Yang Tersingkap dari Kontra-Ofensif Ukraina





Serdadu Ukraina mengendarai pengangkut personel lapis baja (APC) di dekat kota Izium yang belum lama ini dibebaskan oleh Angkatan Bersenjata Ukraina di wilayah Kharkiv, Ukraina timur, pada 19 September 2022. (Foto-Antara)

Jakarta, KoranSN

Perang Vietnam pada 1955-1975, perang Afganistan 1979-1989, dan perang-perang kontemporer lainnya seharusnya mengajarkan kepada umat manusia bahwa pendudukan paksa wilayah asing sudah tidak relevan lagi dengan zaman.

Dari semua perang itu justru negara-negara kecil seperti Vietnam dan Afganistan bisa mematahkan adidaya seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet yang kekuatannya jauh lebih unggul dalam segala skala.

Kekuatan agresor memang sering melupakan satu hal yang membuat si kecil mengalahkan si besar. Dan itu adalah moral bertempur yang juga sedang terjadi di Ukraina saat ini.

Dalam perang Ukraina yang sudah hampir 7 bulan itu, tengah terjadi titik balik seperti dalam Perang Vietnam dan Afganistan di mana kekuatan lebih inferior membalikkan logika perang.

Adalah sukses kontra-ofensif Ukraina mulai akhir Agustus 2022 di bagian timur lautnya yang tengah diduduki Rusia yang menguakkan lagi fenomena unik mengenai kekuatan kecil yang bisa membalikkan pendulum perang.

Baca Juga :   Kushner: Kesepakatan Palestina-Israel Tak Sejalan Inisiatif Damai Arab

Sebelum ofensif ke timur laut wilayahnya yang diduduki Rusia itu, Ukraina santer disebut bakal melancarkan serangan balasan ke Kherson yang berada di bagian selatan negeri itu.

Rusia terpancing. Mereka mengerahkan sebagian besar sumber daya perangnya ke Kherson guna menangkal ofensif balik Ukraina.

Ternyata itu hanya pengalihan perhatian karena target sejati Ukraina adalah wilayah timur laut di Donbas.

Rusia terpancing dengan merealokasikan sebagian besar kekuatan militernya ke Kherson dan membiarkan bagian utara Donbas di Kharkiv dan sekitarnya, menjadi tak terlindungi.

Situasi ini membuat Ukraina dengan mudah mendapatkan kembali sebagian wilayahnya di bagian timur itu yang sejak April tahun ini diduduki Rusia.

Lebih dari 3.700 kilometer persegi wilayah Ukraina timur laut atau hampir seluas wilayah Kabupaten Malang di Indonesia, kembali ke pangkuan Ukraina.

Baca Juga :   Palestina Sebut Kesepakatan Israel - UAE "pengkhianatan"

Sukses besar Ukraina ini seketika memunculkan keraguan atas kemampuan Rusia dalam mempertahankan wilayah Ukraina yang didudukinya yang bisa membuka gerbang kekalahan secara lebih luas lagi.

Ini kenyataan pahit yang dihadapi Presiden Rusia Vladimir Putin yang pada 24 Februari memerintahkan apa yang disebutnya “operasi khusus untuk demiliterisasi dan denazifikasi Ukraina”.

Lima pekan setelah pengumuman Putin itu, Rusia mundur dari ibu kota Kiev dan area sekitarnya, dengan alasan sudah berhasil melemahkan kemampuan bertempur militer Ukraina.

Mereka lalu mengonsentrasikan kekuatan militernya di Donbas di Ukraina timur yang memang menjadi incaran utama Rusia, selain daerah selatan Ukraina.

Ternyata kekuatan militer Ukraina tak berkurang sama sekali. Justru mereka kini membalikkan pendulum perang, termasuk di Donbas.

Sebaliknya Rusia menghadapi hambatan dalam mereorganisasi pasukan sampai kemudian lebih sering mengambil posisi bertahan. HALAMAN SELANJUTNYA>>





Publisher : Apriandi

Lihat Juga

Ribuan Pekerja Kembali ke Pabrik iPhone di China

Beijing, KoranSN Sekitar 10.000 pekerja telah kembali ke perusahaan Foxconn di Kota Zhengzhou, Provinsi Henan, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!