam (26/9/2020) melakukan razia yustisi/Gakkum (penegakkan hukum) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.