Yan Anton Akui Tak Konsisten Jalankan Amanah Rakyat, Umar Usman Menangis

Terdakwa Umar Usman (kemeja puitih) menangis saat pembacaan pledoi di PN Tipikor Palembang, Rabu (22/3/2017). (Foto-Ferdinand Deffryansyah/Koransn)

Palembang, KoranSN

Bupati Banyuasin nonaktif, Yan Anton Ferdian, Rabu (22/3/2017) mengakui jika selama menjadi bupati dirinya tak kosisten menjalankan amanah rakyat sehingga ia tertangkap Operasi Tangkap Tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Untuk itulah, ia meminta maaf kepada seluruh masyarakat di Banyuasin.

Hal tersebut dikatakan Yan Anton dalam sidang pembelaan (Pledoi) untuk dirinya, Umar Usman (Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin), Sutaryo (Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Banyuasin), Rustami (Kasubag Rumah Tangga Bagian Umum Setda Banyuasin) serta terdakwa Kirman (Direktur CV Aji Sai) di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kelas I A Palembang.

“Saya mengaku jika saya tidak konsisten menjalankan amanah rakyat. Dari itu saya minta maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Banyuasin. Sebab sebagai manusia biasa, tentunya saya tidak bisa lepas dari salah dan khilaf, baik kapasitas saya sebagai warga maupun sebagai Bupati Banyuasin,” katanya dalam persidangan.

Masih dikatakan Yan Anton, walapun dirinya saat ini telah terjerat perkara pidana namun sejak ia menjabat Bupati Banyuasin usai dilantik pada September 2013 lalu, telah banyak prestasi Pemkab Banyuasin yang telah diraih diantaranya; panen raya padi. Meskipun dalam perjalanannya terjadi permasalahan dimana ia dan sejumlah pejabat di Banyuasin (Umar Usman, Rustami dan Sutaryo) tertangkap KPK.

“Maaf, semua ini terjadi karena saya khilaf hingga perbuatan saya berakibat buruk bagi Banyuasin. Inilah penyesalan kami. Sementara dalam dugaan kasus ini, saya akui jika saya bersalah dari itu saya meminta agar hakim mempertimbangkan hukuman yang akan diberikan kepada saya. Saya mohon dalam vonis nanti hakim dapat memberikan putusan yang adil dan seringan-ringannya,” tandasnya.

Baca Juga :   Pembobol Puskesmas Prabumulih Timur Diringkus

Sementara terdakwa Umar Usman tampak menangis dalam persidangan saat ia membacakan pledoi pribadinya. Umar Usman mengaku khilaf atas perbuatannya sehingga ia tertangkap oleh penyidik KPK.

“Saya khilaf dan menyesal. Kepada guru-guru dan dunia pendidikan di Banyuasin saya mohon maaf, selain itu saya berjanji setelah bebas nanti akan membantu penegak hukum untuk memberikan informasi apabila di Banyuasin terjadi kasus korupsi. Sedangkan kepada Majelis Hakim, saya mohon dalam vonis nanti hakim dapat memberikan putusan yang seadil-adilnya dan seringan-ringannya untuk saya,” ujarnya.

Kemudian, terdakwa Sutaryo dalam pledoi pribadinya juga meminta maaf kepada guru-guru di Banyuasin. Hal tersebut dikatakannya karena ia yang menjabat sebagai Kasi Pembangunan Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Bidang Program dan Pembangunan Dinas Pendidikan Banyuasin tidak bisa memberikan contoh yang baik kepada para guru di Banyuasin.

“Saya mohon maaf kepada rekan-rekan guru, karena selama ini saya sebagai pendidik dan juga kerap memberikan sosialisasi kepada para guru di Banyuasin, tidak bisa memberikan contoh yang baik. Kemudian saya juga meminta maaf kepada keluarga, isteri dan anak-anak saya. Maafkan saya, karena selama ini saya tidak pernah mendengarkan nasehat dari isteri dan anak-anak saya yang selalu mengingatkan agar saya tidak memenuhi semua perintah atasan. Tapi nasehat mereka tidak saya dengarkan, hingga akhirnya saya pun ditangkap KPK. Dalam perkara ini saya juga meminta Majelis Hakim untuk memberikan saya putusan yang seadil-adilnya dan seringan-ringannya,” harapnya.

Baca Juga :   OTT Kepala DPMD3PA Empat Lawang di Reka Ulang

Pantauan di lapangan, dalam persidangan tersebut pledoi dilalukan dua kali, yakni pledoi yang diungkapkan secara pribadi oleh terdakwa dan juga pledoi yang dibacakan masing-masing kuasa hukum terdakwa. Dari kelima terdakwa hanya terdakwa Rustami dan Kirman saja yang tidak mengajukan pledoi pribadi, karena pelodionya hanya dibacakan oleh tim kuasa hukum mereka.

Sedangkan dalam pledoi kelima terdakwa yang dibacakan para kuasa hukum di persidangan, terungkap jika kelima terdakwa semuanya meminta agar Majelis Hakim yang menyidangkan perkara tersebut  dapat mempertimbangkan pasal tuntutan JPU KPK. Selain itu, para kuasa hukum terdakwa juga meminta kepada hakim agar memberikan hukuman yang seadil-adilnya dan seringan-ringannya untuk kelima terdakwa.

Usai mendengarkan pledoi para terdakwa kemudian Mejelis Hakim diketuai Arifin SH MH dengan hakim anggota Paluko Hutagalung SH MH dan Haridi SH MH menutup persidangan dan akan kembali membuka persidangan, Kamis (23/3/207) dengan agenda putusan atau vonis untuk terdakwa Yan Anton dan empat terdakwa lainnya. (ded)

Infografis Lembaga Penyalur LPG di Sumsel

Publisher : Apriandi

Avatar

Lihat Juga

3 Warga Palembang Meninggal 45 Positif Corona

Palembang, KoranSN Berdasarkan data dari Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Palembang, …