Udara Palembang Sentuh Level Berbahaya





Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Kenten Palembang, Nandang saat memberikan keterangan kepada wartawan usai mengikuti rapat terkait polusi udara di Mapolda Sumsel. (Foto-Dedy/KoranSN)

Palembang, KoranSN

Akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah daerah di Sumsel, Kamis (19/9/2019) ambang batas kualitas udara di Kota Palembang sempat menyentuh level berbahaya.

Hal ini diakui oleh Kepala Seksi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kenten Palembang, Nandang usai mengikuti rapat terkait polusi udara di Mapolda Sumsel.

Diungkapkan Nandang, dalam website BMKG memang benar pada kamis pagi ambang batas kualitas udara di Kota Palembang sempat menyentuh level berbahaya.

“Iya, sekitar pukul 09.00 WIB dan pukul 10.00 WIB ambang batas udara di Palembang sempat menyentuh level berbahaya. Namun ambang batas kualitas udara di website BMKG ini sifatnya real time, artinya kualitas udara berubah kembali setiap waktunya. Dan kami publish data tersebut di website, tujuanya agar masyarakat waspada saat keluar rumah dengan memakai masker,” ungkapnya.

Masih dikatakan Nandang, BMKG mem-publish data tersebut di website karena berdasarkan Undang-Undang No. 44 Tahun 1999, BMKG berhak menyampaikan kepada masyarakat terkait kualitas udara.

“Maka dari itulah, kami secara real time memposting kondisi kualitas udara di website resmi BMKG berdasarkan pemantauan yang kami lakukan menggunakan peralatan kami,” katanya.

Dijelaskan Nandang, dalam grafik di wibesite tersebut untuk kualitas udara memang terus terjadi perubahan, dimana saat menjelang siang kualitas udara menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Baca Juga :   Buka Sambungan Listrik Baru Wajib Miliki SLO
Grafik ambang batas kualitas udara di Kota Palembang yang sempat menyentuh level berbahaya. (Sumber:BMKG)

“Perubahan secara real time ambang batas kualitas udara ini terjadi, karena menjelang siang hari angin bertiup kencang ditambah cahaya matahari yang panas hingga membuat kabut asap perlahan menghilang. Namun ketika sore hari dan malam hari, kondisi asap akan kembali meningkat,” terangnya.

Lanjutnya, kondisi udara yang terjadi di Kota Palembang saat ini kedepannya masih tetap berpotensi.

“Sebab dari pemantauan BMKG, hujan dengan kisaran 40 persen sampai 80 persen diprediksi akan terjadi pada tanggal 24 dan 25 September 2019. Sedangkan untuk musim penghujan diprediksi terjadi pada pertengahan atau diujung bulan Oktober 2019, jadi mari kita bersama-sama berdoa supaya hujan segera turun hingga hujan dapat mengurangi kondisi kabut asap yang saat ini terjadi,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sumsel, Edward Candara mengungkapkan, kalau berdasarkan alat pemantau kualitas udara yang dipasang oleh pihaknya di Simpang Lima DPRD Sumsel, untuk kualitas udara di Kota Palembang saat ini katagorinya tidak sehat.

“Alat pemantau kualitas udara yang kami pasang di Simpang Lima DPRD Sumsel, pemantauannya dilakukan selama 24 jam yang dimulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB kesokan harinya. Berdasarkan pemantauan kami selama ini, ambang batas kualitas udara di Kota Palembang fluktuatif, namun dua hari ini, termasuk saat ini kondisi udara menjadi tidak sehat,” ungkapnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, Lesty Nuraini mengungkapkan, dikarenakan kualitas udara di Kota Palembang selama dua hari belakangan ini tidak sehat maka dirinya menghimbau masyarakat agar menggunakan masker saat ke luar rumah.

Baca Juga :   Dua Spesialis Curas Bersenpi Tewas Ditembak

“Menggunakan masker dilakukan untuk mencegah dan mengurangi bahaya asap masuk ke saluran pernafasan. Selain itu, dihimbau kepada masyarakat agar banyak minum air putih, makan sayur dan buah-buahan serta ciptakan pola hidup sehat,” ujarnya.

Kemudian dengan adanya kabut asap yang terjadi saat ini lanjut Lesty, pihaknya juga menghimbau agar masyarakat menjaga kesehatan dan pola hidup sehat kepada bayi, anak balita, lanjut usia dan orang dewasa yang memiliki riwayat penyakit paru paru serta jantung.

“Sebab bayi, anak balita, lanjut usia dan orang dewasa yang memiliki riwayat penyakit paru-paru dan jantung sangat rentan dengan kondisi cuaca kemarau dan adanya kabut asap yang kini terjadi di sejumlah daerah,” ungkapnya.

Disingung apakah kabut asap yang saat ini terjadi dapat menimbulkan penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan akut)? Dikatakan Lesty, penyakit ISPA tidak hanya terjadi saat musim kemarau atau akibat kabut asap yang kini terjadi. Sebab jauh sebelum bulan kemarau terjadi juga ada masyarakat yang terkena ISPA.

“Jadi artinya, penyebab ISPA bukan karena kabut asap Karhutla, melainkan akibat virus dan bakteri. Namun memang, dengan adanya kabut asap saat ini masyarakat lebih mudah terkena ISPA kalau kondisi tubuhnya lemah. Makanya kita himbau masyarakat menjaga kesehatan dan menciptakan pola hidup sehat,” tutupnya. (ded)

Publisher : Apriandi

Lihat Juga

IKATASTI Peduli Beri Bantuan ke Pesantren Kiai Marogan

Palembang, KoranSN Ikatan Keluarga Tanjung Sakti (IKATASTI) memberikan bantuan kepada anak-anak Pesantren Kiai Marogan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.