Warga BM 2 Mulai Beralih ke Petani Walet







Tampak rumah bagian atas warga di Desa BM 2 yang dijadikan sarang burung walet. (foto-sunardi/koransn.com)

Muratara, KoranSN

Petani karet di Desa Beringin Makmur Dua (BM 2), Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), mulai beralih menjadi petani walet, hal tersebut dikarenakan harga getah karet yang tidak pernah naik.

Sehingga masyarakat memilih alternatif lain untuk tetap menyeimbangkan ekonomi keluarga, guna memenuhi kebutuhan hidup sehari hari.

Seperti yang dikatakan Ardiyansyah (38), Ketua RT 3, Kelurahan Bingin Teluk, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara, Minggu (14/10/2018). Ia mengaku, sebagian warga yang berada di Desa BM 2 sekarang ini sudah banyak yang beralih menjadi petani walet, karena harga getah karet sekarang tidak bisa menjanjikan.

“Kira-kira sebanyak 30 persen lah warga Desa BM 2 menjadi petani walet, namun yang menjadi petani sawit juga ada. Sedangkan untuk penyadap getah karet sekarang ini sudah berkurang karena harganya yang anjlok,” katanya.

Baca Juga :   PT Pama Persada Nusantara Akan Datangkan Ratusan Tenaga Kerja ke Lahat

Menurutnya, beralihnya sebagian warga menjadi petani walet karena faktor ekonomi.

“Beralihnya warga tersebut karena ingin mengatasi kebutuhan hidup, jika hanya mengandalkan getah karet saja maka tidak akan cukup, mengingat harga jualnya yang sangat murah,” ujarnya.

Sementara, H. Huzairin (68), salah satu warga Desa BM 2 yang merupakan salah seorang petani walet mengungkapkan, ia mulai beralih menjadi petani walet sejak tahun 2012 hingga sekarang, karena ia menganggap walet lebih menjanjikan dari pada getah karet yang tidak jelas harganya.

“Sejak 2012 saya membangun gedung walet, dan beralih menjadi petani walet, bagi saya ini menjanjikan. Karena inilah bentuk pertanian yang semakin lama semakin muda, karena populasi walet yang terus bertambah,” ungkapnya.

Baca Juga :   Polres Lubuklinggau Bantu Pembangunan Masjid

Ia mengaku dalam sebulan bisa panen walet sekitar 2 sampai 3 kilogram, namun itu masih tergantung keadaan. “Kurang lebih kita bisa panen berkisar 2 sampai 3 kilogram dalam satu bulan, namun itu bisa bertambah dan berkurang, tergantung keadaan cuaca,” akunya.

Untuk pemasaran walet lanjutnya, selama ini pihak pembeli yang datang langsung kerumahnya, dan langsung bernegosiasi mengenai harga, dan dirinya tidak akan mengantarkan barang tersebut dikarenakan sudah pernah merasa kecewa.

“Kalau masalah pemasaran, pembeli yang datang ke kita dan bernegosiasi harga, jika cocok maka kita lepas. Kalau untuk mengantar ke pihak pembeli kami tidak mau lagi karena sudah jauh, kami juga merasa kecewa karena beda sistemnya,” pungkasnya. (snd)







Publisher : Awid Durrohman

Lihat Juga

Harga Komoditas Disubsidi Pemkab Muara Enim

Muara Enim, KoranSN Dalam menjaga ketersediaan dan harga bahan pokok terjaga pasca-Iduladha 1445 Hijriah, Pemerintah …

error: Content is protected !!