Terdeteksi Ada 62 Titik Api di OKI





Tampak petugas satgas terpadu saat memadamkan api yang membakar lahan beberapa waktu lalu. (Foto-Dok/Humas Kodam)

Kayuagung, KoranSN

Meskipun menjadi salah satu wilayah yang awalnya dianggap sebagai wilayah yang sangat rawan terjadi kebakaran hutan, perkebunan dan lahan (Karhutbunla), hingga saat ini Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) belum menjadi produsen asap.

Walaupun demikian, hal ini tetap harus diantisipasi mengingat musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga Oktober mendatang.

Komandan Kodim 0402/OKI-OI Letkol Inf Seprianizar SSos mengungkapkan, selama pelaksanaan Asian Games 2018 ini, OKI masih dalam data yang baik. “Ini bukan kebetulan, melainkan upaya kerja keras di lapangan. Meskipun demikian, Asian Games masih harus disukseskan karena masih berjalan,”kata Dandim saat evaluasi Karhutbunla Kabupaten OKI, Kamis (30/8/2018).

Menurutnya, yang menjadi tantangan ke depan adalah pasca Asian Games, pasalnya cuaca masih masuk ke dalam musim kemarau. “Ini yang harus kita hadapi. Tekanan mungkin berkurang, tapi tantangan masih akan datang,”ujarnya.

Apalagi lanjut Dandim, setelah Asian Games ini pasukan ataupun personil yang datang diperbantukan untuk menangani Karhutbunla di OKI akan pulang. “Jika dikaitkan dengan SDA kita, ini yang kita cemaskan karena status cuaca masih kemarau,”ungkapnya.

Baca Juga :   Bupati Banyuasin Resmikan Pasar Sukajadi

Berdasarkan data yang dihimpun, hingga 27 Agustus 2018 terdeteksi ada 62 firespot atau titik api di Kabupaten OKI dengan luas lebih dari 1.000 hektar. “2015 lalu kita ketahui bagaimana yang terjadi. Kalau 2016 dan 2017 sudah putus, tinggal lagi 2018 ini apakah bisa ditekan atau bagaimana, ini yang menjadi PR,”jelasnya.

Kapolres OKI AKBP Ade Harianto SH MH menambahkan, pasca Asian Games nanti memang akan ada pengurangan pasukan, khususnya personil yang diperbantukan di OKI seperti Brimob dari Polda Sumsel dan Lampung. “Mengantisipasi ini di lapangan personil terus mengumpulkan informasi untuk mengantisipasi pembakaran hutan dan lahan oleh masyarakat,”ungkapnya.

Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan melakukan razia humanis dengan cara menanyakan kepada warga yang akan ke kebun, cari ikan, pencari kayu terkait motif pembakaran, waktu yang biasanya digunakan membakar lahan. “Dari situ, didapatkan beberapa informasi kenapa mereka membakar lahan. Karhutbunla ini menjadi kegiatan tahunan, karena OKI menjadi salah satu Kabupaten yang rawan sehingga perlu benar-benar diwaspadai,” katanya.

Baca Juga :   Sinergisitas Tiga Pilar Amankan Pemilu 2019 di Mura dan Muratara

Kabag Ops Polres OKI Kompol Yudha Widyatama Nugraha menjelaskan, 62 firespot yang tercatat di 14 kecamatan. “Terbanyak Kecamatan Pangkalan Lampam dengan 18 titik, Kecamatan Sungai Menang 15 titik dan diikuti beberapa Kecamatan lainnya,”terang Kabag Ops.

Dari operasi yang dilakukan beberapa waktu terakhir ini, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi, salah satunya terkait lokasi posko terpadu agar lebih dekat dengan titik api. “Selain itu diperlukan solusi untuk masyarakat sebagai alternatif agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Karena masih ada masyarakat yang tidak mengetahui alternatifnya, selain itu memang ada yang hanya mampu membuka dengan membakar,”terangnya. (iso)

Publisher : Apriandi

Lihat Juga

IPA Bersih di Jejawi Siap Layani 500 Pelanggan PDAM Baru

Kayuagung, KoranSN Pemkab OKI bersama Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sumsel Ditjen Cipta Karya kian memperluas …