Waduh! Akibat Banyak Pungli Diduga Penyebab Investor Jadi Takut ke PALI

 tampak pelaku pungli ketika melakukan aksinya ke angkutan mobil truk. (foto/Anasrul)
Tampak diduga pelaku pungli ketika melakukan aksinya terhadap sopir truk. (foto/Anasrul)

PALI, SN

Warga Bumi Serepat Serasan sangat resah adanya pungutan liar (Pungli) yang terjadi di wilayah Desa Belimbing dan Desa Teluk Lubuk kecamatan Belimbing Kabupaten Muara Enim.

Pasalnya, dua desa yang menjadi pintu gerbang masuknya ke wilayah kabupaten PALI tersebut merupakan sarang dari para oknum yang melakukan pungli.

Alhasil, warga PALI yang hendak pergi atau pulang menuju kabupaten PALI tidak terelakan menjadi korban.

Seperti yang disampaikan Horizal, tokoh masyarakat kabupaten PALI, kepada SN, Kamis (20/10/2016). Ia menduga, akibat banyaknya pungli para investor yang hendak berinvestasi di Bumi Serepat Serasan menjadi takut untuk menanamkan modalnya di kabupaten PALI.

“Setiap waktu, tidak kenal pagi, siang, sore atau bahkan malam mereka (oknum pungli, red) selalu melakukan pungli. Bahkan mobil tukang sayur pun dipinta Rp 50.000,- s.d Rp 100.000, setiap mobilnya. Bagaimana pengusaha atau investor mau ke PALI, jika di desa gerbang sana sudah dihadang pungli,” beber Horizal.

Baca Juga :   Feby Deru Ajak Kaum Ibu Jangan Sungkan Lakukan IVA Tes

Pria yang tercatat sebagai salahsatu ketua partai politik di Kabupaten PALI itu juga meminta kepada pemerintah dan aparat keamanan untuk menindak tegas para oknum pungli.

“Kemudian, disana kan sedang dilakukan pengecoran jalan. Nah, seharusnya pihak pemborong membayar karyawan untuk menjaga dan mengatur lalu lintas. Bukannya para warga yang melakukan pungli ke setiap angkutan yang lewat. Itukan jalan umum, setiap angkutan yang melaluinya pastilah membayar pajak yang digunakan untuk perbaikan jalan,” tambahnya.

Ditambahkan Suherman, ST tokoh masyarakat Desa Simpang Tais turut mengeluhkan maraknya pungli. Kondisi ini, sambung Suherman selain membuat orang-orang malas datang ke PALI, juga membuat investor takut datang ke Daerah Otonomi Baru (DOB) yang baru berusia tiga tahun itu.

“Aku pernah menjadi supir angkutan berat rig. Pernah aku dipinta hingga Rp 1 juta per mobil dari Simpang belimbing hingga Desa Teluk Lubuk. Kemudian, di desa teluk lubuk kami dipinta lagi dengan nominal yang sama. Kemudian, simpang Talang Bulang kabupaten PALI, kami kembali dipinta. Tentu kondisi seperti ini yang dikeluhkan para sopir angkutan dan investornya,” jelas Suherman.

Baca Juga :   Bulan Suci, Kafe di Jalintim OKI Tetap Buka

Suherman berharap, para pelaku pungli bisa segera diberantas. “Presiden saat ini tengah gencar-gencarnya memberantas pungli. Untuk kami harap pemberantasan pungli tersebut tidak hanya di kota besar, tapi juga ke kabupaten PALI,” tegasnya. (ans)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Sosialisasi Penukaran Uang Peringatan Kemerdekaan 75 Republik Indonesia

Publisher : Anton Wijaya

Avatar

Lihat Juga

Herman Deru: Saatnya Kita Berbuat Nyata Untuk Kelestarian Alam

OKUT, KoranSN Gubernur Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), H Herman Deru mengatakan, momentum peringatan Hari Lingkungan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.